WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

PROSPEK KEAMANAN DALAM GLOBALISASI

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 22 March 2014
di GLOBALISASI STRATEGI GANJIL 2013/2014 - 0 komentar

KEAMANAN dalam GLOBALISASI, PROSES REDEFINISI MAKNA?

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Pada dasarnya literatur-literatur mengenai globalisasi selalu berkaitan dengan masalah ekonomi. Hal ini dianggap sebagai hal yang wajar karena permasalahan ekonomi dapat dihitung dengan sistem penghitungan yang empirik, yang didasari oleh analisa pergerakan kapital di dunia. Hal yang berbeda dapat ditemui dalam kaitan globalisasi dengan permasalahan keamanan. Harus dipahami terlebih dahulu bahwasanya struktur keamanan dunia telah berubah, dari masa pra-Perang Dingin yang memperlihatkan bagaimana dominasi dua buah kutub ideologi dunia — Amerika dengan ideologi Liberalisme dan Uni Soviet dengan ideologi Komunisme, menuju masa pasca-Perang Dingin, dimana perimbangan kekuatan dikuasai oleh Amerika Serikat. Pembahasan masalah keamanan pada era pasca-Perang Dingin menghadapi berbagai macam kendala, karena perubahan yang tidak dapat dihindari. Menilik situasi di atas, maka penulis membahas masalah keamanan dalam lingkup globalisasi dengan menggunakan tulisan Victor D. Cha yang berjudul “Globalization and the Study of International Security” sebagai bahan rujukan.

 

Sebagaimana telah dijabarkan pada paragraf sebelumnya, masalah keamanan di dunia menjadi semakin kompleks untuk dipahami. Globalisasi dituding sebagai pihak pertama yang memiliki kekuatan untuk merubah prospek keamanan di dunia, karena itu Cha merujuk globalisasi dalam lingkup kemanan harus dibahas bersama dengan identitas nasional. Globalisasi memiliki kekuatan untuk memodifikasi dan re-orientasi nasionalisme (Cha, 2000: 392). Beliau beranggapan bahwa keadaan dunia telah berubah oleh kehadiran globalisasi, dimana globalisasi adalah proses reorganisasi spasial, perubahan struktur produksi, industri dan keuangan, dimana keputusan yang diambil akan mempengaruhi dunia global. Sehingga, arus perubahan ini akan menghadirkan kesulitan dalam rangka proses pembahasan keamanan. Seiring dengan semakin kaburnya batasan antar negara (akibat dari reorganisasi spasial) maka struktur keamanan negara akan semakin terordinasi dan terpinggirkan keberadaanya. Keadaan ini juga membuat setiap pihak akan semakin sulit untuk memberikan konsep keamanan. Konsepsi yang dimaksud adalah pihak mana yang dianggap sebaiknya bertanggung jawab atas masalah keamanan, pihak mana yang dianggap sebagai ancaman dalam sistem keamanan, dan bagaimana cara mendefinisikan arti kata ‘keamanan’ dengan baik. Pada poin ini penulis menyetujui pendapat Victor D. Cha. Dibutuhkan sebuah pendekatan baru dalam upaya redefinisi makna keamanan, karena perubahan yang terjadi sangatlah massif, sehingga membutuhkan bentuk upaya pemahaman baru dalam memahami makna keamanan dalam era globalisasi. Proses pemahaman keamanan pada era-Perang Dingin yang hanya berpedoman pada jumlah kekuatan militer sebagai tolak ukur keamanan suatu negara menurut kacamata penulis adalah cara yang usang. Pembuktian dari usangnya metode melihat prospek keamanan negara yang hanya bersandar pada jumlah kekuatan militer adalah keadaan dunia pada saat ini telah sangat jauh berbeda dengan keadaan dunia pada era Perang Dingin.

Keusangan metode keamanan pada masa Perang Dingin makin terlihat pada prospek keamanan di dunia saat ini. Prospek keamanan bagi negara dalam era globalisasi nyatanya semakin mendapatkan ancaman dari pihak-pihak yang memang memosisikan diri mereka sebagai pihak antithesis. Prospek keamanan yang dianggap sebagai thesis, pada gilirannya memunculkan kaum-kaum ekstrimis, kaum radikalis dan fundamentalis, yang memosisikan diri sebagai antithesis keamanan dalam era globalisasi. Kenyataannya, globalisasi membantu agensi dan lingkup anti globalisasi untuk berkembang dan bertumbuh. Konsep dasar mengenai ancaman telah mengalami perkembangan, baik dalam ranah pelaku maupun lingkup ancaman itu sendiri (Cha, 2000: 393).

 

Dewasa ini mulai bermunculan aktor-aktor non globalisasi yang terdiri dari berbagai macam, seperti militan etnis, pergerakan radikal, sindikat kejahatan antar negara dan masih banyak lagi bentuk-bentuk aktor non globalisasi yang lain. Kemunculan pihak-pihak ini dilatarbelakangi oleh banyak faktor, seperti preferensi agama ataupun ataupun kesamaan kebutuhan (layaknya sindikat kejahatan yang terbentuk atas dasar profesionalitas, demi mencapai keuntungan). Belum lagi jika berbicara mengenai lingkup keamanan, yang cakupannya telah meluas. Pada masa sekarang, globalisasi memberikan revolusi kemampuan bagi para aktor anti globalisasi, sehingga memunculkan bentuk ancaman baru. Bentuk ancaman ini sangatlah beragam, mulai dari terorisme politis hingga pemberontakan yang bersifat etnis dan masih banyak lagi (Cha, 2000: 394). Victor D. Cha ingin memberikan gambaran bahwa kontur ancaman di dunia telah berubah, baik dari segi pelaku maupun lingkup ancamannya. Penulis kembali memiliki pendapat yang sejalan dengan pendapat Cha, karena penulis melihat bagaimana posisi negara menjadi sangat terordinasi dan seakan-akan tidak berdaya dengan gempuran ancaman-ancaman tersebut. Jika tidak ingin tertinggal, maka penulis melihat bahwa negara perlu untuk mempersiapkan diri dari serangan ancaman-ancaman tersebut, karena telah menjadi tugas negara untuk melindungi penduduk-penduduk di dalam naungan sebuah negara.

 

Lantas, diperlukan adanya proses perubahan dari postur keamanan tradisional menuju postur keamanan yang mampu beradaptasi pada era globalisasi. Transformasi postur keamanan tradisional, yang sangat berpegang pada jumlah kekuatan militer suatu negara, harus sesegera mungkin dilaksanakan. Posisi negara tetap penting, namun dibutuhkan pula kerjasama yang dibangun oleh negara dengan aktor non negara. Penulis menggunakan analogi information power milik Nye & Owens (1998). Distribusi power dalam hubungan internasional menjadi sangat kompleks, karena informasi teknologi dan definisi ‘kepintaran’ senjata akan menjadi kelebihan bagi medan pertempuran di masa depan (Nye & Owens, 1998 dalam Cha, 2000:395). Perlu diingat bahwa proses kemajuan ini tidak hanya dimonopoli oleh negara saja, bahkan aktor non negara mampu melampaui kemampuan negara. Hal ini didasari oleh ide bahwa negara tidak mampu membendung dan mengontrol pergerakan teknologi dan arus aliran informasi (Simon, 1997 dalam Cha, 2000: 395).

 

Kembali lagi pada proses perubahan, maka perilaku keamanan suatu negara harus mampu beradaptasi pada perubahan yang tengah dihadapi. Penulis lagi-lagi sangat sependapat dengan Cha, karena proses transformasi menjadi sangat penting keberadaanya bagi negara untuk segera diimplementasikan. Proses transformasi juga sebaiknya dilakukan, dengan didasari pada kebutuhan apa yang dirasa paling mendesak keberadaannya. Jika keamanan regional menjadi isu penting, maka pembentukan organisasi keamanan berbasis regional dapat menjadi awalan yang baik. Jika koordinasi nasional menjadi isu utama, maka kerjasama pihak multilateral dengan negara dapat dijadikan fokus transformasi (Cha, 2000: 398). Jika sektor birokrasi mengalami stagnasi, maka revolusi birokrasi dapat menjadi sumber transformasi utama. Penulis memlihat bahwa keamanan di dalam globalisasi memang telah mengalami proses redefinisi makna, tetapi langkah yang tepat bagi setiap pihak di dunia adalah melakukan proses adaptasi, sehingga dapat menghadapi ancaman dengan langkah-langkah yang tepat.

 

Referensi:

Cha, Victor D. 2000. “Globalization and the Study of International Security”, Journal of Peace Research, Vol. 37, No.3, pp. 391-403

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :