WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

GLOBALISASI dalam LATINAMERIKA

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 16 March 2014
di GLOBALISASI STRATEGI GANJIL 2013/2014 - 0 komentar

MEMAHAMI GLOBALISASI BUDAYA MELALUI KEBERADAAN KAUM LATIN-AMERIKA

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Perdebatan mengenai bagaimana sebaiknya para penstudi hubungan internasional melihat fenomena globalisasi memunculkan beragam masalah baru. Globalisasi pada jaman dahulu hanya dipahami sebagai fenomena meleburnya sekat-sekat antar negara, ternyata sekarang telah berkembang dan semakin membawa dinamika baru bagi setiap aktor yang terlibat di dalam hubungan internasional. Dapat dilihat bahwa concern globalisasi telah terfragmentasi ke dalam beberapa segmen, seperti menyebarnya ideologi dan budaya baru yang memunculkan sebuah gelombang budaya global, globalisasi di bidang ekonomi yang menciptakan sistem ekonomi tunggal, dan masih banyak lagi. Melalui satu studi kasus mengenai keberadaan kaum latinamerikanis, dapat dilihat bagaimana sebenarnya globalisasi pada saat ini telah memainkan peranan penting dalam konstruksi rangka hubungan internasional dewasa ini.

 

Adalah lumrah bagi orang-orang Amerika Selatan untuk hidup dalam cara hidup yang sangat berpatokan pada nilai-nilai kesukuan dan adat, sehingga dalam kurun waktu yang sangat lama kebudayaan orang-orang Amerika Selatan (yang lebih dikenal sebagai Amerika Latin) ternyata mampu bertahan dan menjadi salah satu budaya yang dikenal hingga saat ini. Bagi mereka kehidupan yang dilalui pada masa tersebut telah cukup bagi setiap anggota suku mereka, dan akan terus mencukupi bagi keturunan-keturunan mereka kelak. Namun keadan sedikit berubah ketika Amerika Serikat mulai bertumbuh dalam berbagai bidang, baik dari segi ekonomi, politik maupun militer. Proses pertumubuhan Amerika Serikat ini mendorong proses menyebarnya nilai-nilai tentang kehidupan, bagaimana sebaiknya melaksanakan proses kehidupan, baik dari berbagai segi kehidupan (entah dalam kehidupan ekonomi maupun politik). Keadaan ini mendorong banyak orang-orang Amerika Latin untuk berpindah menuju Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada) dan melangsungkan kehidupan mereka di sana. Setelah bernaung cukup lama, barulah problem mulai muncul dan terlihat. Problem baru ini disebut dengan imigran imajiner.

 

Hubungan spatial antara core dan periphery, antara kampung halaman dan rumah, antara lokalitas pengetahuan produksi dan intervensi site, memunculkan dilemma imigran imajiner (Moreiras 2004, 83). Adanya rasa keberadaan di negara jujukan (dalam hal ini Amerika Serikat) memunculkan identitas (bagi para imigran) bahwa secara legal dan konstitusional mereka adalah individu yang memiliki identitas sebagai warga neagra Amerika Serikat. Tetapi identitas kesukuan asli mereka, yang dibawa dari kampung halaman tempat kelahiran asli dan para pendahulu, juga memberikan set identitas yang lain, identitas asli yang akan terus dibawa kemanapun individu tersebut berada. Terbentuklah gejolak antara identitas yang dibawa dengan identitas yang didapatkan, identitas manakah yang seharusnya dipakai oleh imigran-imigran ini

Kapitalisme global membentuk prospek budaya dalam hubungan internasional ke depannya. Kebudayaan yang pada jaman dahulu dianggap sebagai sebuah faktor pembeda, identitas pengenal yang mampu membedakan satu individu dengan individu lain, perlahan terkikis dengan keberadaan globalisasi. Kemunculan budaya global yang satu dan terintegrasi memunculkan prosedur baru mengenai bagaimana seorang individu mendapatkan identitas, bahwa identitas yang mereka dapatkan adalah hasil dari konstruksi budaya global. Identitas yang tersedia menjadi sangat homogenistik dan prediktif, ketika seseorang mampu berada di level atas, maka identitas yang dimiliki adalah identitas sebagai capital, sang pemilik modal, dan ketika posisi yang didapatkan adalah posisi yang berada di bawah, maka identitas yang tersemat adalah identitas kalangan bawah, yang dapat dibeda-bedakan lagi menjadi buruh kasar, pekerja pabrik dan masih banyak lagi. Globalisasi menciptakan dua kutub yang sangat paradox, yang pada gilirannya memunculkan sebuah pertarungan antara pihak lokal dan global, dimana pertarungan ini terjadi karena “pemosisian sistem kontrol yang berdasarkan hierarki organisatoris yang sangat homogen dan perbedaan hanya dapat telihat pada bidang-bidang administratif” (Moreiras 2004, 81). Kontrol yang didapatkan oleh kaum kapital memberikan hak istimewa untuk mengkotak-kotakkan kaum yang tereksploitasi, maka kaum yang berada di bawah memiliki identitas yang sangat homogen, perbedaan hanya terlihat dari bagaimana posisi mereka dalam satu kerangka hierarki dibentuk, yang lagi-lagi hanyalah hasil konstruksi kaum kapital. Siapa diri mereka, hal ini hanyalah hasil konstruksi kaum kapital, yang perlahan menghapus faktor pembeda yang dimiliki oleh setiap individu. Identitas yang pada awalnya dimiliki oleh setiap individu perlahan hilang dan digantikan oleh identitas baru, sebuah identitas global.

Banyak pihak yang dituduh berperan atas menyebarnya identitas global. Universitas-universitas negara barat melalui proses disiplin pengetahuan mereka adalah alat menyebarkan globalisasi (Moreiras 2004, 82). Penyebaran nilai-nilai demokrasi pada tingakt, nasional maupun internasional tentu akan semakin menguatkan keberadaan globalisasi budaya di dunia. Inilah sebabnya banyak problematika baru muncul, yang sebenarnya jika dirunut kembali, berasal dari ketegangan kultural. Banyak pihak di dunia saat ini tengah merasakan dilemma identitas, ambiguitas dalam proses memahami kebudayaan hanya akan menyeret mereka ke dalam jurang ketegangan yang semakin dalam.         

Penulis sangat menyetujui tulisan Alberto Moreiras dalam Global Fragments : A Second Latinamericanism. Moreiras tidak hanya mengulas globalisasi dengan menghadirkan kaum latin amerika sebagai contoh studi kasus, tetapi dengan cerdik juga memberikan penilaian sekaligus pemahaman tentang bagaimana globalisasi telah merubah identitas para imigran tersebut. Globalisasi telah merubah identitas kultur, yang sebenarnya dimiliki untuk dijadikan sebagai alat identifikasi karena identitas kultur adalah faktor pembeda yang dimiliki oleh setiap orang. Diperlukan adanya upaya untuk mengenalkan kembali budaya yanag dimiliki dan turun temurun, proses pengembalian nilai-nilai dari kearifan lokal adalah sebuah kebutuhan bagi setiap pihak untuk menguatkan eksistensi mereka dalam dunia yang semakin mengglobalnya dewasa ini.

 

Referensi

Moreiras, Alberto. 2004. Global Fragments : A Second Latinamericansim dalam Fredric Jameson dan M. Miyoshi, ed., The Culture of Globalization, Durham : Duke University Press.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :