WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

KEBERADAAN PERSPEKTIF FEMINISME dalam HUBUNGAN INTERNASIONAL

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 28 February 2014
di TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL GENAP 2012/2013 - 0 komentar

KEBERADAAN PERSPEKTIF FEMINISME dalam HUBUNGAN INTERNASIONAL

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Terdapat sebuah kecenderungan menarik dari mayoritas perspektif Ilmu Hubungan Internasional tradisional. Kecenderungan tersebut adalah kesamaan ruang lingkup dan fokus, yang didominasi demgan penekanan diri terhadap perang beserta posisi dari kedaulatan negara. Perspektif-perspektif tradisional tersebut juga dihiasi dengan upaya-upaya diplomasi dan penyelesaian konflik, semuanya berfokus pada keberadaan negara beserta kemampuan negara, tanpa begitu mempedulikan keberadaan masyarakat yang berada di dalamnya. Bisa dilihat dari bagaimana perspektif Realisme begitu memandang penting perluasan kekuasaan negara melalui upaya perang, atau bagaimana perspektif Liberalisme memandang pentingnya kooperasi dan kerja sama antar negara di dunia. Tetapi fokus negara-sentris ini perlahan dikritik keberadaanya oleh perspektif-perspektif yang baru, dengan memberikan argumen utama bahwa fokus dari perspektif tradisional telah tidak relevan dengan kondisi masa kini.  Dewasa ini kekuatan negara memang masih tidak terbantahkan posisinya, tetapi lama kelamaan beberapa porsi kekuatan negara mulai diambil oleh aktor-aktor non state, ditambah lagi dengan peran masyarakat yang perlahan semakin menguat dan signifikan keberadaanya. Salah satu perspektif yang mencoba membawa unsur masyarakat sebagai fokus utama adalah perspektif Feminisme.

 

Sejak tahun 1990an perspektif feminsime mulai memberikan kontribusi yang signifikan dalam studi Hubungan Internasional (Wardhani 2013). Masalah utama yang coba diangkat oleh perspektif Feminisme adalah adanya ketidaksetaraan hak antara kaum lelaki dengan kaum wanita, dan mereka menginginkan adanya kesetaraan antara kaum lelaki dengan kaum wanita dalam berbagai aspek kehidupan. Perspektif Feminisme menitikberatkan fokus mereka pada gender, yang mengarah pada pola perilaku dan harapan perilaku bagi masing-masing jenis kelamin, yang semuanya dipelajari dalam konteks sosial. Terdapat sebuah perbedaan mencolok antara maskulinitas (yang didominasi oleh adanya rasionalitas, ambition-driven, dan power-based) dengan feminitas yang mengedepankan keputusan berdasarkan emosi dan kelemah-lembutan. J. Ann Ticker memberikan sebuah argumen terkenal, yaitu “International relation is man’s world and world of power and conflict”. J Ann Ticker melihat bahwa dunia hubungan internasional adalah dunia milik kaum lelaki dengan semua kapabilitas dan kekuatan mereka. Kaum lelaki memiliki power untuk menyelesaikan konflik yang tengah terjadi di dunia, dimana kedua hal tersebut menjadi  privilege mereka, sehingga kaum wanita menjadi tidak berdaya dan tidak memiliki wadah untuk turut serta dalam dunia politik.

 

Menariknya, perspektif feminisme melihat dunia dengan cara pandang yang berbeda, setidaknya melalui pandangan mereka. Hal ini didasari pada bagaimana perspektif Feminisme memberikan fokus, sekaligus juga dapat dipahami sebagai kritik utama yang dilontarkan kaum Feminis. Fokus tersebut adalah adanya kecenderungan akan kemunculan aktor-aktor non negara, pemberian fokus terhadap kaum-kaum yang temarjinalkan dan adanya kebutuhan untuk mencari konseptualisasi alternatif mengenai “power” (Wardhani 2013).

 

Tetapi pada kenyataanya perspektif Feminisme juga tak luput dari kritik dan kecaman.  Perspektif Feminis masih dianggap belum mampu menempatkan masyarakat untuk menjadi fokus utama, sehingga dirasa masih negara-sentris. Mungkin dalam beberapa hal, kaum Feminis mampu menghadirkan beberapa problem yang terkait dengan dunia wanita, tetapi dalam implementasinya tetap terbentur dengan berbagai macam batasan-batasan yang dihadirkan oleh dunia. Hal ini terlihat dari bagaimana perspektif Feminisme memberikan argumen-argumen terhadap proses kehidupan, seperti tidak adanya fasilitas yang memadai bagi wanita untuk ikut serta dan memberikan andil dalam dunia perpolitikan. Tetap saja segala bentuk kritikan yang dilayangkan oleh kaum Feminis hanya sebatas pada tingkatan negara saja. Selain itu, penitik-beratan fokus kaum Feminis terhadap kelangsungan hidup kaum wanita masih dianggap sebagai sebuah hal yang utopis, karena masih banyak hal di luar sana yang membutuhkan fokus yang jauh lebih intens. Kemudian jika berbicara mengenai upaya-upaya apa yang telah dilakukan kaum Feminis, maka hasil yang dapat dilihat masih tidak dapat dikatakan membanggakan. Pola-pola perjuangan yang dilakukan oleh kaum Feminis masih belum mampu menghadirkan dampak perubahan yang signifikan. Jika ditelusuri lebih lanjut, maka dapat dilihat bahwa dunia internasional sendiri yang memang tidak memberikan ruang bagi perpektif Feminisme untuk “bertumbuh kembang”. Bisa dilihat dari bagaimana belahan dunia ketiga yang begitu mengesampingkan posisi wanita, karena wanita dianggap sebagai makhluk lemah, tak berdaya dan selamanya harus memosisikan diri di bawah bayang-bayang kaum lelaki.

 

Perspektif Feminisme membawa angin segar dalam studi Hubungan Internasional. Kaum feminis mencoba untuk menghadirkan fokus yang berbeda dengan perspektif-perspektif lain. Perspektif Feminisme mengangkat keberadaan dan harkat wanita, sehingga wanita mendapatkan posisi yang setara dengan kaum lelaki.

 

Referensi :

Wardhani, Baiq. 2013. Feminisme. Materi disampaikan pada kuliah Teori Hubungan Internasional. Departemen Hubungan Internasional. Universitas Airlangga. 16 Mei 2013 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :