WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

EFEKTIVITAS dalam REZIM

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 13 May 2013
di REZIM GENAP 2012/2013 - 0 komentar

EFEKTIVITAS dalam SEBUAH REZIM, ISAPAN JEMPOL BELAKA?

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

            Telah diketahui bersama jika rezim adalah fasilitator kerjasama aktor-aktor dalam  lingkup hubungan internasional. Rezim-rezim seperti WTO (World Trade Order) dan IMF (International Monetary Fund) memberikan serangkaian aturan main dan batasan-batasan bagi aktor untuk mengutarakan kepentingan mereka di dalam rezim bersangkutan. Tetapi dalam perkembanganya rezim internasional perlahan memperluas fokus, tidak hanya berhenti dalam lingkup dan konteks perjanjian antar aktor (dalam hal ini negara pada umumnya). Rezim internasional pun sekarang telah berfokus pada aspek permasalahan lingkungan hidup. Perjanjian Protokol Kyoto, yang dilayangkan untuk United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC) adalah bukti nyata perluasan aspek fokus rezim internasional. Tetapi di sisi lain, peran negara di dalam sebuah rezim lingkungan tidak membawa keuntungan (Hurrel dan Kingbury 2006). Hal ini berbeda dengan rezim-rezim seperti WTO dan IMF yang terlihat sepak terjang dan dampaknya bagi dunia, khususnya dalam hubungan internasional. Nyatanya sampai sekarang Amerika Serikat tidak segera meratifikasi isi dari Protokol Kyoto, sehingga efektivitas rezim lingkungan menjadi disangsikan, terlebih lagi dipertanyakan keberadaanya. Apakah benar semua rezim internasional efektif?

            Fakta berbicara jika analisis dalam rezim internasional tidak selamanya concern pada satu hal saja. Memang benar jika rezim internasional hanyalah berbicara dalam sebuah specific issue area (area isu yang spesifik), tetapi rezim juga membahas berbagai hal yang bersangkutan dengan isu spesifik yang menjadi fokus dari rezim tersebut. Hal ini diperkuat melalui pandangan Levy et al. (1991) “analisis efektivitas rezim memberikan kontirbusi yang siginfikan dalam hal pengurangan atau pemecahan masalah dalam sebuah specific-issue area” (Stoke 2006). Efektivitas sebuah rezim tetap harus dilihat berdasarkan kemampuan sebuah rezim membahas area isu yang spesifik. Underdal dan Young menambahkan “analisis rezim berfokus pada organisasi kelembagaan yang tergabung di dalam rezim terhadap tatanan dunia, pola dominasi internasional, kohesi regional, kondisi dalam pencapaian perdamaian” (Stoke 2006). Melalui berbagai perimeter tersebut, dapat dilihat jika memang efektivitas dalam sebuah rezim lingkungan dapat disangsikan, tetapi pada dasarnya rezim lingkungan dapat berjalan dengan baik, jika terdapat peraturan-peraturan yang mengikat dan memberikan batasan-batasan yang jelas. Efektivitas yang dibarengi dengan peraturan, hal inilah yang dirasa kurang dari berbagai macam rezim lingkungan yang ada di dunia saat ini.

 

            Rezim yang bertemakan lingkungan hidup akan selalu mendapat tantangan, terlebih lagi dalam lingkup efektivitas, tantangan tersebut adalah“ identifikasi bukti empiris yang digunakan dalam penyelesaian masalah” (Stoke 2006).  Bukti-bukti yang ada haruslah nyata dan dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Lalu setelah pengumpulan bukti, barulah rezim lingkungan dapat menyikapi perubahan-perubahan yang dihadapi (tidak hanya pada lingkup rezim saja, tetapi dunia secara keseluruhan). Kemudian barulah beranjak menuju perhitungan berbagai faktor, seperti efek yang ditimbulkan oleh perubahan dan dampak yang akan dirasakan oleh dunia secara keseluruhan. Setelah mampu memberikan analisa efek dan dampak, maka langkah selanjutnya adalah pencarian kebijakan alternatif, sebuah kebijakan yang mampu memberikan solusi bagi semua pihak, menguntungkan semua pihak, serta berangkat dari latar belakang dibentuknya sebuah rezim yaitu aspirasi kepentingan semua pihak dalam rezim bersangkutan dapat ter-cover dan terpenuhi. Bila semua aspek di atas dapat dijalankan, barulah sebuah rezim dapat dikatakan efektif.

            Kembali lagi pada pada pertanyaan awal, apakah semua rezim internasional dapat berfungsi secara efektif? Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan melihat keadaan nyata di lapangan. Kenyataan berkata jika rezim-rezim internasional seperti WTO dan IMF dapat berjalan dengan baik. Tetapi bagaimana dengan rezim yang bertemakan lingkungan hidup? Apakah efektivitas seperti yang terlihat dalam rezim seperti WTO juga terlihat dalam Protokol Kyoto, sebagai representasi dari rezim lingkungan hidup? Dapat dikatakan jika Protokol Kyoto efektif dalam proses pelaksanaanya, meskipun tidak efektif secara penuh. Negara berkembang yang memiliki emisi tidak terlalu tinggi mampu mendapat keuntungan dengan pembayaran oleh negara maju. Meskipun Amerika tidak segera meratifikasi perjanjian dalam Protokol Kyoto, nyatanya Protokol ini tetap berjalan sampai sekarang. Efektivitas dalam rezim boleh saja dipertanyakan, tetapi jika rezim tersebut tetap berjalan, maka dapat dikatakan jika rezim tersebut efektif dalam hal pelaksanaan.  

Referensi :

Stokke, Olav Schram. (2006). Determining the Effectiveness of International Regimes. Diakses pada tanggal 12 Mei 2012, dari: http://www.svt.ntnu.no/iss/fagkonferanse2007/intern/papers/olav.s.stokke@fni.noStokkeDetermRegimeEffectiveness.PDF

Hurrel, Andrew & Benedict Kingbury. (2006). “The International Politics of The Environment: Introduction”. dalam Dewi Utariah, The International Politics of The Environment. Diakses pada tanggal 12 Mei 2012, dari: http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/05/the_international_politics_of_the_environment.pdf

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :