WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

KEUNTUNGAN dan PERSAINGAN

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 11 March 2014
di PRINSIP ILMU EKONOMI GANJIL 2013/2014 - 0 komentar

POLA PENGEJARAN KEUNTUNGAN dan PERSAINGAN di DALAM PASAR

 

Dunia pasar adalah sebuah entitas yang sangat kompleks. Di dalam dunia pasar ini terdapat banyak sekali pelaku kegiatan, layaknya pembeli dan penjual, dimana setiap pelaku memiliki peran yang berbeda-beda. Dalam kacamata penjual, pihak ini akan berusaha menghasilkan berbagai macam barang yang akan ditawarkan kepada pembeli, dengan harapan para pembeli ini akan menukarkan dengan uang, sebagai modal utama penjual untuk manufaktur barang (ataupun jasa). Keberadaan pasar dapat dipahami sebagai penyedia wadah bagi penjual untuk mengejar keuntungan atas barang dan jasa yang ditawarkan kepada pembeli.

 

Istilah keuntungan sendiri ternyata memiliki dua buah artian. Definisi keuntungan pun terbagi menjadi dua istilah, keuntungan normal dan keuntungan ekonomi. Ketika sebuah perusahaan mampu mendapatkan hasil yang seimbang dari investasi yang mereka lakukan, maka sebuah perusahaan dapat dikatakan mendapatkan keuntungan normal (Guell 2008). Jika sebuah perusahaan ingin terus melaksanakan kehidupan perekonomiannya, maka perusahaan tersebut harus selalu mengejar keuntungan normal, tetapi akan lebih baik jika sebuah perusahaan mampu mengejar keuntungan ekonomi. Jika sebuah perusahaan hanya bergantung pada keuntungan normal saja, sebenarnya perusahaan tersebut bisa tetap berjalan, tetapi jumlah aktor yang akan melakukan investasi kepada perusahaan tersebut tidak akan bertambah secara signifikan. Jika sebuah perusahaan mampu mengejar keuntungan yang posisinya diatas keuntungan normal, maka perusahaan  tersebut baru dapat dikatakan mendapatkan keuntungan ekonomi (Guell, 2008). Semakin tinggi prosentase dan kemungkinan keuntungan ekonomis sebuah perusahaan, maka posisi perusahaan tersebut dalam pasar akan semakin kuat.

 

Untuk mencapai keuntungan, maka pasar pun menghadirkan pola persaingan. Keadaan bersaing ini baik bagi semua penjual di pasar, karena akan menghadirkan sebuah kehidupan ekonomi yang selalu mengutamakan kualitas. Setiap penjual akan berusaha memperbaiki dan meningkatkan kualitas barang yang dijual, dengan harapan akan tertarik dengan barang yang diperjualbelikan. Guell pun menunjukkan pola persaingan ini dengan penggambaran dua buah pola persaingan. Pola persaingan pertama adalah pola pasar persaingan sempurna. Pola persaingan ini diidentifikasi kedalam jumlah pesaing yang banyak dan beragam. Keadaan ini memaksa pesaing-pesaing ini untuk menjual banyak barang, tetapi dengan harga yang telah ditetapkan oleh pasar. Hal ini memaksa pesaing-pesaing untuk mengatur harga tetapi tidak dapat menjual barang sebanyak mungkin (Guell 2008). Dalam keadaan riil, tidak ada yang namanya pasar persaingan sempurna. Tidak akan ada sebuah pasar yang semua pelaku di dalamnya dapat menerapkan nilai-nilai yang persaingan sempurna. Contoh paling konkrit dan mendekati pasar persaingan sempurna adalah pasar beras. Homogenitas barang yang dijual (meskipun tetap terdapat pembagian-pembagian di dalamnya) dan keseragaman harga barang adalah bukti kuat bukti keberadaan pasar yang setidaknya mendekati pasar persaingan sempurna.

 

Terdapat beberapa perbedaan dengan pasar monopoli. Hanya ada satu perusahaan tunggal di dalam pasar, dan hal ini bisa dibenarkan oleh pasar. Sumber daya strategis yang dimiliki oleh negara mayoritas akan dipegang oleh satu pihak khusus, dan disinilah peranan pasar monopolistic mulai terlihat. Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) adalah dua perusahaan yang dimiliki negara, dan di sisi lain mendominasi (atau memonopoli) sumber daya alam sebuah negara. PLN yang menguasai listrik negara, sementara PDAM menguasai sumber distribusi air, sehingga akan terjadi ketimpangan dalam dunia pasar. Hal ini ditanggulangi dengan berbagai regulasi yang mengikat keberadaan pihak-pihak monopoli tersebut. Keuntungan ekonomis di dalam pasar monopolistic masih dapat tercapai, tetapi tingkat keuntungan yang dicapai akan berada dalam batas normal, karena jika dibiarkan akan merugikan pembeli kelak.

 

Keadaan sedikit berbeda akan ditemui dalam pasar persaingan sempurna, dimana keuntungan ekonomis akan sulit tercapai. Mengapa hal ini dapat terjadi? Proses pemahaman kurva penawaran adalah langkah awal yang baik dalam memahami keadaan tersebut. Di dalam kurva ini terlihat, semakin banyak pembeli akan menggeser keseimbangan kurva ke arah kanan, sehingga akan menurunkan harga pasar (Guell 2008). Keberadaan pembeli yang semakin banyak mengindikasikan kecenderungan para aktor di dalam pasar untuk selalu mempertahankan harga yang dirasa murah, karena jika harga yang ditawarkan lebih tinggi dari harga normal di pasar, maka akan merusak image dari perusahaan itu sendiri. Pembeli akan beralih pada barang dari perusahaan lain, karena dirasa akan lebih menguntungkan bagi para pembeli. Hal inilah yang menyebabkan proses pencapaian keuntungan ekonomis akan sulit dilaksanakan pada keadaan pasar persaingan sempurna.

 

Persaingan di dalam pasar menghadirkan kecenderungan-kecenderungan tersendiri di dalam pasar. Pola pencapaian keuntungan juga memainkan peranan tersendiri di dalam pasar. Kehidupan ekonomi di dalam pasar akan selalu diikuti dengan proses kehidupan berjual beli di alam pasar, dan pola persaingan di dalam pasar beserta pola pencapaian keuntungan akan bertransformasi menjadi dasar-dasar dalam kehidupan ekonomi di dalam pasar.

 

Referensi:

Guell, Robert C, 2008, “Chapter 5: Perfect Competition, Monopoly, and Economic versus Normal Profit” dalam Issues in Economics Today, New York: McGraw Hill.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :