WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

PILIHAN STRATEGIS dalam DUNIA HUBUNGAN INTERNASIONAL

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 28 February 2014
di TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL GENAP 2012/2013 - 0 komentar

PILIHAN STRATEGIS SEBAGAI JEMBATAN ANTARA GLOBALISASI dan HUBUNGAN INTERNASIONAL

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Dunia hubungan internasional tidak bisa lepas dari globalisasi. Akan sangat naïf jika  seseorang menanngap globalisasi dan hubungan internasional adalah dua hal yang terpisah. Padahal, fakta menunjukkan jika dunia yang kita tinggali, semakin kabur sekat antar negara, jarak antar satu daerah dengan daerah lain menjadi semakin pendek dan di sisi lain, arus informasi menjadi semakin deras keberadaanya. Hal ini tentu merubah wajah dunia hubungan internasional, yang pada awalnya didominasi oleh keberadaan negara sebagai aktor utama. Globalisasi membawa berbagai macam kemungkinan bagi aktor-aktor non negara untuk mengekspresikan sekaligus mengaktualisasikan diri, dan di satu sisi mengancam eksistensi negara sebagai aktor utama dalam hubungan internasional. Perspektif-perspektif tradisional, layaknya perspektif Realisme dan Liberalisme, seakan tidak berdaya dengan adanya globalisasi. Perspektif Realisme, yang berfokus pada upaya perluasan kekuasaan, dianggap sudah tidak relevan, mengingat keberadaan negara, sebagai aktor tunggal dan utama dalam hubungan internasional mulai dipertanyakan keberadaanya. Hal yang sama juga terjadi pada perspektif Liberalisme. Perspektif yang menitikberatkan fokus pada upaya kerjasama antar negara demi mencapai stabilitas. Bagaimana mungkin stabilitas dapat tercipta ketika keadaan dunia semakin tidak menentu dan memiliki kecenderungan untuk selalu berubah?

 

Keadaan stagnansi yang dialami oleh perspektif Realisme dan Liberalisme tersebut dijawab dengan lahirnya berbagai macam perspektif-perspektif baru, yang memiliki sifat alternatif. Perspektif-perspektif alternatif ini lahir dari kebutuhan akan adanya perspektif-perspektif baru, yang mampu menjawab persoalan dan permasalahan yang tidak bisa dijawab oleh perspektif-perspektif tradisional. Dengan latar belakang immanent critic, atau kritik yang tidak berkesudahan, perspektif-perspektif alternatif ini hadir dan berkembang, dalam dunia hubungan internasional yang terus-menerus berubah. Perspektif-perspektif tersebut berusaha untuk menjawab berbagai macam pertanyaan dan persoalan, yang tidak bisa diselesaikan oleh perspektif-perspektif tradisional. Problematika di luar peperangan dianngap sebagai permasalahan utama yang keberadaanya semakin medesak untuk segera diselesaikan. Bisa dilihat bagaimana kelaparan, kemiskinan, proliferasi nuklir, perjanjian-perjanjian antar negara mengenai problem global warming, menjadi fokus utama perspektif-perspektif alternatif tersebut.

 

Berbicara mengenai globalisasi, keberadaan perspektif alternatif dipandang sebagai sebuah langkah yang bijaksana. Perspektif-perspektif tersebut dapat menjelaskan berbagai macam fenomena yang didalangi oleh globalisasi, salah satunya adalah fenomena melemahnya eksistensi negara sebagai aktor utama dalam hubungan internasional. Keberadaan aktor-aktor non negara, yang keberadaanya oleh perspektif tradisional dikesampingkan, perlahan mulai menggeser keberadaan negara sebagai aktor utama. Kemunculan aktor non negara ditengarai berasal dari keterbatasan negara dalam menyelesaikan beberapa masalah yang semakin kompleks. Perspektif-perspektif alternatif tersebut muncul sebagai bentuk kajian yang mampu menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dalam hubungan internasional dengan tingkat relevansi yang tinggi dengan keadaan dunia saat ini (Webber, 2005: 104).

 

Tetapi jika mulai ingin menyangkutkan kebutuhan antara dunia globalisasi dan dunia hubungan internasional, maka dibutuhkan sebuah pendekatan baru yang memiliki tingkat rasionalitas yang tinggi, tetapi mampu menjelaskan dan memenuhi kebutuhan dari masing-masing kubu. Dengan kata lain, dibutuhkan sebuah pendekatan yang mampu mengaitkan berbagai macam kebutuhan yang disodorkan oleh globalisasi, tetapi di sisi lain juga mampu menghadirkan solusi atas kebutuhan dari kubu hubungan internasional. Pendekatan tersebut dapat dipahami sebagai sebuah wadah, wadah yang mampu mempermudah analisa masalah, baik masalah tersebut muncul dari dunia hubungan internasional, dan diharapkan mampu memberi jalan tengah atau bahkan jalan keluar dari masalah yang tengah manjadi fokus utama (Powell & Lake 1993, 3). Ternyata dalam perkembangannya, disiplin ilmu Hubungan Internasional telah berusaha untuk mengembangkan sebuah pendekatan yang mampu berjalan seiringan dengan kedua belah pihak (pihak disiplin ilmu Hubungan Internasional sendiri, beserta globalisasi di sisi lain). Pendekatan strategic-choice atau pilihan strategis adalah jawaban dari pihak disiplin ilmu Hubungan Internasional, untuk menyikapi keberadaan globalisasi dalam tatanan dunia global.

 

Pendekatan pilihan strategis ada dan dikembangkan untuk sebuah tujuan unik. Dibutuhkan sebuah pendekatan baru (entah dalam bentuk teori-teori atau perspektif) yang dapat membantu umat manusia memecahkan masalah-masalah yang semakin kompleks, hasil kreasi globalisasi. Nyatanya, perspektif-perspektif dalam dunia hubungan internasional ternyata tidak sepenuhnya menjangkau perkembangan dunia yang selalu dinamis. Dunia yang dinamis, ciptaan dan rekayasa globalisasi, memunculkan berbagai macam problem dan masalah yang harus dipahami dengan cara pandang yang baru. Pendekatan strategis hadir sebagai upaya untuk mengatasi problematika yang ditimbulkan oleh globalisasi, dimana problematika tersebut mempengaruhi dunia hubungan internasional.

 

Terdapat tiga tahapan utama dalam upaya membentuk pilihan strategis. Tahapan awal adalah membuat analisa permasalahan. Setiap permasalahan harus dianalisa keberadaanya, sebagai contoh hal apa yang melatarbelakangi kemunculan permasalahan tersebut, atau mungkin apa dampak yang akan dibawa oleh permasalahan tersebut jika terus- menerus dibiarkan. Tahapan kedua adalah menyelenggarakan riset, dengan berdasarkan analisa permasalahan. Riset yang diselenggarakan harus memiliki cakupan yang cukup, sebisa mungkin memiliki cakupan yang komprehensif dan menyeluruh. Tahapan terakhir adalah perumusan pendekatan metodologis  Melalui tiga tahapan inilah, pendekatan pilihan strategis dapat tercipta dan diimplementasikan dalam dua lingkup, lingkup hubungan internasional dan dunia global (representasi dari globalisasi).

 

Pendekatan pilihan strategis dipandang sebagai sebuah jalan keluar baru dalam dunia hubungan internasional. Pendekatan pilihan strategis dapat dengan cerdik menempatkan diri di antara dunia hubungan internasional dengan dunia dinamis, hasil rekaan globalisasi. Pendekatan pilihan strategis dapat bertransformasi menjadi sebuah jembatan antara dunia hubungan internasional dengan dunia globaliasi, melalui tiga tahapan pembentukan pilihan strategis.

 

Referensi :

Lake, David A. & Robert Powell, 1999. International Relations: A Strategic-Choice Approach, in; David A. Lake & Robert Powell (eds.), Strategic Choice and International Relations, Princeton University Press, pp. 3-38.

Weber, Cynthia, 2005. International Relations Theory, A Critical Introduction, Routledge, Chap. 6 pp. 103-122.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :