WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

DIPLOMASI, SEBUAH PENJELASAN SINGKAT

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 28 February 2014
di NEGOSIASI DIPLOMASI GANJIL 2013/2014 - 0 komentar

DIPLOMASI, SEBUAH PENJELASAN SINGKAT

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Di dunia dewasa ini setiap umat manusia membutuhkan proses komunikasi. Proses komunikasi menjadi sangat penting peranannya dalam setiap sudut dan sendi kehidupan manusia. Proses berkomunikasi menjadi jalan bagi setiap orang untuk mengutarakan pendapat, mencapai keinginan bersama, menyampaikan ketidaksetujuan dan masih banyak lagi. Dalam lingkup dan tahapan yang lebih luas, jika berbicara mengenai negara, maka komunikasi bertransformasi menjadi sebuah bentuk yang berbeda, yang biasa disebut dengan diplomasi. Negara akan melakukan proses diplomasi, melalui para diplomat, sebagai sarana untuk menyampaikan kepentingan negara tersebut. Nantinya melalui wadah yang lebih luas, bisa serupa rezim misalkan, pembicaraan mengenai pemenuhan kepentingan dapat dibicarakan lebih lanjut.  Proses komunikasi ini tentu saja diharapkan (dalam keadaan ideal) akan memberikan berbagai macam kelebihan dan benefit bagi setiap negara yang sedang terlibat dalam proses diplomasi tersebut.

            Dalam proses berdiplomasi, ada berbagai macam faktor yang melatarbelakangi kelancaran proses diplomasi dan bagaimana pola diplomasi akan berjalan. Diplomasi erat kaitannya  dengan politik luar negeri sebuah negara, karena diplomasi pada dasarnya adalah proses membicarakan kepentingan satu negara dengan negara lain. Layaknya arti secara harafiahnya, surat yang dilipat untuk diberikan kepada representasi kerajaan terkait, diplomasi memiliki inti sebagai proses berkomunikasi. Esensi inilah yang harus mampu dipahami oleh para diplomat. Kembali lagi pada politik luar negeri, diplomasi akan memiliki trajektori yang dapat dikatakan sama  dengan politik luar negeri. Bagaimana bisa seorang diplomat dari sebuah negara, meyakinkan diplomat dari negara seberang, jika diplomat tersebut memiliki pandangan dan cara berpikir yang berbeda dengan negaranya? Seorang diplomat harus memiliki cara berpikir yang sama dengan negaranya, dan politik luar negeri sebuah negara disinyalir menjadi instrument utama, bahan rujukan bagi diplomat untuk berperilaku dan memahami kepentingan negaranya.

            Foreign policy begins when domestic ends (Kissinger 1994). Kebijakan luar negeri sebuah negara berhenti ketika urusan dalam negeri berakhir. Kebijakan luar negeri sebuah negara muncul dari proses akumulasi kebijakan dalam negeri sebuah negara. Kebijakan-kebijakan dalam negeri yang terkristalisasi ini, akan disarikan dalam sebuah kebijakan luar negeri sebuah negeri, dan kebijakan ini akan menjadi garis besar bagi negara tersebut berkecimpung dalam dunia internasional. Menjadi tugas utama dari para diplomat untuk memahami bagiamana pola politik luar negeri negaranya sendiri, sehingga diplomat tersebut mampu untuk menjabarkannya dalam dunia internasional.

            Pada dasarnya diplomasi adalah sebuah proses penjabaran kepentingan negara, dimana setiap negara yang terlibat di dalam jalinan komunikasi yang berlangsung, mendapatkan keuntungan yang sama. Kondisi ideal tersebut sejatinya dapat tercapai, bila beberapa faktor dalam berdiplomasi tidak terlalu berpengaruh. Nyatanya berbagai faktor tersebut memiliki peranan yang berbeda-beda sehingga mempengaruhi proses berdiplomasi dalam dunia internasional. Salah satu contohnya adalah national power. Power sebuah negara akan mempengaruhi bagaimana sepak terjang negara tersebut dalam proses berdiplomasi. Negara yang memiliki power besar akan cenderung memiliki posisi yang jauh lebih kuat dari negara-negara lain, apalagi bila negara tersebut hanya memiliki power yang lebih sedikit. Power sebuah negara adalah modal utama diplomat dari negara tersebut untuk melaksanakan proses diplomasi dengan negara lain. Diplomat dari negara kuat dapat dengan mudah menjabarkan kepentingan-kepentingan negara tempat dirinya berasal, dan pada gilirannya akan mendominasi proses negosiasi dalam diplomasi terkait, dan pada akhirnya akan mendapatkan keuntungan berlebih dari negara dengan power yang lebih kecil. Terlebih lagi pola diplomasi dewasa ini telah berubah, dari sistem bipolar (pada jaman Perang Dingin dengan aktor utama Rusia dan Amerika Serikat) menjadi sistem hegemoni tunggal (Watson 2005), membuat proses jalannya upaya diplomasi juga berubah. Dominasi menjadi hak milik negara hegemon, sehingga menjadi aktor utama yang, dalam tatanan yang lebih ekstrim, mampu menyetir jalannya proses diplomasi. Negara dengan power yang lebih besar tentu saja akan dengan lebih mudah meloloskan national interest yang mereka kejar, daripada negara dengan power yang lebih kecil.

            Tujuan berdiplomasi tentu saja adalah untuk melakukan proses komunikasi antar dua pihak atau lebih, dan proses komunikasi ini dilakukan oleh para diplomat dari negara bersangkutan. Proses diplomasi memiliki sangkut paut dengan politik luar negeri sebuah negara, karena politik luar negeri bertransformasi menjadi garis besar atau haluan, pedoman bagi diplomat untuk mengutarakan kepentingan-kepentingan apa yang sedang diemban oleh negara tempat dimana diplomat tersebut bernaung. Harapan utama dalam proses berdiplomasi, selain untuk menjadi wadah komunikasi, adalah tercapainya sebuah kepentingan tanpa adanya dengan mencegah kemunkinan-kemungkinan terjadinya konflik.

 

Referensi :

Kissinger, Henry A. 1994. Diplomacy. New York: Simon and Schuster

Watson, Adam, 2005, Diplomacy "The Dialogue Between States", Edisi Revisi 2005, Master-ebook, Routledge, UK 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :