WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

INSTRUMEN DIPLOMASI

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 28 February 2014
di NEGOSIASI DIPLOMASI GANJIL 2013/2014 - 0 komentar

MEMAHAMI INSTRUMEN-INSTRUMEN DIPLOMASI

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Dewasa ini dunia menjadi sangat terkoneksi. Batasan-batasan antara negara perlahan menjadi kabur akibat berbagai hal, salah satunya adalah akibat dari campur tangan globalisasi. Akibat dari kaburnya batasan antar negara membawa banyak akibat, dan salah satunya adalah proses komunikasi pun semakin intens. Proses komunikasi antara individu, organisasi internasional dan bahkan agensi pemerintahan telah mencapai tahapan baru, sebuah tahapan keterbukaan informasi, dimana tidak terdapat celah untuk menutupi segala sesuatu. Ternyata, kebutuhan akan proses komunikasi ini sangat penting keberadaanya bagi negara, karena negara adalah aktor utama yang menaungi berbagai entitas tersebut. Proses komunikasi ini akan menjadi jalan utama bagi negara untuk mengutarakan berbagai macam kepentingan (entah kepentingan nasional ataupun warga negara) yang dibawa, untuk dikomunikasian dengan negara lain. Diplomasi pun bertransformasi menjadi wadah utama bagi negara untuk melaksanakan proses komunikasi tersebut, yang telah menjadi kebutuhan bersama. Diplomasi, dewasa ini telah menjadi sebuah ‘seni mengedepankan kepentingan suatu negara dalam hubungannya dengan negara lain’ (Roy 1995, 3).

 

Membicarakan diplomasi tentu tidak akan terlepas dari unsur-unsur yang membentuk kerangka proses diplomasi itu sendiri. Di dalam diplomasi terdapat beberapa unsur penting, yang akan memberikan aturan main bagi semua upaya diplomasi yang akan ditempuh berbagai negara di dunia. S.L. Roy (1995) mendefinisikan unsur-unsur diplomasi menjadi beberapa bagian, dan unsur pertama adalah upaya negosiasi. Seperti yang telah diketahui bersama, upaya negosiasi dilakukan sebagai upaya diplomasi melalui jalur yang dianggap ‘resmi’. Bagaimana dengan upaya lobi? Upaya lobi juga masih dalam lingkup diplomasi, tetapi dalam tataran yang tidak terlalu ‘resmi’, suasana dominasi lebih santai, dan mayoritas hanya dibuat sebagai tahapan permulaan dari negosiasi yang bersifat lebih ‘resmi’, karena diplomasi kerap menjadi “motif utama dari suatu pertemuan yang telah diatur oleh para diplomat” (Roy, 1995:4).. Unsur kedua berkenaan dengan pembahasan kepentingan. Diplomasi dilakukan dengan latar belakang pemenuhan kepentingan, baik kepentingan negara ataupun warga negara. Unsur ketiga dilatarbelakangi oleh rasa damai. Semua upaya diplomasi seharusnya (dan seyogyanya) dimulai, dilakukan dan diakhiri dengan damai. Tetapi unsur ketiga ini akan memiliki korelasi dengan unsur selanjutnya. Unsur keempat berkaitan dengan langkah apa yang bisa diambil, jika upaya diplomasi tidak menemui jalan keluar. Ternyata, di dalam diplomasi, perang diberikan jalan tersendiri. Perang dapat terjadi jika tidak ditemui jalan sepakat dalam upaya diplomasi, dan perang tidak dilakukan dengan latar belakang penciptaan rasa damai. Unsur kelima adalah diplomasi memiliki kaitan erat dengan politik luar negeri suatu bangsa. Para diplomat harus mengandalkan politik luar negeri negara asalnya, sebagai pegangan utama dalam upaya diplomasi dengan negara lain. Sementara unsur keenam dan ketujuh secara berturut-turut adalah diplomasi memiliki hubungan (dan menggunakan) sistem negara, dan diplomasi adalah representasi sebuah negar dalam pola hubungan internasional.

 

Semua negara melakukan diplomasi dengan tujuan memenuhi kepentingan yang dibawanya dalam proses diplomasi yang tengah diupayakan. Kepentingan negara biasanya tercermin dalam empat instrumen utama, yakni instrumen ekonomi, budaya, politik dan militer. Setiap instrumen memiliki karakteristik dan proses pemenuhan yang berbeda-beda pula. Pada instrumen politik contohnya, instrumen ini mengedepankan cara-cara politik untuk menjalin komunikasi. Menjalin hubungan bilateral antara dua negara atau lebih adalah salah satu contoh instrumen poltik dalam diplomasi. Intrumen politik matoritas dipakai untuk mencari ‘kawan’ dalam koalisi regional (atau bahkan internasional). Unsur kedua adalah instrumen ekonomi. Proses ekspor-impor sebuah komoditas atau kerjasama dalam bidang teknologi manufaktur adalah contoh dari instrumen ekonomi. Instrumen ekonomi akan berkaitan erat dengan sumber daya dan (dalam tahapan yang lebih lanjut) power yang dimiliki oleh negara tersebut (Roy 1995, 8). Unsur ketiga adalah instrumen budaya. Instrumen budaya dianggap sebagai cara halus dan cenderung tidak manipulatif, karena menggunakan cara yang relative soft, dan tidak memaksa. Instrumen budaya amat berperan dalam upaya merubah mindset negara tujuan, salah satunya adalah dengan cara mengadakan acara-acara kesenian di negara tujuan. Instrumen terakhir adalah instrumen yang sangat high issue, yakni instrumen militer. Berbeda dengan ketiga instrumen sebelumnya, instrumen ini cenderung menggunakan unsur paksaan dalam upaya pelaksanaanya. Upaya-upaya seperti infiltrasi dan penetrasi, manufaktur armada perang canggih, adalah beberapa contoh dari instrumen militer. Instrumen militer mayoritas dipakai ketika keadaan tidak dimungkinkan, dan diplomasi dianggap telah gagal, sehingga diperlukan sebuah langkah taktis dan sesegera mungkin.

 

Instrumen-instrumen tersebut akan memainkan peranan penting dalam diplomasi. Proses diplomasi, yang dilaksanakan oleh semua neagra di dunia, semuanya didasarkan oleh implementasi ke-empat instrumen diplomasi tersebut. Semua instrumen dapat dipakai bersamaan, atau bahkan sendiri-sendiri. Analisa keadaan negara tujuan diplomasi dapat dijadikan acuan utama dalam pemilihan pola instrumen mana yang cocok, karena kebutuhan (dan kepentingan) setiap negara dalam pola hubungan internasional tentu saja akan berbeda-beda.

 

Referensi :

Roy, S.L. 1995. Diplomasi, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :