WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

PERGOLAKAN dalam REZIM

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 21 May 2013
di REZIM GENAP 2012/2013 - 0 komentar

PERGOLAKAN dalam sebuah REZIM INTERNASIONAL

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

           Dalam upaya memahami keberadaan rezim internasional dalam lingkup hubungan internasional, para praktisi rezim berusaha untuk mengaitkan pola perilaku aktor di dalam sebuah rezim dengan kumpulan kepentingan para aktor di dalam rezim tersebut. Aktor-aktor di dalam sebuah rezim tentu telah memikirkan secara matang bagaimana dampak dan konsekuensi keikutsertaan mereka dalam sebuah rezim. Maka tidak salah jika pada kenyataanya, rezim internasional akan selalu bergerak dan berubah, mengikuti perkembangan jaman dan pergolakan yang terjadi antar aktor di dalam rezim tersebut. Oran Young pun, sebagai praktisi dalam dunia rezim internasional, melihat keberadaan rezim dengan cara pandang yang relatif sama. Beliau menuturkan jika rezim internasional adalah human artifact, hasil dari sebuah kontruksi manusia (Young 1982). Hal ini terefleksikan dalam dinamika atau pergolakan yang terjadi di dalam sebuah rezim. Dinamika tersebut terjadi karena adanya konstruksi dari manusia, yang dalam implementasinya melibatkan campur tangan para aktor (sebagai representasi manusia di dalam rezim) untuk mencapai sebuah kesepekatan di dalam rezim, dalam konteks pemenuhan kepentingan para aktor.

            Seperti yang telah dijelaskan, rezim selalu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang tengah terjadi di dunia. Usaha untuk menyesuaikan diri ini sesuai dengan dinamika yang terjadi di dalam rezim, dimana dinamika tersebut memiliki tujuan sebagai pemenuhan kepentingan para aktor di dalam rezim. Oran Young melihat kecenderungan tersebut melalui tiga buah poin. Poin pertama adalah adanya spontatenous order dalam sebuah rezim. Spontaneous order adalah kumpulan tindakan aktor di dalam sebuah rezim yang didasari oleh spontanitas para aktor untuk mengambil tindakan. Tidak terdapat perencanaan, dimana dalam tingkatan koordinasi, tidak terlihat adanya kecenderungan koordinasi yang baik antar pihak-pihak terkait. Sehingga dalam realitanya aktor di dalam rezim bersangkutan tidak terikat melalui perjanjian eksplisit. Hal tersebut ternyata mempengaruhi dalam hal biaya, karena menurut pengamatan Young para aktor tidak perlu mengeluarkan biaya transaksi yang tinggi, tidak memerlukan syarat-syarat prosedural, sehingga para aktor tidak perlu mengkhawatirkan posisi mereka di dalam rezim bersangkutan (Young 1982, 283).

            Poin kedua adalah negotiated orders. Poin ini memfokuskan diri pada upaya-upaya negosiasi yang dilakukan atau ditempuh para aktor di dalam rezim. Negosiasi yang ditempuh harus tetap berfokus pada isu-isu spesifik, yang menjadi fokus utama rezim tersebut. Poin negotiated order mencoba menjelaskan kaitan antara kemampuan pengambilan keputusan (dalam hal ini adalah pengambilan tindakan oleh para aktor) dengan tingkatan kesadaran aktor. Para aktor menyadari keberadaan mereka dalam fokus dalam sebuah isu terkait. Rezim yang memiliki asas negotiated order ini memainkan peranan penting dalam dunia politik internasional, karena banyak rezim di dunia yang menganut poin ini dalam rezim yang mereka ikuti.. Oran Young mengatakan jika negotiated orders membutuhkan biaya transaksi yang tinggi (high transactional costs) dan persetujuan atas kesepakatan eksplisit di dalam rezim (Young 1982). Poin terakhir adalah imposed orders. Poin ini mencoba memahami keberadaan rezim melalui adanya aktor dominan dalam rezim bersangkutan. Akibat keberadaan aktor dominan dalam rezim, keberadaan aktor tersebut akan sangat mempengaruhi jalannya rezim. Hal ini terlihat melalui “adanya unsur paksaan, kooptasi, dan manipulasi yang insentif oleh aktor dominan kepada aktor-aktor yang dianggap subordinat” (Young 1982, 284). Tetapi meskipun posisi aktor subordinat dinilai lemah di dalam rezim, aktor-aktor tersebut pasti telah memperhitungkan keuntungan-keuntungan yang dapat dicapai melalui keikutsertaan mereka dalam rezim. Sehingga tidak mungkin jika aktor-aktor subordinat tersebut mau mengikuti rezim tanpa mendapatkan keuntungan yang dianggap sepadan.

            Semua rezim di dunia akan berusaha untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan keadaan dunia. Upaya adaptasi ini akan dibarengi dengan kemunculan dinamika di dalam rezim bersangkutan. Dinamika ini akan lumrah terjadi karena adanya upaya-upaya dari para aktor untuk membuat rezim yang mereka ikuti dapat menyesuaikan diri dengan isu dan permasalahan yang tengah menjadi fokus utama rezim.

Referensi :

Oran R. Young, 1982, “Regime Dynamics: The Rise and Fall of International Regimes”, International Organization, Vol. 36, No. 2, International Regimes (Spring, 1982), pp.277-297

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :