WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

SISTEM PERTAHANAN NASIONAL

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 28 February 2014
di STUDI STRATEGI INDONESIA 1 GENAP 2012/2013 - 0 komentar

KEUNIKAN SISTEM PERTAHANAN INDONESIA

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Jaman Perang Dunia I dan II adalah masa paling kelam dalam sejarah. Sedikit gesekan antar satu negara dengan negara lain, maka dapat dibayangkan jika perang akan segera meletus. Dan beribu-ribu bahkan berjuta nyawa tak berdosa melayang. Maka tidak salah jika pada jamannya perspektif Realisme dianggap sebagai perspektif utama, perspektif yang dianggap paling relevan dan masuk akal di masanya. Tetapi, jaman ternyata telah berubah. Dunia perlahan berubah, dan kebiasaan perang mulai ditinggalkan. Perspektif Realisme perlahan pun mulai dipertanyakan kedigdayaannya. Keadaan di dunia dewasa ini telah jauh lebih stabil, tidak sekonfliktual pada jaman perspektif Realisme berkuasa. Tetapi satu hal yang dianggap masih relevan, yaitu adanya nilai “every nation is still in present danger”, setiap negara tetap dalam keadaan bahaya. Mungkin akan terdengar bias dengan keadaan sekarang, tetapi coba pahami konteks “bahaya” tidak dengan kacamata orang-orang Realis. Tetap ada ancaman-ancaman yang datang bagi negara, dan bentuk ancaman tersebut telah bertransformasi sedemikian rupa sehingga membutuhkan tindakan dan aksi yang lebih serius. Disinilah sistem pertahanan negara memainkan peranannya. Sistem pertahanan negara yang baik dapat menjaga negara tersebut dari berbagai bentuk ancaman yang telah dijelaskan di atas. Lantas, seperti apa bentuk pertahanan negara yang dipakai di Indonesia?

 

Sebelumnya, patut dipahami terlebih dahulu latar belakang pengaplikasian sistem pertahanan di setiap negara di dunia. Negara-negara tersebut akan berusaha mengaplikasikan sistem pertahanan mereka dengan berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain, luas negara, bagaimana hubungan negara tersebut dengan negara lain, kekuatan pasukan perang yang dimiliki, dan masih banyak lagi. Berbicara mengenai Indonesia, sistem pertahanan yang dipakai adalah sistem yang dapat dikatakan kompleks dan berbeda dengan negara-negara lain. Indonesia berusaha untuk menjaga kenetralan diri di tengah dua blok besar, yaitu blok Barat dan blok Timur. Tetapi dapat dilihat jika perlahan Indonesia memihak kepada blok Timur, pada jaman pemerintahan Soekarno. Kebijakan tersebut diambil tentu saja dengan pelbagai pertimbangan khusus, dan salah satunya adalah dengan mendekatkan diri dengan blok Timur, yang diketuai oleh Rusia. Dengan menjalin hubungan manis dengan Rusia, maka Indonesia mendapatkan keuntungan seperti kerjasama di bidang militer. Keadaan sedikit berubah ketika mencapai rezim pemerintahan Soeharto, yang perlahan memihak kepada Barat. Sekali lagi, tentu saja keputusan tersbut telah melalui pertimbangan-pertimbangan khusus. Setelah keruntuhan Rusia, maka kerjasama dengan pihak Barat, dinilai jauh lebih rasional.

 

Doktrin pertahanan akan selalu dikaitkan dengan peperangan. Memang pada dasarnya setiap negara telah muak dengan perang, tetapi setiap negara dituntut untuk selalu siap sedia jika suatu saat harus berperang. Karena perang selalu dikaitkan dengan kedaulatan sebuah negara, negara yang kalah perang tentu kedaulatannya akan dipertanyakan. Tetapi peperangan sendiri dapat dicegah dengan upaya jalur-jalur lain, seperti halnya kerjasama. Dalam konteks ini, maka kerjasama dapat dipahami sebagai upaya untuk mencari perdamaian. “Stabilitas dalam negeri dan sekedar persiapan pertahanan adalah faktor-faktor yang terutama bertujuan menghindari diri dari peperangan” (Nasution 1984, 78). Stabilitas dalam negeri harus selalu dikejar, agar dapat tercipta kedamaian dengan baik. Dan penciptaan stabilitas perdamaian tersebut tercermin dalam konteks doktrin pertahanan “Politik Luar Negeri yang Bebas dan Aktif”. Indonesia selalu berusaha untuk mencari kawan sebanyak-banyaknya, dan di satu sisi berusaha mengurangi kemungkinan akan kemunculan lawan.

 

Ke depannya, sistem pertahaman Indonesia ternyata akan digiring menuju sistem pertahanan gerilya. Pertahanan gerilya dapat dipahami dengan konteks bangsa tidak dapat mempertahankan suatu daerah dari pendudukan musuh, sehingga “terpaksa menggerilya secara semesta seluruh bangsa dan tanah air, jika tidak dapat mempertahankan semua kota-kota dan jalan-jalan dari perebutan suatu musuh penyerang” (Nasution 1989). Jenderal A.H. Nasution mungkin memiliki cara pandang yang unik, karena dapat memposisikan istilah “gerilya” dalam level yang sedikit berbeda. Musuh dapat dikalahkan dengan strategi gerilya, yang dalam proses implementasinya memang harus selalu bergerak secara diam-diam. Setelah musuh lengah dan tak berdaya, barulah seluruh kekuatan dikerahkan untuk terjun dan menghabisi musuh, tentu saja dengan cara yang sedemikian efektif dan efisien. Sebuah langkah yang dinilai sangat jenius.

 

Sehingga, seharusnya kebijakan pertahanan yang baik haruslah dilihat dari berbagai aspek dan faktor. Semakin sistem pertahanan tersebut dapat diimplementasikan dengan baik, maka tingkat keberhasilan akan semakin tinggi. Jangan lupa pandanglah berbagai macam aspek sebuah negara, seperti penjelasan sebelumnya, yang harus diberi fokus lebih. Luas negara, kontur darat sebuah negara, bagaimana pola hubungan sebuah negara dengan negara lain, dan masih banyak faktor-faktor lain. ‘SISHANKAMRATA’ atau Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta menjadi salah satu refleksi model pertahanan Indonesia. Jika memang dibutuhkan, maka pengerahan seluruh warga masyarakat dapar dilakukan. Hal terpenting adalah implementasi kebijakan pertahanan harus secara matang dipikirkan, sehingga dapat membawa kebaikan bagi semua pihak.

 

REFERENSI

Nasution, AH. 1984. “Bentuk-Bentuk Peperangan dan Pembangunan Pertahanan Kita”, dalam Pokok-Pokok Gerilya dan Pertahanan Republik Indonesia di Masa Lalu dan Masa yang akan Datang, Bandung: Penerbit Angkasa, pp. 241-264

Nasution, AH. 1984. “Gerilya dan Perang Kita yang akan Datang”, dalam dalam Pokok-Pokok Gerilya dan Pertahanan Republik Indonesia di Masa Lalu dan Masa yang akan Datang, Bandung: Penerbit

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :