WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

GAME and BEHAVIOURIAL THEORY

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 28 February 2014
di NEGOSIASI DIPLOMASI GANJIL 2013/2014 - 0 komentar

TEORI PERMAINAN dan PERILAKU : SELAYANG PANDANG

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Peran negosiasi dalam proses diplomasi menjadi sangat penting keberadaanya, karena upaya diplomasi yang baik tentu menggunakan negosiasi sebagai instrumen utama. Pola-pola negosiasi telah mengalami perkembangan yang signifikan pada masa-masa sekarang, diakibatkan oleh semakin terkoneksinya dunia pasca Perang Dingin, dan di sisi lain penetrasi arus informasi yang sangat deras, mengakibatkan semakin kaburnya batasan antara satu pihak dengan pihak lain. Proses negosiasi pun memainkan peranan baru dalam upaya diplomasi di dunia, sehingga akan membutuhkan pijakan yang kuat, untuk semakin memperkokoh eksistensinya dalam dunia hubungan internasional, terkhusus dalam upaya-upaya diplomasi terkait. Teori permainan (game theory) dan teori perilaku (behaviouralism theory) adalah dua macam teori yang menggambarkan bagaimana sebetulnya proses negosiasi menjadi faktor yang sangat dominan dalam diplomasi.

 

Melalui pendekatan teori permainan, proses negosiasi dipandang sebagai sebuah permainan yang nyata, antara dua orang pemain atau lebih (Schelling 1960, 4). Negosiasi dipandang sebagai sebuah pola permainan, yang dilaksanakan oleh dua aktor atau lebih, yang keduanya selalu berusaha untuk memenangi permainan ini. Negosiasi diibaratkan persis layaknya sebuah permainan yang membutuhkan satu orang pemenang sebagai hasil akhir yang diinginkan, dan permainan yang hanya berisikan dua orang (sebagai contoh : catur), dianggap sebagai representasi terbaik bagaimana menggambarkan teori permainan dalam dunia nyata. Strategi, sebagai guideline umum akan mengarahkan bagaimana seorang pemain akan menggerakkan bidak-bidak catur yang sedang dimainkan, apakah pemain tersebut akan bermain secara agesif dengan memasang garis pertahanan tinggi, atau mencoba strategi memancing pergerakan lawan menuju daerah pertahanan. Sementara taktik digunakan sebagai bentuk respon terhadap pola pergerakan lawan, langkah-langkah penanggulangan yang sifatnya cepat untuk melawan setiap keputusan yang telah diambil lawan. Sebagai contoh, bagaimana sinergi sinkronasi pergerakan antara bidak kuda dan benteng (rookie) untuk menahan laju pion lawan, dalam kondisi jumlah bidak yang dimiliki kurang dari yang dimiliki lawan. Pola-pola perencanaan strategi tentu selalu berada dalam lingkup aturan yang ada, dan dipatuhi oleh kedua belah pihak, sehingga proses penyusunan kerangka strategi harus melalui proses pemikiran yang matang dan tidak sembarangan. Sehingga, hasil yang diharapkan – melalui pola penerapan strategi dan taktik yang telah melalui proses perencanaan yang detil dan terincitentu saja adalah kemenangan. Keadaan remis atau seri tentu dapat dikatakan menjadi tujuan paling akhir dari setiap pemain, dengan kemenangan tetap menjadi tujuan dan fokus utama setiap pemain. Kelebihan yang ditawarkan teori ini adalah akurasi penjelasan proses negosiasi, dengan menggunakan berbagai macam parameter-parameter yang terkait. Tetapi teori permainan tidak melihat bagaimana pola perilaku yang di tunjukkan oleh masing-masing aktor, dan kekurangan ini akan dicoba untuk dijelaskan melalui pendekatan teori perilaku.

 

Sedikit berbeda dengan teori permainan, teori perilaku melihat fokus lain yang ditinggalkan oleh teori sebelumnya, yaitu bagaimana pola-pola penunjukkan bahasa badan (body language) yang bersifat ekspresif dapat memainkan peranan dalam proses negosiasi, baik yang tenagh berjalan maupun tidak.  Peranan gerak-gerak tubuh, ekspresi raut muka negosiator, penunjukkan bahasa-bahasa non verbal lainnya memperlihatkan bagaimana pola perilaku negosiator akan mempengaruhi hasil akhir dari seorang negosiator, yakni bagaimana negosiator tersebut mengambil keputusan. Kelebihan yang ditawarkan adalah proses negosiasi dapat berlangsung dengan lebih cepat, karena tidak melalui serangkaian proses analisa yang akurat. Tetapi pola perilaku yang berdasarkan pada perilaku emosi akan membawa pada hasil-hasil yang negatif, dan pada gilirannya akan mempengaruhi hasil akhir negosiasi kelak.

 

Kedua teori tersebut memainkan peranan tersendiri dalam upaya negosiasi, dimana keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Teori permainan membawa proses analisa akurat dalam negosiasi, tetapi kurang memerhatikan detil-detil informal, yang ternyata juga membawa dimensi baru dalam proses negosiasi. Sementara teori perilaku melihat bagaimana proses penilaian yang lebih simple namun juga efektif di saat yang sama, dapat dilakukan melalui proses pemahaman pola perilaku seseorang dalam negosiasi, tetapi tidak melihat bagaimana bila emosi-emosi negatif muncul dan malah memengaruhi hasil negosiasi kelak. Kedua teori ini bisa diaplikasikan secara bersamaan, dan jika digunakan dengan tepat, maka tentu akan membawa hasil yang signifikan bagi keberlangsungan proses negosiasi itu sendiri.

 

Referensi :

Schelling, Thomas. C. 1960. The Strategy of Conflict. Cambridge: Harvard University Press 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :