WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

GLOBALISASI dan LINGKUNGAN HIDUP, ANALISA KAUM REFORMIS dan TRANSFORMIS

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 13 April 2014
di GLOBALISASI STRATEGI GANJIL 2013/2014 - 0 komentar

CARA GLOBALISASI MEMANDANG MASALAH LINGKUNGAN HIDUP

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Fokus dalam dunia hubungan internasional perlahan mulai bergeser. Berkaca pada keadaan dunia yang menjadi semakin mengglobal, kajian hubungan internasional mulai memperlebar kaitan concern dengan berpatokan pada perubahan-perubahan yang tengah terjadi pada tatanan dunia global. Salah satu isu yang perlahan menyita perhatian dunia ternyata berasal dari dunia yang sama sekali berbeda, yakni dunia lingkungan hidup. Permasalahan yang berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi pada dunia lingkungan hidup perlahan mulai dirasakan oleh masyarakat dunia dan memaksa para penstudi ilmu Hubungan Internasional untuk melakukan analisa mendalam mengenai apa kepentingan isu-isu lingkungan hidup dalam kaitannya dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam tatanan dunia global. Signifikansi kemunculan isu-isu lingkungan hidup ternyata mulai dikaitkan dengan fenomena globalisasi yang semakin massif dan sulit untuk dihindari, menyisakan ruang yang sangat luas bagi setiap pihak untuk menyelidiki bagaimana dinamika di dalam isu-isu lingkungan hidup muncul. Penulis akan menggunakan tulisan karya Loraine Elliot yang berjudul “The Global Politics of Enviroment” sebagai dasar utama analisa fenomena globalisasi dengan kenyataan perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan hidup pada kurun waktu dewasa ini.

 

Isu lingkungan hidup mulai diangkat pada menjadi konsumsi media massa ketika dampak perubahan yang semakin terasa oleh semua pihak di seluruh penjuru dunia. Diselenggarakannya Konferensi Rio di Brazil, lebih tepatnya di kota Rio de Janiero pada tanggal 3-14 Juni 1992, menjadi tolak ukur bagaimana isu lingkungan hidup menjadi salah satu fenomena yang harus segera diangkat sebagai satu kajian tersendiri dalam dunia ilmu Hubungan Internasional. Tidak menutup kemungkinan juga bahwa kemunculan isu lingkungan hidup ini bisa muncul jauh hari sebelum Konferensi Rio Janiero berlangsung, tetapi dampak nyata perubahan yang terjadi dalam alam di sekitar umat manusia inilah yang memancing rasa memiliki terhadap alam, yang menjadi common good umat manusia (Elliot 1998, 242). Rasa memiliki terhadap alam inilah yang membentuk pola negosiasi-negosiasi mulai terjalin, dibentuk dalam rangka untuk memulihkan keadaan alam yang semakin lama semakin rusak. Negosiasi-negosiasi yang terjalin selebihnya membutuhkan aksi-aksi nyata yang dapat membawa dampak signifikan, tetapi seringkali terbentur dengan realita yang ada, dimana banyak sekali faktor penghalang untuk mewujud-nyatakan sebuah dunia yang sangat ramah terhadap alam.

Lantas, langkah apa yang seharusnya diambil untuk mulai setidaknya membawa jalur negosiasi ini ke dalam trajektori yang benar? Konsepsi-konsepsi yang ada di dunia mengenai alam ternyata dipandang sudah sangat melenceng. Perdebatan yang muncul memperlihatkan bagaimana rentan dan rapuhnya keadaan alam di dunia, yang disinyalir muncul dari upaya manusia untuk memahami alam sebagai objek semata. Alam bebas dieksploitasi sesuka manusia, sehingga fungsi alam hanyalah sebagai objek pemenuh kebutuhan semata, bahkan dalam tatanan yang lebih ekstrim, sebagai pemenuh keinginan. Hal inilah yang dikemukakan oleh Marc Williams, dimana cara berpikir kuno ini sudah tidak mampu berjalan selaras dengan keadaan alam yang semakin gawat. “Rethinking of fundamental concepts and assumptions” atau pemikiran ulang terhadap konsep-konsep fundamental dan asumsi-asumsi dunia menjadi perlu untuk segera dilaksanakan (Elliot 1998, 243). Konsep-konsep yang ada sama sekali tidak menekankan pada upaya untuk mengembalikan dunia untuk selaras dengan alam di sekitarnya, Penulis menyetujui ide Eliiot ini, dan membawa pikiran Caroline Thomas sebagai bukti otentik. “The causes of environmental degradation have not been addressed, and efforts to tackle the crisis are bound to fail (Elliot 1998, 243).  Penyebab kerusakan lingkungan belum menjadi concern utama, dan upaya penanggulangan belum mencapai titik sukses, penulis menganggap bahwa dibutuhkan sebuah upaya untuk memperkuat analisa-analisa mengenai isu lingkungan hidup, agar muncul sebuah ide-ide kreatif guna mengembalikan keadaan alam yang semakin hari semakin menderita ini.

 

Dalam kacamata Ilmu Hubungan Internasional, muncul dua perspektif yang melihat kecenderungan isu-isu lingkungan hidup. Perspektif-perspektif ini terbagi menjadi dua buah kubu, yakni kubu Reformis dan kubu Transformis. Kedua kubu memiliki cara pdandang tersendiri mengenai bagaimana dunia melihat kelangsungan kehidupan dalam lingkup lingkungan hidup global. Kubu Reformis menggenalkan diri sebagai kaum problem-solving, keberadaan mereka dihadirkan melalui bagaimana ide-ide penyelesaian muncul dalam kaitannya dengan upaya manusia memahami kontur dan postur globalisasi. Menurut kaum Reformis, mismatch terjadi dalam upaya memahami fenomena globalisasi dengan keadaan dunia, terutama dalam lingkungan hidup. Mismatch terjadi pada bagaimana efisiensi dan efektivitas dibangun antara alam dengan umat manusia, yang di dalamnya terdiri dari berbagai macam pihak. Para pebisnis, politikus, individu dinilai belum mampu mengolah lingkungan hidup beserta segala isinya dengan baik, dalam parameter efektivitas dan efisiensi pengelolaan. Sistem yang ada layaknya PBB ataupun Rezim-Rezim yang ditaati oleh berbagai pihak dinilai relative tidak gagal dalam melaksanakan tugasnya, masalah disinyalir datang dari para pelaku di dalam lingkup institusi tersebut. Fokus terhadap lingkungan hidup harus sejalan dengan upaya-upaya seperti demokratisasi pemerintahan, dengan pemenuhan upaya pemerataan kesenjangan beserta pengurangan angka kemiskinan (Elliot 1998, 244). Penulis beranggapan bahwa Elliot ingin menekankan kaum Reformis sebagai kaum-kaum yang selalu berupaya memunculkan proses pemecahan masalah, karena sumber masalah ternyata berasal dari para pelaku kebijakan-kebijakan tersebut.

 

Pandangan yang berbeda dapat ditemui dari perspektif Transformis. Perspektif ini menekankan pada upaya Kritik sebagai landasan utama, dimana permasalahan ada berawal dari sistem dan struktur yang ada. Sistem yang dipakai ternyata telah terdegradasi, sehingga memunculkan kebijakan-kebijakan yang diambil adalah kebijakan yang salah, yang mengakibatkan pada alam sebagai penanggung utama pola kesalahan yang carut marut tersebut. Berbeda dengan cara pandang kaum Reformis yang melihat bahwa sistem yang ada hanya perlu ‘diperbaiki’, maka kaum Transformis melihat bahwa proses transformasi harus dimulai dari tatanan sistem yang dipakai. Analisa permasalahan lingkungan hidup harus dimulai dengan bagaimana peranan ekonomi dan politik merusak fokus dalam upaya pencegahan kerusakan lingkungan yang semakin parah (Elliot 1998, 245). Penulis melihat adanya kecenderungan dari kaum Transformis untuk memberikan kritik sebagai jalan untuk menghadirkan solusi-solusi, namun posisi sistem yang menaungi lingkungan hidup harus juga dirubah.

 

Kedua perspektif ini memainkan peranan yang berbeda dalam melihat globalisasi dengan lingkungan hidup. Perbedaan cara pandang menghasilkan proses analisa yang berbeda pula, yang pada gilirannya mempengaruhi kedua perspektif melihat keadaan dunia dalam kaitannya dengan fenomena globalisasi beserta kelangsungan lingkungan hidup. Sebagai satu contoh, peranan pasar bebas sebagai fenomena dalam kaitan globalisasi, kedua perspektif melihat fenomena tersebut dalam cara pandang yang berbeda. Kaum Reformis melihat bawha pasar bebas tidak merusak keberadaan lingkungan hidup, namun cara eksekusi kebijakan beserta para pelaku kebijakannyalah yang dianggap tidak benar, atas dasar ketidak-efektivan dan ketidak-efisiensi  ini yang menjadi dasar bagi kaum Reformis untuk memberikan solusi-solusi. Cara pandang kaum Transformis tentu berbeda, dimana globalisasi disinyalir sebagai pihak yang merusak keberadaan lingkungan hidup. Korporasi-korporasi besar melaksanakan pola kerjasama yang mendominasi dan merusak lingkungan hidup, atas dasar alasan pemenuhan keuntungan sebesar-besarnya. Penulis melihat bahwa ide-ide dan cara pandang kaum Transformis sangatlah realistis dan rasional, karena seperti inilah keadaan dunia saat ini. Diperlukan adanya upaya nyata dari semua pihak untuk memikirkan sebuah sistem baru yang tidak hanya condong pada pemenuhan keuntungan semata namun juga pada upaya pelestarian lingkungan hidup yang berkesinambungan.

 

Referensi:

Elliot, Lorraine. 1998. “The Global Politics of the Environment”, dalam Global Politics of the Evvironment, London: Macmillan Press Ltd., pp. 242-257

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :