WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

KELOMPOK EPISTEMIK dalam REZIM

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 28 May 2013
di REZIM GENAP 2012/2013 - 0 komentar

KEBERADAAN dan PENGARUH KELOMPOK EPISTEMIK di dalam REZIM

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

            Apa dasar sebuah negara mengikuti sebuah rezim? Tentu saja adalah terbukanya ruang bagi negara tersebut untuk mengekspresikan kepentingannya. Langkah selanjutnya adalah bagaimana negara tersebut bekerja bersama dengan negara lain, tentu saja didasari dengan kepentingan yang sama, untuk meraup keuntungan semaksimal mungkin dengan usaha pengeluaran seminimal mungkin. Konteks pengejaran kepentingan menjadi poin sakral karena dianggap sebagai poin evaluasi apakah rezim bersangkutan dapat dikatakan efektif atau tidak. Sebuah rezim dianggap berhasil jika mampu mendistribusikan keuntungan secara merata kepada setiap aktor yang rela untuk mengikutsertakan diri mereka di dalam rezim bersangkutan. Tetapi dalam implementasi ekpresi kepentingan ini, dibutuhkan keberanian aktor untuk mengekspresikan kepentingan mereka di dalam rezim. Lantas, jika ada negara yang tidak mampu mengekspresikan kepentingan mereka, apa yang akan terjadi? Apakah mungkin negara tersebut menjadi tidak berdaya, dan menjadi terpaksa dalam mengikuti rezim tersebut? Bagaimana dengan variabel penghitungan keuntungan dan pengeluaran, yang selama ini menjadi faktor utama sebuah negara untuk rela mengikuti sebuah rezim?  

            Tidak menutup kemungkinan jika ada negara-negara tertentu yang tidak berani untuk mengemukakan kepentingan mereka di dalam sebuah rezim. Mayoritas negara tersebut bisa jadi berangkat dari negara-negara dengan power yang lemah, seperti halnya negara-negara periphery. Negara-negara ini mungkin harus berpikir dua kali dalam hal pengekspresian kepentingan, karena banyak faktor yang dapat menekan mereka. Negara-negara adikuasa, negara core, yang memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan dan sumber daya, pasti memiliki posisi dan kekuatan untuk menekan negara-negara kecil tersebut. Disinilah peranan komunitas epistemic menjadi sangat signifikan. Peter M. Haas (1989) menganalogikan beberapa negara yang beliau nilai tidak mampu mendefinisikan kepentingan mereka mengikuti rezim, karena hal ini dilatarbelakangi oleh ketidak-mampuan mereka untuk mendefinisikan kepentingan nasional negara mereka sendiri. Jika hal tersebut sampai terjadi, maka negara bersangkutan bisa meminta bantuan kepada komunitas epistemic (Haas 1989). Komunitas ini berisikan para orang pintar, atau bisa disebut sebagai pakar, dimana keberadaan mereka diyakini mampu memberikan perubahan dan dampak signifikan terhadap negara-negara lemah tadi. Bahkan dalam tahapan yang lebih lanjut, komunitas epistemic dapat bertranformasi menjadi ahli strategi, komunitas tersebut dapat memberikan berbagai macam keputusan bagi negara untuk bertindak.

            Haas menganalogikan komunitas epistemic layaknya sebuah jejaring pihak-pihak transnasional yang memiliki peranan yang signifikan dalam dunia rezim internasional. Komunitas epistemic, yang dikatakan oleh Haas adalah sebuah jejaring pihak transnasional, ternyata berisikan akademisi dan praktisi yang handal dan cakap dalam beberapa bidang tertentu. Kecakapan mereka dalam beberapa bidang tertentu inilah yang dinilai sejalan dengan keberadaan rezim, yang.memang hanya berfokus pada satu area saja (isu yang spesifik).

            Lantas, apa yang melatarbelakangi kemunculan kaum epistemis dalam sebuah rezim? Hal pertama adalah dibutuhkannya kaum-kaum yang memiliki akses atas ilmu pengetahuan, yang diras mampu menghadapi masalah yang muncul. Masalah-masalah tersebut muncul bisa karena ulah manusia atau di luar kendali manusia, tetapi seringkali masalah tersebut memang disebabkan oleh manusia sendiri. Masalah-masalah tersebut semakin berkembang dan semakin kompleks. Hal ini memicu kemunculan poin kedua dari kemunculan kaum epistemis. Mereka melihat jika kompleksitas yang muncul memiliki hubungan dengan bertambahnya aktor di dunia. Seperti yang telah diketahui bersama, jumlah negara setelah Perang Dunia I dan II semakin bertambah jumlahnya, dan hal ini menambah rumit jalannya kehidupan rezim. Sehingga poin kedua menjadi background kemunculan poin ketiga, yaitu peran negara sebagai penentu kebijakan dalam hal pemeneuhan keuntungan semakin tak terbantahkan. Ketiga negara menjadi penentu utama kebijakan, maka negara akan menajdi tokoh sentral. Sayangnya, ada beberapa neagra yang ternyata tidak siap dengan hal ini. Ketiga hal tersebut menjadi latar belakang mengapa kaum epistemis muncul.

            Kemunculan kaum epistemis membawa angin segar bagi negara-negara yang posisinya sedikit lemah. Negara-negara tersebut mendapatkan intimidasi dari negara-negara yang posisinya lebih kat, sehingga tidak dapat dengan bebas mengekspresikan kepentingan mereka. Kaum epistemis memberikan jalan bagi negara-negara dengan posisi yang dinilai tidak menguntungkan ini, untuk mengekspresikan kepentingan mereka dalam sebuah rezim.

 

Referensi :

Peter M. Haas, 1989, “Do Regimes Matter? Epistemic Communities and Mediterranean Pollution Control”, International Organnization, Vol. 43, No. 3, (Summer 1989), pp. 377-403

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :