WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

MEMAHAMI PERSPEKTIF KONSTRUKTIVIS

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 28 February 2014
di TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL GENAP 2012/2013 - 0 komentar

SEBUAH “JEMBATAN” BERNAMA PERSPEKTIF KONSTRUKTIVISME SOSIAL

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Pada dasarnya, manusia terlahir sebagai makhluk hidup yang “kritis”. Manusia selalu berusaha untuk memahami segala sesuatu yang ada di sekitarnya melalui berbagai macam cara. Penggunaan perspektif dianggap sebagai sebuah jalan terbaik, bagi manusia, untuk berusaha memahami dan menjelaskan berbagai macam fenomena yang terjadi di sekitarnya dan bahkan dalam lingkup yang jauh lebih luas, dunia global. Berbicara mengenai pengaplikasian perspektif, terdapat dua buah kubu perspektif dalam dunia Hubungan Internasional. Kubu pertama adalah kubu Rasionalis. Kubu ini memiliki kecenderungan untuk merasionalkan segala sesuatu. Mengapa kubu Rasionalis memiliki kecenderungan tersebut? Kubu Rasionalis, dalam praktek pengimplementasiannya, memisahkan manusia, sebagai subyek, dengan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitarnya, sebagai objek. Kubu Rasionalis memainkan peranan penting dalam Ilmu Hubungan Internasional, karena perspektif-perspektif tradisional mayoritas berangkat dari nilai-nilai yang dianut oleh kubu Rasionalis. Menariknya adalah seiring dengan perkembangan jaman, kubu Rasionalisme mulai diragukan keberdayaanya. Hal ini diakibatkan oleh perkembangan jaman yang begitu intens, sehingga melahirkan beragam kemungkinan baru. Muncul berbagai macam fenomena-fenomena-fenomena baru yang tidak dapat dipahami oleh kubu Rasionalisme. Perspektif Realisme dan Liberalisme, sebagai perspektif kubu Rasionalisme, adalah contoh perspektif kubu Rasionalisme, yang memahami dunia dengan pemahaman yang dapat dibilang sederhana, karena berbagai keterbatasan yang ada pada saat tersebut. Pada jaman Perang Dunia I dan II, perspektif Realisme dipandang sebagai sebuah perspektif yang dominan, sementara pada era Perang Dingin, perspektif Liberalisme menjadi perspektif yang mendominasi. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, perspektif-perspektif tradisional tersebut mulai melemah keberadaanya. Keberadaan perspektif-persepktif tradisisional tadi mulai tidak relevan dengan keadaan dunia, sehingga “perubahan-perubahan yang tengah dilakukan oleh dunia ‘politik’ membuat perkembangan pendekatan-pendekatan baru menjadi penting” (Smith 2001, 225). Dunia telah berubah menjadi sebuah kesatuan yang kompleks, dan hal tersebut membuat manusia harus berusaha mencari jalan keluar, demi meruntuhkan batasan-batasan yang ada di dunia. Kemunculan perspektif-perspektif yang berangkat dari kubu Reflektivis dipandang sebagai sebuah alternatif jalan keluar yang baik

 

Berseberangan dengan nilai-nilai yang dianut oleh kaum Rasionalis, kaum Reflektivis dengan cerdik menempatkan diri dalam dunia Ilmu Hubungan Internasional. Kaum Reflektivis berusaha mendekatkan (dan bahkan dalam beberapa contoh kasus ekstrim, menyatukan) manusia dengan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar mereka. Usaha ini membawa berbagai macam kemungkinan-kemungkinan baru bagi manusia untuk dapat lebih memahami berbagai macam fenomena yang terjadi di sekitar mereka. Batasan-batasan yang selama ini mengekang perspektif tradisional, dapat dengan perlahan diterobos oleh kaum Reflektivis. Hasil pengamatan yang didapat (sebagai tolak ukur atas keberhasilan sebuah perspektif) ternyata membawa hasil yang jauh lebih akurat, di satu sisi, dan kritis, di sisi yang lain. Tetapi perbedaan yang mencolok antara perpsektif yang menganut nilai-nilai Rasionalis dan Reflektivis ternyata membutuhkan jalan tengah. Dibutuhkan sebuah jembatan, sebuah perspektif yang mampu menengahi kutub Rasionalis dan Reflektivis yang seakan-akan sangat ekstrim dan sangat bertolak belakang. Perspektif Konstruktivisme Sosial hadir sebagai jawaban atas polemik tersebut. Perspektif konstruktivis dapat menjadi sebuah perspektif yang mampu “duduk di tengah interseksi antara pendekatan rasionalis dan reflektivis” (Smith 2001, 242).

 

Bagaimana perspektif Konstruktivisme Sosial dapat menjadi penengah antara perspektif-perspsektif Rasionalis dan Refliktivis? Jawabannya terletak pada bagaimana perspektif Konstruktivisme Sosial membangun asusmsi dasar. Perspektif Konstruktivisme Sosial tetap mengedepankan peranan dan posisi politik dunia sebagai tokoh sentral dalam dunia hubungan internasional. Asumsi ini berangkat dari asumsi yang dianut oleh kaum realis dan liberalis. Asumsi tersebut juga dikombinasikan dengan asumsi-asumsi kaum Reflektivis. Perspektif Konstruktivisme Sosial, di sisi lain, juga sangat concern terhadap keberadaan aktor non-negara, setiap tindakan dan keputusan yang diambil oleh aktor,  beserta arti identitas bagi aktor. Alexander Wendt, sebagai seorang tokoh perspektif Konstruktivis, secara gamblang mendefinisikan perspektif konstruktivis dalam artikelnya yang berjudul ‘Anarchy is What States Make of It: The Social Construction of Power Politics’. Salah satu argument terkenal yang dilontarkan oleh Wendt adalah “terdapat teori-teori sosial yang melihat jika identitas dan kepentingan para aktor tidak pernah diberikan atau given, tetapi terbentuk dari proses interaksi antar aktor tersebut” (Wendt 1992, 393-394 dalam Smith 2001, 244). Perspektif konstruktivis memandang keberadaan identitas sangatlah penting keberadaanya, karena identitas terbentuk oleh adanya proses interaksi yang berlangsung secara intens. Identitas adalah dasar bagi aktor untuk mendefinisikan kepentingan yang ingin diutarakan. Identitas dan kepentingan tersebut, menurut Wendt, akan bertransformasi menjadi ”sebuah situasi yang telah didefinisikan atau define situations” (Wendt 1992, 395-399 dalam Smith 2001, 244). Situasi tersebut, akan memunculkan sebuah proses dan upaya interaksi. Usaha interaksi  inilah yang membentuk identitas dan kepentingan para aktor. Proses interaksi ini, akan terus menerus berlangsung, sehingga membentuk sebuah “artian kolektif”. Artian kolektif akan menentukan struktur yang bertranformasi menjadi pihak pengendali setiap kebijakan dan tindakan yang diambil dan dilakukan oleh aktor-aktor terkait. Hal ini mengarahkan perspektif Konstruktivisme Sosial pada sebuah kesimpulan. Ternyata, identitas dan kepentingan bukanlah sebuah hal yang diberikan dan “ada di sana dengan sendirinya”, tetapi tidak lain dan tidak bukan adalah hasil kreasi umat manusia (pahami dengan proses konstruksi). Segala sesuatu yang dipahami, dianut, dijalankan dan disebarkan oleh umat manusia, ternyata adalah hasil dari kreasi umat manusia itu sendiri.

 

Tetapi perspektif Konsruktivisme Sosial juga tetap mendapatkan kritikan. Perspektif Konstruktivisme tidak mampu menggabungkan berbagai macam pendapat dalam satu lingkup perspektif menjadi sebuah “posisi teoritis yang satu, layaknya perspektif-perspektif berpendekatan rasionalis” (Smith 2001, 247). Sampai saat ini perspektif Konstruktivisme Sosial belum mendapatkan sebuah cara untuk menggabungkan argumen dan pendapat, dan  selanjutnya dipatenkan menjadi satu buah teori yang disetujui oleh berbagai pihak dalam satu lingkup perspektif. Upaya dekonstruksi disinyalir menjadi biang keladi kegagalan perspektif Konstruktivis untuk membangun satu teori yang dapat disetujui oleh semua pihak tersebut.

 

Perspektif Konstruktivisme Sosial hadir sebagai sebuah perspektif yang berusaha untuk memberikan alternatif atas perdebatan antar perspektif dewasa ini. Perspektif Konstruktivisme Sosial bertransformasi menjadi sebuah perspektif penengah, datang sebagai jembatan antara perspektif tradisional, yang direfleksikan dalam keberadaan dan keharidan perspektif-perspektif Rasionalis, dengan perspektif alternastif, yang direfleksikan oleh keberadaan perspektif-perspektif Reflektivis.

 

Referensi :

Smith, Steve, 2001. Reflectivist and Constructivist Approaches to International Theory, in; John Baylis & Steve Smith (eds.) The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford, pp. 224-252.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :