WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

ELASTIS dan INELASTISITAS dalam EKONOMI

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 11 March 2014
di PRINSIP ILMU EKONOMI GANJIL 2013/2014 - 0 komentar

MEMAHAMI KONDISI ELASTIS dan INELASTIS di dalam PASAR

 

Baik produsen maupun konsumen, akan selalu berusaha mewujudkan kepentingan mereka di dalam pasar. Seorang konsumen akan selalu berusaha untuk mencapai harga kemungkinan termurah dari suatu barang, dengan produsen akan selalu berusaha untuk menjual sebuah barang dengan harga semahal mungkin. Kedua kepentingan ini akan berbenturan, maka kedua belah pihak akan berupaya untuk melaksanakan kompromi, tidak hanya dalam kacamata harga, tetapi juga kuantitas barang. Kompromi ini dilakukan baik oleh konsumen (dengan menyetujui margin harga termahal suatu barang) dengan produsen (dengan menyetujui margin harga termurah). Kompromi ini akan menghasilkan sebuah keadaan equilibrium, sebuah keadaan dimana seorang produsen telah mencapai limit harga termurah pada kuantitas barang tertentu, dan konsumen tidak mampu membayar harga yang lebih tinggi pada kuantitas tertentu.

 

Kondisi equilibrium tetap menjadi keadaan ideal dalam suatu pasar, dan seringkali keadaan ini terus menerus mengalami perubahan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Kondisi di dalam dan di luar pasar yang menyebabkan pergeseran titik keseimbangan bisa terjadi. Harga produksi barang contohnya, dapat memberikan dampak yang langsung terasa, baik bagi produsen dan konsumen. Sebagai contohnya, jika harga bahan baku produksi naik, produsen dihadapkan pada dua pilihan (Sobel 2009, 40). Pilihan pertama adalah kenaikan harga barang tersebut akan dibebankan langsung kepada konsumen, sementara pilihan kedua membuat produsen menurunkan standar profit yang mereka harapkan. Pilihan pertama dapat dipilih jika barang yang dijual adalah barang yang harus selalu dibeli oleh konsumen (sebagai upaya bertahan hidup), sementara pilihan kedua dapat dipahami sebagai jalan kompromi produsen terhadap konsumen, karena barang yang dijual adalah barang yang dapat dikatakan mewah dan tidak terlalu penting dalam upaya bertahan hidup konsumen.

 

Keadaan ini merujuk pada kondisi elastisitas dan inelastisitas di dalam pasar. Elastisitas dan inelastisitas pasar terjadi sebagai “upaya respons pasar terhadap permintaan perubahan kuantitas barang, terhadap perubahan yang terjadi pada variabel lain” (Sobel 2009, 40). Seperti yang telah diketahui, pasar akan selalu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan berbagai macam keadaan, dan kondisi elastic-inelastis ini dapat dipahami sebagai upaya pasar untuk menyesuaikan perubahan tersebut. Elastisitas pasar dapat terjadi pada dua faktor, permintaan (demand) dan persediaan (supply) sebuah barang di pasar. Elastisitas demand terjadi jika “prosentase perubahan kuantitas permintaan barang, lebih besar terhadap elastisitas perubahan harga barang tersebut“ (Sobel 2009, 41). Contoh kasus, harga tomat di pasar. Harga satu kilo tomat, katakanlah Rp 10.000. Tetapi karena sebuah hal, pada harga Rp 11.000, pembeli bisa membeli satu setengah kilo tomat. Elastisitas juga dapat ditemui pada sisi supply, dimana perubahan prosentase persediaan barang, lebih besar dari perubahan prosentase perubahan harga barang. Elastisitas lebih berfokus pada bagaimana perubahan kuantitas barang di pasar, baik dari kacamata produsen (kuantitas barang yang ditawarkan), ataupun dari kacamata konsumen (kuantitas barang yang diminta). Terdapat pula sebuah kondisi yang disebut kondisi elastic sempurna, dimana perubahan kuantitas barang akan terjadi, tetapi perubahan harga tidak memberikan dampak setara dengan perubahan kuantitas barang.

 

Berbeda halnya dengan kondisi inelastic. Kondisi ini berkaca pada “prosentase perubahan harga barang yang lebih tinggi dari perubahan kuantitas sebuah barang” (Sobel 2009, 44). Kondisi inelastic mengacu pada bagaimana kondisi fluktuatif harga barang begitu kuat, tetapi meninggalkan ruang sempit bagi perubahan kuantitas barang (baik bagi permintaan maupun penawaran terhadap barang bersangkutan). Kondisi inelastic banyak berpengaruh pada barang-barang kebutuhan pokok, dimana perubahan harga yang mencolok dan kontras, selama tidak mempengaruhi kemampuan harga, akan selalu diupayakan untuk dipenuhi oleh konsumen. Layaknya kondisi elastic, dapat dijumpai pula kondisi inelastic sempurna, sebuah kondisi dimana harga barang akan selalu mengalami fluktuasi, tetapi permintaan (ataupun) penawaran barang tidak berubah (Sobel 2009, 46).

 

Kondisi elastic dan inelastic akan selalu berjalan, sebagai bagian dari respons pasar terhadap berbagai perubahan yang terjadi di dalam pasar. Kenaikan barang baku produksi, seperti penjelasan di atas, dapat dikatakan sebagai faktor utama terjadinya elastisitas dan inelastisitas dalam pasar. Margin profit dapat dijadikan alat ukur utama dampak dari elastisitas dan inelastisitas di dalam pasar, karena keuntungan adalah tolak ukur paling penting bagi produsen untuk melaksanakan kehidupan perekonomiam mereka di pasar. Konsumen pun juga mengalami dampak dengan keberadaan dua kondisi tersebut. Melalui analisis income, dapat dipahami bagaimana kondisi elastic dan inelastic memberikan dampak bagi konsumen. Barang yang tidak terlalu signifikan tetapi sangat diperlukan dalam pos pemasukan konsumen (katakanlah air minum) akan cenderung inelastic, karena perubahan harga tidak akan merubah kuantitas permintaan konsumen terhadap barang tersebut. Hal sebaliknya akan ditemui pada barang-barang pelengkap, yang harganya sangat signifikan (pahami dengan bahasa barang ‘mahal’) dalam pos income, akan cenderung elastic, karena kenaikan harga yang terlalu tinggi tentu akan mempengaruhi kemampuan konsumen untuk membeli barang terkait.

 

Pemahaman tinggi amat dibutuhkan dalam analisis pasar. Kondisi elastic dan inelastic dalam pasar dapat dijadikan acuan utama, tidak hanya bagi produsen, tetapi juga konsumen, untuk menciptakan kondisi keseimbangan di dalam pasar. Analisis elastisitas-inelastisitas pasar dapat digunakan oleh produsen untuk menentukan harga barang yang rasional (dengan margin profit yang menguntungkan), sementara bagi konsumen dapat berguna untuk analisis kesehatan keuangan untuk jangka panjang.

 

Referensi :

Sobel, R.S. 2009. “Chapter 3: The Concept of Elasticity and Consumer and Producer Surplus”

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :