WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

KAITAN ANTARA BUDAYA NASIONAL dan PENENTUAN KEBIJAKAN

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 22 May 2013
di STUDI STRATEGI INDONESIA 1 GENAP 2012/2013 - 0 komentar

KAITAN ANTARA BUDAYA NASIONAL dengan PENENTUAN KEBIJAKAN

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

            Dapat dikatakan jika Indonesia adalah negara yang unik. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang heterogen dan majemuk, tetapi dalam prakteknya masih terdapat rasa saling menghargai dan saling menghormati antar warga negara, terlebih lagi dengan perbedaan nilai kebudayaan yang dianut oleh masing-masing warga negara. Sudah menjadi rahasia umum jika negara Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, bangsa, ras, dan kepercayaan, dan berbagai macam aspek tersebut akan membentuk keberagaman yang betul-betul membuat negara Indonesia berbeda dengan negara-negara lain di dunia. Tetapi terdapat kecenderungan yang menarik, dimana kebudayaan yang berbeda-beda ini mampu bersinergi dengan baik. Dapat dikatakan jika budaya-budaya ini mampu bersinergi dengan baik karena andil dari kebudayaan nasional. Kebudayaan nasional menyatukan berbagai macam budaya-budaya yang ada di Indonesia dan kebudayaan nasional inilah yang membentuk rasa saling menghormati dan saling menghargai antar warga negara. Hal ini disebabkan oleh kemampuan budaya nasional meng-cover nilai-nilai kebudayaan-kebudayaan primordialistik, budaya-budaya bawaan masing-masing warga negara dan menyatukan kebudayaan tersebut menjadi satu kebudayan yang benar-benar mampu mengayomi keberadaan kebudayaan-kebudayaan primordialistik tadi. Lantas, budaya nasional apa yang benar-benar mencerminkan karakter orang Indonesia secara umum? Apakah budaya nasional memiliki andil besar dalam usaha pengambilan kebijakan?

            Salah satu budaya nasional yang terkenal adalah gotong royong. John R. Bowen memahami nilai gotong royong sebagai mutual and reciprocal assistance (Bowen 1986, 545). Gotong royong, bagi Bowen, adalah sebuah upaya membantu yang dilakukan oleh masyarakat, dimana upaya saling membantu tersebut akan membawa keuntungan bagi semua pihak. Budaya ini telah ada sejak jaman dahulu, dan dianut oleh masyarakat Indonesia yang dipertahankan hingga sekarang. Pada jaman dahulu nilai gotong royong juga dikenal dengan sebutan gugur gunung. Gugur gunung adalah sebuah kiasan yang memiliki arti kegotong-royongan masyarakat yang begitu kuat dan masif, sehingga mampu membuat gunung yang besar pun gugur karena kekuatan masyarakat yang jika disatukan akan menjadi sangat besar. Nilai gotong royong telah ada dari jaman sebelum kerajaan Kutai dan tetap berlangsung sampai sekarang. Dan menariknya nilai gotong-royong telah menjadi budaya operator di Indonesia yang membentuk rupa masyarakat Indonesia. Sehingga kaitannya dengan proses pengambilan keputusan adalah “setiap ide dan atau program baru harus melalui kontibusi gotong-royong” (Bowen 1986, 545). Setiap keputusan yang dinilai strategis harus berdasarkan nilai gotong royong, karena nilai gotong royong telah menjadi kebudayaan nasional dan keberadaanya tidak terbantahkan.

            Mantan Presiden Indonesia, yaitu Abdurrahman Wahid memiliki pendapat lain. Beliau melihat jika terdapat kebudayaan nasional, yang nilainya disebut sebagai sesuatu yang paling Indonesia, di antara semua nilai yang dianut warga negara Indonesia. Nilai tersebut memiliki wujud sebagai upaya pencarian tak berkesudahan akan perubahan sosial tanpa memutuskan sama sekali dengan ikatan masa lampau (Abdurrahman 1981, 7). Nilai yang dapat disebut sebagai pencarian harmoni ini mendefinisikan upaya manusia Indonesia yang selalu menginginkan adanya perkembangan cara hidup bangsa. Perkembangan ini harus mendapatkan lajur, sebuah jalan baru sebagai upaya realisasi perubahan, tetapi upaya tersebut tidak boleh menghancurkan jalan lama, jalan yang telah ada. Perubahan yang terjadi di dalam struktur masyarakat Indonesia harus memiliki sifat dinamis dan menyempurnakan apa yang telah ada, tetapi tidak boleh sama sekali menghilangkan nilai-nilai yang telah ada sebelumnya. Setiap keputusan strategis harus memiliki sifat mampu menyempurnakan keputusan-keputusan yang ada sebelumnya, tetapi keputusan-keputusan yang telah diambil tersebut dapat dijadikan sebagai evaluasi dan rujukan untuk proses penyempurnaan keputusan-keputusan yang akan diambil kelak.

            Abdurrahman Wahid juga melihat kemunculan budaya nasional lain. Terdapat sebuah kecenderungan akan semakin kaburnya batasan antara keberadaan negara (dalam hal ini nilai demokrasi dalam pemerintahan) dengan ideologi agama (dalam hal ini nilai-nilai agama Islam sebagai agama mayoritas yang dipeluk oleh masyarakat Indonesia). Kedua aspek terebut saling berkaitan dan saling melengkapi satu sama lain. Negara Indonesia dapat menjadi contoh sinergi antara kehidupan politik yang demokratis dengan cara hidup ideologi Islam. Tetapi meskipun agama memiliki peran penting dalam penyebar nilai-nilai sosial dan moral, tetapi arena politik harus tetap berjalan dalam kerangka politik (Wahid 2001, 28). Setiap keputusan strategis yang diambil harus memiliki sumber rujukan moral dan sosial dari ideologi agama (entah agama Islam atau agama lain), karena nilai-nilai ideologi agama pada dasarnya baik dan dapat menjadi sumber rujukan yang bijaksana. Tetapi jika keputusan tersebut memiliki muatan politis, maka langkah yang harus diambil adalah memisahkan keputusan tersebut dengan ideologi-ideologi agama, tetapi ideologi agama dapat dijadikan rujukan mengenai dampak dari keputusan yang akan diambil.

            Sebetulnya masih terdapat kebudayaan-kebudayaan nasional lain, seperti tepa slira ataupun kerja bakti, tetapi setiap kebudayaan nasional tersebut ternyata memiliki andil besar dalam upaya pengambilan keputusan strategis. Kebudayaan nasional dapat menjadi rujukan untuk setiap proses pengambilan keputusan. Identitas bangsa Indonesia akan semakin kuat dengan sokongan dan bantuan dari keberadaan budaya nasional. Demi menyongsong masa depan yang lebih baik, penentuan kebiijakan strategis harus tetap merujuk pada nilai-nilai dalam kebudayan nasional.

 

Referensi :

Bowen, John R.. 1986. “On The Political Construction of The Tradition: Gotong Royong in Indonesia", dalam Journal Of Asian Studies, Vol. XLV, No. 3, pp. 545-560

Wahid, Abdurrahman. 1981. “Nilai-Nilai Indonesia: Apakah Keberadaannya Kini?”. Dalam Prisma, No. 11, Th. X, hal. 3-8

Wahid, Abdurrahman, K. H.. 2001. “Indonesia’s Mild Secularism”. Dalam Sais Review, Vol. XXI, No. 2, hal. 25-28

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :