WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

PERSPEKTIF POLITIK HIJAU

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 28 February 2014
di TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL GENAP 2012/2013 - 0 komentar

SEBUAH PERSPEKTIF BERNAMA PERSPEKTIF POLITIK HIJAU

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Dewasa ini terdapat sebuah kecenderungan baru dalam dunia ilmu Hubungan Internasional. Kecenderungan ini berakar dari mulai dibutuhkannya perspektif-perspektif baru, yang mampu menjelaskan berbagai macam fenomena yang terjadi di belahan dunia saat ini. Perspektif-perspektif tradisional dinilai masih memiliki berbagai macam hambatan, dimana hambatan tersebut mengekang perspektif tersebut untuk mencoba memahami fenomena-fenomena baru di dunia. Fokus utama perspektif-perspektif tradisional, seperti perspektif Realisme yang terlalu menganggap penting keberadaan perang sebagai  upaya perluasan kekuasaan atau perspektif Liberalisme yang terlalu fokus pada kerjasama-kerjasama internasional, dipandang sebagai sebuah pembatas bagi perspektif-perspektif tersebut untuk berkembang. Perspektif-perspektif baru muncul, sebagai perspektif yang mencoba mendobrak berbagai hambatan yang dihadapi oleh perspektif-perspektif tradisional. Kemunculan perspektif Politik Hijau adalah salah satu jawaban atas mulai berkurangnya relevansi perspektif tradisional dengan keadaan di dunia dewasa ini.

 

Perspektif Politik Hijau hadir sebagai perspektif alternatif, perspektif yang dengan cerdik menempatkan diri sebagai perspektif yang hadir untuk menjawab berbagai permasalahan yang tidak dapat dijawab oleh perspektif-perspektif tradisional. Perspektif Politik Hijau menghadirkan fokus holistic atau menyeluruh akan dunia, dimana perspektif ini melihat sebuah “hubungan yang intim antara kehidupan manusia dengan ekosistem global” (Wardhani 2013). Maka, perspektif Politik Hijau mencoba melawan perspektif Neoliberalisme, terutama kaum-kaum kapitalis dan neolib, yang dipandang oleh kaum Hijau sebagai pihak utama yang menyebabkan ekosistem global menderita. Kaum kapitalis menjadi pihak pertama yang mendapatkan hak atas eksploitasi sumber daya alam, atas nama pencapaian keuntungan dan penggerakan kehidupan ekonomi. Maka tidak salah jika fokus utama dari perspektif Politik Hijau adalah pengedepanan ekonomi politis dan upaya penyadaran atas “ketidaksetaraan struktural yang diwariskan oleh ekonomi kapitalis modern” (Wardhani 2013). Kaum kapitalis telah, dengan kecerdikan mereka, mengekspolitasi sumber daya dan memperdaya orang-orang dengan segala tipu muslihat.

 

Perspektif Politik Hijau menantang perspektif tradisional atau orthodoks atas kebutaan mereka terhadap keberadaan peranan ekologi dalam kehidupan manusia (Wardhani 2013). Perspektif tradisional tidak menempatkan manusia sebagai fokus utama, karena perspektif tradisional membedakan manusia (sebagai subjek) dengan keadaan yang terjadi di sekitarnya (sebagai objek). Upaya pembedaan ini terus berlanjut dan keberadaan alam, sebagai tempat tinggal pertama umat manusia, keberadaanya menjadi termarjinalkan. Upaya pembedaan ini, di mata kaum Politik Hijau, adalah sebuah upaya yang salah, karena sudah selayaknya “nature” atau alam tidak boleh selamanya dikondisikan sebagai objek. Alam adalah tempat tinggal umat manusia, sehingga sudah selayaknya jika manusia harus segera memperhatikan segala sesuatu yang terjadi pada alam yang mereka tinggali selama ini. Selain hal tersebut, ternyata tidak hanya manusia yang ikut serta tinggal dalam alam, terdapat makhluk lain yang juga tinggal berdampingan dengan manusia. Makhluk-makhluk lain tersebut bisa hidup berdampingan dengan manusia, dan bahkan di satu sisi, hidup dengan cara yang jauh lebih baik daripada manusia pada umumnya. Makhluk-makhluk hidup lain tersebut dapat hidup dengan selaras dan seimbang dengan alam, dan hal ini bisa menjadi sebuah sumber pembelajaran bagi manusia ke depannya.

 

Gaya hidup manusia modern adalah sumber utama kritik kaum Politik Hijau. Berangkat dari penjelasan yang telah dijelaskan sebelumnya, gaya hidup manusia modern telah dibentuk atas asas-asas yang disebarkan oleh kaum neoliberalis. Gaya hidup manusia modern, yang sangat tidak peduli akan keberadaan alam, eksploitasi sumber daya (tuntutan atas gaya hidup kaum kapitalis) mendorong kaum Politik Hijau untuk memberikan berbagai macam koreksi mendasar. Koreksi ini tertuang dalam asumsi kontribusi perspektif Politik Hijau yang relevan dalam dunia Hubungan Internasional, “melihat fenomena hubungan antar negara dengan isu yang spesifik pada lingkungan” (Wardhani 2013). Isu-isu yang coba dihadirkan perspektif Politik Hijau berangkat dari keadaan nyata alam yang ditinggali oleh manusia sejak jaman dahulu, yang keberadaanya termarjinalkan oleh perspektif-perspektif lain.

 

Dalam pengimplementasiannya, mulai muncul berbagai macam isu-isu mengenai alam yang membutuhkan urgensitas dalam hal penyelesaian dan penanggulangan. Isu-isu tersebut hadir dan diangkat oleh perspektif Politik Hijau sebagai bukti bahwa segala perbuatan yang telah dilakukan oleh manusia, ternyata membawa dampak yang cukup serius bagi kelangsungan hidup manusia, jika hal tersebut terus menerus dibiarkan. Sebagai contoh adalah wacana mengenai global warming. Isu global warming ini perlahan terangkat menjadi isu penting karena dampak yang dihasilkan perlahan dapat dirasakan oleh seluruh umat manusia di seluruh dunia. Perubahan iklim dan cuaca, meningkatnya kejadian banjir yang diakibatkan oleh naiknya suhu air permukaan laut adalah beberapa contoh studi kasus akan keberadaan global warming. Perspektif Politik Hijau dengan cerdik mencoba mengangkat studi kasus ini sebagai main concern.

 

Muncul sebuah pertanyaan menarik akan keberadaan perspektif Politik Hijau. Banyak pihak menanyakan akan sumbangsih nyata apa yang telah diberikan oleh perspektif Politik Hijau dalam dunia Hubungan Internasional? Penerbitan sebuah persetujuan yang dinamakan dengan Protokol Kyoto, dapat dikatakan adalah sumbangsih utama perspektif Politik Hijau. Protokol Kyoto, yang bergerak di bidang lingkungan hidup, dapat berangkat dari asumsi-asumsi yang diyakini oleh kaum Politik Hijau. Bila digali lebih dalam lagi, maka akan muncul berbagai macam sumbangsih nyata yang diberikan atas keberadaan perspektif Politik Hijau.

 

Perspektif Politik Hijau hadir sebagai perspektif alternatif. Perspektif ini mencoba untuk menghadirkan berbagai macam isu-isu yang berkaitan dengan alam, yang selama ini keberadaanya, baik sengaja maupun tidak, dipinggirkan oleh berbagai macam perspektif lain. Perspektif-perspektif tersebut memarjinalkan concern terhadap alam, karena berangkat dari berbagai macam hal, dan seringkali dilatarbelakangi oleh kepentingan-kepenitngan. Perspektif Politik Hijau memberikan berbagai macam perimeter bagi umat manusia untuk kembali memahami alam, dengan jalan mendekatkan diri mereka dengan alam. Sudah selayaknya bagi umat manusia untuk lebih memahami alam, karena manusia sendiri adalah bagian dari alam, dan telah memanfaatkan alam dengan semena-mena.

 

Referensi :

Wardhani, Baiq. 2013. Green Perspective. Materi disampaikan pada kuliah Teori Hubungan Internasional. Departemen Hubungan Internasional. Universitas Airlangga. 23 Mei 2013 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :