WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

MEMBEDAH DIPLOMAT

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 28 February 2014
di NEGOSIASI DIPLOMASI GANJIL 2013/2014 - 0 komentar

MEMBEDAH DIPLOMAT

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Pada dasarnya diplomasi telah dilakukan sejak jaman dahulu, pada masa Mesopotamia, hingga era saat ini. Diplomasi telah mengubah jalannya proses berkomunikasi para aktor, dan di sisi lain ikut mendefinisiskan ‘cara’ dan ‘aturan main’ yang harus diikuti semua pihak, dalam lingkup internasional. Diplomasi pun juga melewati beberapa pembabakan penting, dan berdasarkan timeline waktu, diplomasi dapat dibedakan menjadi dua masa atau periode. Diplomasi awal, atau disebut sebagai diplomasi tradisional, adalah praktik seni diplomasi pada masa sebelum Perang Dunia I. Diplomasi ini membahas isu-isu yang bersifat resmi, karena didasari pada asas state-centric (Baylis & Smith 1998). Negara dipandang sebagai aktor utama dalam hubungan internasional, dan hal ini terus dibawa sampai kepada ranah diplomasi. Negara menjadi entitas pertama, dan memiliki kekuasaan tertinggi, dibandingkan dengan negara lain. Pemahaman yang belum menyeluruh pada saat itu, membuat negara berdiri sendirian, menjadi aktor tunggal dalam hubungan internasional, dan akibatnya merembet kepada pola pembahasan isu-isu terkait. Isu-isu yang dibahas sangatlah high issue, karena menyangkut hubungan antar negara. Proses rekonsiliasi perang dan usaha perdamaian, menjadi isu yang mendominasi proses diplomasi pada masa tersebut.

 

Diplomasi tradisional perlahan mulai ditinggalkan, karena tidak mampu menjawab perubahan-perubahan yang terjadi pada masa ke masa lain. Kemunculan aktor-aktor baru, layaknya organisasi-organisasi internasional, yang bahkan memiliki kapabilitas lebih dari aktor negara, membuat kedigdayaan negara sebagai aktor tunggal mulai dipertanyakan. Hal ini semakin terlihat pada era pasca Perang Dunia I. Diplomasi berkembang pesat pada masa tersebut, dan diyakini perkembangan tersebut terjadi karena adanya perkembangan isu-isu yang harus dibahas pada masa tersebut. Kompleksitas masalah yang terjadi pada masa tersebut, memaksa negara untuk melebarkan fokus isu (Baylis & Smith 1998), tidak hanya kepada high issue, tetapi juga low issue (seperti masalah kemiskinan, persamaan hak asasi manusia, dan masih banyak hal lain).

 

Peranan diplomat juga tidak bisa lepas dari perkembangan diplomasi modern. Diplomat menjadi uluran tangan negara, representasi kementerian luar negeri dan bertindak sebagai pihak utama yang mampu menjelaskan kepentingan apa saja yang dibawa negaranya. Diplomat tetap bekerja dalam koridor pemerintahan negara asal, karena diplomat memang berperan sebagai perwakilan negara. Diplomat memiliki tugas rumit, dan hal ini selalu berkenaan dengan warga negara negara asalnya, yang tinggal dan bermukim di negara tujuan diplomat tersebut diutus. Diplomat befungsi tidak hanya pada masalah-masalah pencatatan data formal (seperti kelahiran, kematian, perkawinan warga negara) tetapi diplomat juga berfungsi sebagai penyedia informasi substansial (apa yang tengah terjadi, pergolakan apa yang dapat membahayakan warga negara asal diplomat tersebut di utus. Dan fungsi terpenting diplomat tentu saja adalah sebagai representasi negara dalam perundingan-perundingan yang bersifat negosiasif. Diplomat akan menjadi garda utama, penyampai kepentingan dan keperluan negara asal diplomat tersebut diutus, untuk disampaikan kepada negara diplomat tersebut ditugaskan. Impresi dan penampilan diplomat menjadi instrumen penting bagi negara demi tercapainya kesuksesan penyampaian pesan dan kepentingan.

 

Dengan tanggung jawab yang begitu besar, tentu saja diplomat dianggap sebagai asset negara, yang sangat berharga dan wajib untuk dijaga. Penjagaan asset berharga ini diwujudnyatakan dalam bentuk pemberian hak-hak istimewa dan hak imunitas. Hak istimewa terdiri dari pembebasan kewajiban membayar pajak bagi diplomat bersangkutan dalam negara tujuan diplomat diutus. Sementara hak imunitas terdiri dari fungsi kekebalan diplomatic, diplomat mendapatkan hak untuk bebas dari gangguan penguasa di negara tujuan. Pemberian hak ini telah diatur oleh dunia internasional, dan salah satunya telah dibicarakan dalam Konvensi Wina.

 

Dimana ada hak, tentu akan ada kewajiban yang mengikuti. Hal yang sama juga ditemui pada diplomat. Kewajiban diplomat meliputi usaha untuk memperjuangkan kepentingan warga negara di negara tujuan, loyalitas tertinggi harus selalu ditujukan kepada negara asal. Diplomat juga harus dapat dengan fasih menyuarakan kepentingan yang dibawa oleh negaranya, jangan sampai seorang diplomat berseberangan pendapat dengan negara asalnya.

 

Melihat kompleksitas tugas yang diemban dan beratnya tuntutan yang ditujukan, tentu jalan menuju diplomat sangatlah terjal. Tidak sembarangan orang dapat seenaknya mencalonkan diri untuk menjadi diplomat. Terdapat berbagai sarat yang harus dipenuhi demi mendapatkan status sebagai diplomat. Diplomat harus mampu berpikir jernih dan selalu mampu memberikan argument yang rasional dan dilandaskan dengan teori-teori yang masuk akal. Diplomat harus mampu menjaga loyalitas mereka hanya kepada neagra asal, dan memiliki kesabaran dalam setiap upaya diplomasi (dalam hal ini negosiasi, ataupun lobby) yang tengah dilaksanakan.

 

Singkat kata, diplomat adalah orang-orang pilihan. Seorang diplomat dipilih oleh negaranya berdasarkan proses penilaian yang panjang dan menyeluruh. Proses transisi diplomasi tradisional menuju diplomasi modern semakin memperkokoh  fungsi diplomat dalam dunia diplomasi internasional.

 

Referensi

Baylis, John & Steve Smith. (1998). The Globalization of World Politics: An Introduction to International Relation. New York: Oxford University Press.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :