WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

POSTMODERNISME, JEMBATAN dari yang LAMA MENUJU ERA BARU

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 28 February 2014
di TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL GENAP 2012/2013 - 0 komentar

POSTMODERNISME, JEMBATAN dari yang LAMA MENUJU ERA BARU

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021 (KELAS A)

 

Bila membahas tentang Postmodernisme, akan muncul berbagai macam fakta-fakta menarik. Tetapi sebelum melangkah lebih jauh, ada baikya jika memahami melalui kata per kata, satu per satu. Post memang memiliki arti harafiah sebagai setelah, tetapi dalam ilmu Hubungan Internasional, arti katanya jadi berubah. Post dalam ilmu Hubungan Internasional memiliki arti sebagai hasil dari dekonstruksi (Wardhani 2013). Dekonstruksi adalah proses membongkar dan menghancurkan sebuah pandangan, kemudian dibangun kembali untuk membentuk pengertian baru. Sedangkan Modernitas memiliki artian sebagai sebuah kelompok yang ketinggalan jaman, hal ini disebabkan karena kelompok ini hidup pada abad ke 20-an. Ternyata, kaum Modernitas dianggap memiliki banyak kekurangan, sehingga hal ini menjadi dasar bagi kaum Postmodern untuk melayangkan kritik. Kritikan utama dari kaum Postmodern adalah bahwa dunia telah melewati zaman modern. Kaum Postmodern melihat bahwa sudah saatnya meninggalkan cara-cara berpikir kaum Modern yang tidak relevan lagi, sebagai contoh adalah meninggalkan gereja sebagai sosok sentral dalam pemerintahan. Kritikan ini pun dibantu dengan keberadaan nilai utama kaum Posmodern, yaitu seeing is believing (Wardhani 2013). Dibutuhkan keabsahan bukti yang nyata demi tercapainya sebuah kebenaran.

 

Perspektif Postmodernisme melihat sebuah kecenderungan bahwa dunia harus meninggalkan identitas metafisik (Wardhani 2013). Metafisik memiliki artian sebagai sesuatu yang tidak kelihatan, dan hal ini bertentangan dengan nilai yang dianut kaum Postmodern. Merujuk pada penjelasan nilai seeing is believing, segala sesuatu harus dirasakan langsung oleh subyek yang mengamati. Harus ada keabsahan bukti jika ingin memfaktakan sebuah fenomena atau peristiwa.

 

Tetapi dalam kemunculannya sebagai perspektif, perspektif Postmodern membawa beberapa masalah. Salah satunya adalah masalah Post-Colonialism. Kolonialismne adalah hasil dari modernitas, dan faktanya hal ini membawa lebih banyak kesengsaraan, terlebih lagi bagi negara-negara yang terjajah. Kemudian muncul masalah lain yaitu Post-Industrialism. Perubahan dari sistem pekerja yang padat karya menjadi padat modal (mekanisasi industri) ternyata membawa dampak tersendiri. Kaum-kaum buruh tidak mendapatkan pekerjaan, sehingga membawa mereka kedalam jurang pengangguran. Great Depression pada tahun 1933, adalah bukti nyata dampak Post-Industrialism bagi dunia (Wardhani 2013). Masalah lain adalah Post-Feminism. Post-Feminism mncul sebagai sebuah gerakan melawan kedigdayaan kaum lelaki. Dibutuhkan adanya sebuah kesetaraan posisi dan porsi bagi seorang perempuan.

 

Tetapi faktor utama kemunculan kaum Post-Modernisme berawal dari keprihatinan ilmu pengetahuan atau knowledge yang dianut pada abad 20 dan sebelumnya (Wardhani, 2013). Pengetahuan pada masa abad 20 lebih mengarah kepada pengetahuan deceptive. Pengetahuan deseptif memiliki latar belakang yang tidak netral, ada agenda tertentu di belakangnya. Hal ini tentu tidak lepas dari upaya-upaya kaum penguasa, yang memberikan nilai-nilai pengetahuan dengan nilai-nilai yang sengaja dibentuk oleh kaum penguasa. Kesengajaan ini sengaja dibentuk dikarenakan ilmu pengetahuan, bagi kaum postmodernis adalah sumber dan hasil dari power.

 

Sehingga kaum postmodernis memiliki sebuah teori untuk menyangsikan keabsahan sebuah ilmu. Teori ini adalah double reading (Wardhani 2013). Pertama kali yang harus dilakukan untuk memahami sebuah ilmu adalah memahami berbagai fenomena yang terjadi di dalam ilmu pengetahuan tersebut. Karena pada dasarnya sebuah ilmu pengetahuan memiliki berbagai macam fenomena yang terjadi di dalamnya, maka subyek harus memahami fenomena mana yang relevan dengan fokus kajian subyek. Setelah proses memahami fenomena, barulah subyek bisa beranjak menuju konstruksi pemikiran. Paradigma subyek akan menentukan bagaimana subyek akan melihat kecenderungan ilmu pengetahuan, dan sekaligus membangun bagaimana seorang subyek memikirkan dasar-dasar cara berpikir subyek terhadap sebuah isu, dihadapkan dengan ilmu pengetahuan terkait. Barulah subyek dapat diharapkan mampu menjadi individu yang kritis dan mampu mengdekonstruksi berbagai macam fenomena.

 

Berkaitan dengan cirri-ciri, Perspektif Posmodernisme memiliki kesamaan dengan kaum Post-Positivisme. Ciri pertama adalah fokus mengenai kontroversi mengenai humanities dan socialsciences. Kemanusiaan menjadi fokus utama, dan hal ini terefleksikan dalam bahasan mengenai kelas, ras, dan terutama jenis kelamin. Ciri kedua adalah kecenderungan untuk melawan nilai-nilai yang dianggap tidak relevan dengan kehidupan nyata. Salah satu contoh nyata adalah mengenai kritik terhadap model ilmu pengetahuan yang dianut pada jaman sebelum abad 20. Ciri ketiga adalah kecenderungan untuk memahami segala sesuatu tidak melalui hanya satu cara pandang saja. Hal ini menunjukan jika Perspektif Postmodernisme adalah Perspektif yang bersifat Intertextual (Wardhani 2013). Dibutuhkan berbagai macam teks untuk memahami sebuah fenomena, agar mendapatkan keabsahan bukti yang dinilai otentik. Ciri keempat adalah  kaum Postmodernis memiliki sifat self-reflextive (Wardhani 2013). Untuk memahami sebuah kejadian, seringkali sang subyek harus memahami keadaan yang terjadi. Subyek harus benar-benar menyelami fokus utama, dan seringkali subyek harus ‘bermain peran’, benar-benar menjadi obyek yang ingin di observasi. Ciri ke lima adalah Pastiche (Wardhani 2013). Perspektif Postmodernisme mencampuradukan berbagai macam nilai, sehingga harapanya akan tercipta sintesis nilai dari ilmu pengetahuan. Ciri keenam adalah perspektif Posmodernis mengalami fragmentasi dan diskontinuitas. Ciri ketujuh adalah postmodernisme berusaha melepaskan dari fokus Marxisme dan Strukturialisme.

 

Kesimpulanya adalah Perspektif Postmodernisme adalah kritikan keras terhadap kaum Modern. Kritikan ini muncul dari kekecewaan kaum Postmodern terhadap keberadaan ilmu pengetahuan yang dianut pada abad-abad 20 dan sebelumnya. Ilmu pengetahuan diposisikan sebagai representasi dari power. Jika ilmu pengetahuan sengaja dibentuk oleh kaum penguasa, maka yang ditakutkan adalah ilmu pengetahuan yang dianut adalah ilmu pengetahuan yang salah. Perspektif Posmodernisme hadir dalam rangka untuk memberikan jalan baru. Melalui jalan dekonstruksi, akan tercapai sebuah definisi baru mengenai ilmu pengetahuan, yang betul-betul netral dari campur tangan kaum-kaum yang memiliki kepentingan. Kemampuan dekonstruksi juga akan melatih individu untuk selalu berpikir kritis dan mencari jalan baru menuju kesempurnaan.

 

Referensi :

Wardhani , Baiq. 2013. Postmodernism Theory. Materi Dibahas dan Didiskusikan Pada Kuliah Teori Ilmu Hubungan Internasional, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga. 2 Mei  2013

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :