WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

MACAM DIPLOMASI

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 28 February 2014
di NEGOSIASI DIPLOMASI GANJIL 2013/2014 - 0 komentar

MENGENAL PREVENTIVE, SECURITY dan HUMAN RIGHTS DIPLOMACY

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

            Setiap negara di dunia mau tidak mau harus selalu melaksanakan proses diplomasi. Berbagai kepentingan dan kebutuhan negara harus selalu dipenuhi, dan diplomasi dijadikan sebagai alat utama untuk mencapai hal-hal tersebut. Diplomasi pun telah menjelma menjadi implementasi kebijakan luar negeri sebuah negara (Griffiths & O’Callaghan 2002, 79). Garis besar pola tingkah laku negara di dunia internasional akan direpresentasikan ke dalam bagaimana negara tersebut melaksanakan kebijakan luar negeri di dalam sebuah forum dan akan membentuk pola diplomasi antar negara kelak.

            Salah satu pola diplomasi terkenal di dunia pola diplomasi preventif. PBB mendefiniskan diplomasi preventif sebagai upaya untuk mencapai sebuah kesepakatan atau resolusi dalam sebuah perselisihan, dimana upaya tersebut harus dilaksanakan secara damai (Griffiths & O’Callaghan 2002). Diplomasi preventif diupayakan sebagai langkah awal penyelesaian sebuah konflik jauh sebelum konflik tersebut akan meletus. Diplomasi ini akan berusaha mencegah terjadinya kemungkinan-kemungkinan pemicu konflik yang lebih besar, dengan harapan akan mencegah terjadinya konflik aktual. Tidak hanya pada negara yang sedang mengalami konflik, ternyata diplomasi preventif dapat juga dilaksanakan kepada negara yang tengah berada di dalam keadaan damai, tetapi di dalamnya terdapat benih-benih kecurigaan, yang jika dibiarkan akan berkembang menjadi pemicu konflik. Rasa saling tidak percaya, katakanlah di dalam ASEAN, bisa dibicarakan di dalam sebuah forum, dengan berasaskan diplomasi preventif di dalamnya.

            Pola diplomasi lain adalah diplomasi keamanan. Tidak dapat dipungkiri jika dunia telah melewati fase-fase Perang Dunia yang meninggalkan banyak duka sehingga menimbulkan efek jera kepada setiap individu di dunia, tetapi keadaan dunia tetaplah tidak selamanya alam. Francis Fukuyama pun memahami hal ini dengan tesis “every nation is still on present danger”, setiap negara masih berada dalam kondisi bahaya, dan menjadi nilai-nilai dari persepktif Realisme. Negara sebagai entitas utama dalam hubungan internasional (meskipun banyak aktor non negara mulai bermunculan) harus menghadirkan rasa damai bagi warga negaranya, dan upaya ini dapat dilakukan melalui diplomasi keamanan. Terdapat 5 poin penting perwujudan rasa keamanan di negara yang dapat dilaksanakan melalui diplomasi keamanan, dan poin pertama menjelaskan bahwa negara harus menghapuskan rasa takut rakyatnya dari ancaman luar, dengan jalan menumbuhkan rasa percaya antaraktor (Djelantik 2008). Hubungan antar aktor yang baik (bahkan antar antor yang tidak mendapatkan legitimasi sekalipun) akan menghadirkan rasa aman bagi warga negara. Poin kedua menjelaskan bahwa keamanan yang dihadirkan oleh negara seharusnya “tidak bersifat obsesif, tidak sehat, dan menjadi over public-attention” (Djelantik, 2008). Keamanan harus bersifat kolektif, tetapi juga tidak berlebihan dan tidak berat sebelah. Keadaan aman bagi satu pihak belum tentu akan sama dengan pihak lain. Kemanan yang dihadirkan negara harus seimbang dan proporsional, sehingga menghadirkan rasa aman actual, bukan rasa aman yang semu. Poin ketiga berbicara pada ranah batas sebuah negara di dunia internasional. “Batas negara harus mendapat perhatian khusus karena dalam dunia politik internasional” (Djelantik 2008). Sengketa-sengketa yang banyak terjadi pada daerah-daerah batas negara harus selalu diminimalisir, karena akan berpengaruh kepada rasa aman warga negara. Hubungan diplomasi yang dijalin harus selalu menghadirkan resolusi terkait masalah batas wilayah, sehingga di saat yang bersamaan, akan menghadirkan rasa aman bagi warga negara. Poin keempat dan kelima secara berturut-turut adalah “perdamaian merupakan sebuah kesatuan utuh yang menyebabkan urgensi dibentuknya kesepakatan perwujudannya di seluruh wilayah di dunia terutama di daerah-daerah sensitif konflik” dan “(keamanan) hanya akan dapat terwujud melalui kerjasama terutama yang dilakukan oleh negara-negara besar” (Djelantik 2008). Diplomasi keamanan akan memainkan peranan penting di daerah-daerah rawan konflik, karena rasa aman pada daerah tersebut sangat sedikit. Negara-negara besar (tidak hanya di daerah tersebut) harus melaksanakan diplomasi, tidak hanya dengan sesame negara besar, tetapi juga kepada negara yang tengah terlibat konflik, sehingga akan menghadirkan rasa aman bagi semua pihak.

            Rasa aman juga menjadi basis bagi pola diplomasi berikutnya. Pola diplomasi Hak Asasi Manusia dianggap sebagai pola diplomasi lanjutan dari diplomasi keamanan. HAM adalah pegangan bagi setiap orang untuk dapat hidup layak dan bebas dari penjajahan, karena hak asasi adalah hak yang telah dimiliki manusia saat lahir ke dunia, dan semua orang (seharusnya dan seyogyanya) yang harus menghormati hal tersebut. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk mengambil hak yang dimiliki orang lain, karena hal ini akan melanggar hukum dunia internasional. Diplomasi HAM akan membantu diplomasi keamanan untuk menghadirkan rasa damai bagi semua orang, dan di saat yang sama, meningkatkan awareness individu akan nilai-nilai kebebasan. Akan banyak ditemui contoh kasus perenggutan HAM di dunia, seperti konflik etnis layaknya konflik Rohingya, dan diplomasi HAM akan cocok diaplikasikan ke dalam contoh kasus tersebut.

            Ketiga pola diplomasi ini memiliki satu tujuan dasar, bagaimana menghadirkan rasa aman dan damai bagi setiap orang di dunia. Diplomasi preventif mencegah sebuah konflik terjadi, dimana konflik adalah jalan pembuka untuk merenggut rasa damai  yang seharusnya dimiliki setiap individu di dunia. Diplomasi keamanan bertugas untuk menghadirkan rasa aman bagi setiap orang di dunia, sementara diplomasi hak asasi manusia akan membantu diplomasi keamanan untuk menghadirkan rasa aman tersebut. Kerjasama antar ketiga unsur diplomasi ini akan membantu menghadirkan sebuah dunia yang aman dan nyaman untuk ditinggali ke depannya.

 

Referensi

Griffiths, M. & T. O’Callagan. 2002.International Relations, The Key Concepts. London: Routledge.

Djelantik, Sukawarsini. 2008. Diplomasi antara Teori dan Praktik. Jogjakarta: Graha Ilmu.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :