WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

MEDIASI dalam NEGOSIASI

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 28 February 2014
di NEGOSIASI DIPLOMASI GANJIL 2013/2014 - 0 komentar

BALADA MEDIATOR

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Dalam perjalanan diplomasi, seringkali proses mediasi menjadi salah satu jalan yang dipakai oleh para berbagai pihak yang tengah melaksanakan proses negosiasi. Keberadaan proses mediasi seringkali sangat penting karena banyak masalah yang tengah dibahas oleh dua buah pihak atau lebih seringkali harus mendapatkan perhatian lebih. Dibutuhkan peranan pihak ketiga, yang berposisi sebagai pihak yang netral, yang sebaiknya memiliki kemampuan yang lebih untuk menilai kompleksitas masalah dan menunjukkan keberpihakan pada upaya resolusi masalah. Studi lebih mendalam mengenai proses mediasi akan lebih membantu banyak pihak untuk melaksanakan proses diplomasi yang lebih efektif dan efisien kelak.

 

Mari memulai proses pemahaman mengenai mediasi dengan awalan memahami makna mediasi itu sendiri. Berasal dari kata ‘mediacre’ dan ‘median’ dalam bahasa Yunani, seorang mediator harus memosisikan dirinya sebagai pihak penengah dalam sebuah kasus terkait. Seorang atau sebuah kelompok mediator diharapkan mampu menghasilkan sebuah hasil yang resolutif dari proses negosiasi dimana mediator tersebut diundang. Jasa mediator juga harus meng-cover isu-isu yang tengah diperundingkan, sehingga diharapkan mampu memebrikan tambahan informasi yang reliable terkait dengan problem yang tengah dihadapi bersama (Schoot, 1). Itulah sebabnya seorang mediator harus menguasai problematika negosiasi, dan akan lebih baik jika mediator tersebut adalah pakar dan sangat menguasai masalah yang tengah dinegosiasikan.

 

Mediasi harus dimulai dengan adanya sifat sukarela (Schoot, 2). Tidak ada paksaan untuk mengikuti mediasi, dan setiap pihak yang tengah bernegosiasi harus merelakan keberadaan pihak mediator. Keberpihakan juga menjadi isu utama, karena seorang mediator harus bersikap imparsial-tidak memihak pada satu pihak manapun (Schoot, 2). Seorang mediator hanya akan memihak pada upaya mencari jalan keluar, mediator tidak boleh memaksa atau menggiring satu pihak manapun. Mediator yang baik juga harus menjaga kerahasiaan dalam negosiasi. Setiap informasi sangatlah bernilai, dan tugas seorang mediator adalah menjaga rahasia-rahasia tersebut. Seorang mediator harus selalu mencari kesulitan-kesulitan yang tengah dihadapi, dan bersama-sama mencari celah untuk melaksanakan proses improvisasi keadaan.

 

Sebelumnya seorang mediator harus melaksanakan proses persiapan sebelum melaksanakan proses mediasi. Langkah-langkah untuk menghadirkan suasana nyaman bagi setiap pihak adalah langkah awal yang bijaksana, mengingat kedua pihak yang mengajak sang mediator tengah berada dalam kondisi bersaing. Mediator juga wajib menunjukkan sikap empatik, bersahaja, mampu menjadi pendengar yang baik, sehingga menimbulkan kesan yang positif bagi semua pihak (Schoot, 4), dan pada gilirannya akan memberikan kepercayaan tersendiri. Proses mediasi akan menjadi lebih efektif jika tidak ada ketegangan berlebih yang dapat memicu problem baru muncul kelak.

 

Lantas, keahlian apa saja yang sebaiknya dikuasai oleh sang mediator? Pertama seorang mediator harus menjadi seorang pendengar aktif, dan menjadi penanya terbuka (Schoot, 8). Menggali informasi harus menjadi prioritas utama bagi mediator, sebab semakin banyak informasi yang didapat, maka akan semakin objektif pula kesimpulan yang akan dihasilkan. Identifikasi isu dan kesempatan harus selalu dilaksanakan selama proses mediasi berjalan, karena opsi-opsi tambahan harus selalu dicari. Semua kemampuan ini wajib dikuasai karena pada akhirnya sang mediator harus menghasilkan kesimpulan yang objektif, tidak berat sebalah, tidak menyalahkan satu pihak manapun, dan berdampak positif bagi semua pihak.

 

Seorang mediator memiliki tugas sebagai seorang penengah. Menjadi pihak yang objektif juga menjadi tugas tersendiri yang menambah dinamika mediator. Manajemen konflik dan situasi adalah pedoman utama seorang mediator untuk melaksanakan tugas yang terbilang tidak ringan ini, sehingga dapat memberikan jalan keluar yang resolutif dan tidak berat sebelah. Persiapan yang matang dan berkelanjutan pada gilirannya akan membawa setiap pihak menuju hasil akhir yang memuaskan, tak terkecuali bagi seorang mediator. Inilah sebabnya proses penunjukkan seorang mediator harus benar-benar melalui tahapan pertimbangan yang matang dan tidak asal-asalan, karena keberadaan mediator akan membawa dampak tersendiri bagi berjalannya proses negosiasi kelak.

 

Referensi :

Schoott, Eileen. “A Guide to Mediation Process” dalam Mediaton Book

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :