WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

GLOBALISASI NEOLIBERALISME

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 12 May 2013
di PENGANTAR GLOBALISASI GENAP 2012/2013 - 0 komentar

MEMAHAMI KEBERADAAN GLOBALISASI NEOLIBERAL

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Proses globalisasi di dunia dewasa ini dapat dipahami sebagai proses penyebaran nilai-nilai neoliberal oleh Amerika Serikat. Hal ini dapat dipahami dengan kemunculan semangat individualis dan persaingan yang kompetitif di dalam seluruh sendi-sendi kehidupan kita. Amerika Serikat, dengan dominasi atas berbagai hal di dunia ini, akan dengan mudah menyebarkan nilai-nilai neoliberal, baik disadari ataupun tidak. Globalisasi neoliberal, nyatanya, membawa seperangkat perubahan. Perubahan-perubahan ini dapat dilihat dari adanya usaha-usaha informatisasi (pemberdayaan sistem teknologi informasi dalam segala hal) dan fleksibilisasi (melemahnya standar dan penghalang-pengalang dalam skala perusahaan bseserta tenaga kerja). Perubahan-perubahan tersebut akan memunculkan gejala-gejala seperti regionalisasi, dan bahkan dalam konteks yang lebih jauh, rekonfigurasi politik bagi setiap negara yang terkena paparan nilai-nilai neoliberal. Upaya-upaya penyebaran ideologi neoliberalisasi dalam berbagai pihak membawa dampak-dampak khusus, seperti deregulasi (kemunculan nilai-nilai liberalisasi dan privatisasi), marketisasi (menguatnya kekuatan pasar terhadap posisi negara), keuangan dan keamanan (aset negara yang perlahan bertranformasi menjadi instrumen yang dapat diperjual belikan) dan ideologi pemerintahan (Pieterse 2004, 1).

Organisasi-organisasi seperti WTO (World Trade Order) dan IMF (International Monetary Fund) adalah produk-produk buatan Amerika Serikat, yang meskipun keberadaanya untuk kebaikan bersama, tetap berangkat dari asas-asas neoliberalisme. Istilah-istilah seperti bisnis, uang, kebijakan-kebijakan moneter, mekanisme pasar adalah preposisi-preposisi penyusun ideologi neoliberalisme. Dan dampak paling kentara yang dapat dilihat dalam penyebaran nilai-nilai neoliberalisme adalah mulai berkurangnya kekuatan negara terhadap pihak-pihak swasta, hal ini dapat dilihat dalam mulai berkurangnya campur tangan pemerintah sebagai representasi negara) dalam dinamika perekonomian. Adam Tickell dan Jamie Pack membagi kemunculan dan perkembangan neoliberalisme kedalam dalam tiga buah fase besar : fase awal atau protoneoliberalism (1940an – 1970an) sebagai embrio neoliberalisme; fase roll-back neoliberalism (sekitar tahun 1980an) atau fase dimana neoliberalisme menjadi kebijakan yang diapaki dalam sistem pemerintahan Amerika Serikat dan Inggris, dan fase roll-out neoliberalism (pada 1990-an) ketika paham neoliberalisme menjadi paham hegemonik di dunia (Pieterse 2004, 2).

 

            Latar belakang kemunculan neoliberalisme dapat ditelusuri pada masa-masa awal,  ketika Amerika masih berbasis pada regulasi-regulasi ekonomi yang diterbitkan oleh pemerintahan nasional. Regulasi-regulasi ini membawa sistematika biaya produksi upah rendah, dimana upah pekerja sangatlah rendah, pengutamaan sistem produksi padat karya dan tingkat eksploitasi yang tinggi. Kesuksesan New Deal yang mampu memodernisasi sektor pertanian Amerika (khususnya di bagian selatan dan barat) menjadi pendorong utama bagi Amerika yang masih  memegang teguh nilai-nilai dari paham konservatif (Pieterse 2004, 4). Tetapi dalam perjalanannya strategi konservatif ini menghasilkan dampak buruk. Tingkat kompetisi dan persaingan dalam sektor industri pun perlahan menurun. Hal ini disebabkan oleh rendahnya upah yang diterima oleh buruh, sehingga pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja di Amerika Serikat sangatlah lamban. Berkaca dari kegagalan ini, Amerika menerbitkan kebijakan ekonomi baru. Kebijakan ini sedikit ‘mengurangi’ peranan pemerintah dalam kehidupan ekonomi negara, tetapi di sisi lain menambah porsi bagi pihak swasta, dengan jalan membuka pasar. Pembukaan pasar ini akan membawa semangat liberalisasi pasar modal dan ekspor Amerika, dan hal inilah yang menjadi cikal bakal pertumbuhan neoliberalisme di Amerika (Pieterse 2004, 8).

            Awal dari fase proto-neoliberalism adalah dimulainya Perang Dingin antara Amerika dan Uni Soviet. Perang ini kemudian berakhir setelah kemenangan Amerika Serikat atas Uni Soviet, dan pasca Perang Dingin Amerika mengubah strategi politik dan ekonominya menjadi lebih global. Dan bukti akan perubahan strategi ini dapat dilihat dalam kemunculan rezim keuangan global, layaknya WTO dan IMF, yang didalamnya selalu ada intervensi-intervensi dari Amerika Serikat. Mulai terbentuk aliansi anti-komunis, yang kelak akan bertransformasi menjadi jalan untuk pasar bebas, dan juga kemunculan kapitalisme. Ditambah dengan kemenangan Amerika Serikat pasca Perang Dingin membuktikan jika keamanan nasional menjadi bukan prioritas bagi seluruh negara di dunia. Terdapat kecenderungan untuk penekanan pada pengejaran perdagangan dan kerjasama dengan berbagai macam organisasi. Dan hal ini direspon dengan baik oleh Amerika. Hal ini tercermin dari kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang berusaha untuk meleburkan jarak antara kepentingan ekonomi dan keamanan nasional (dalam bentuk penggabuungan), dinilai menjadi langkah cerdas untuk meningkatkan hegemoni dan dominasi Amerika Serikat dalam konteks hubungan internasional dalam lingkup dunia global. Hegemoni Amerika ini dibantu dengan adanya privatisasi militer dengan dasar military-industrial complex, pasukan militer AS pun bertambah kuat dan dukungan tetap untuk sekutu yang strategis layaknya Israel (Pieterse 2004, 8-9).

            Tetapi dalam proses perjalanya, globalisasi neoliberalisme tidaklah selalu membawa dampak positif. Salah satu contoh dampak dari globalisasi neoliberalisme adalah kegagalan konsensus Washington. Konsensus ini tidaklah selalu membawa kemajuan bagi negara-negara berkembang, tetapi malah seringkali membawa krisis berkepanjangan bagi negara-negara tersebut, dan tidak adanya pengaturan yang baik untuk mengatasi konsekuensi globalisasi (Pieterse 2004, 13). Ketika negara-negara berkembang tidak mampu menaikkan standar mereka dengan standar yang diajukan oleh IMF dan Bank Dunia, maka yang terjadi adalah ketidaksiapan negara-negara berkembang tersebut. Tahun 1990an adalah bukti ketidak siapan negara-negara berkembang, dimana negara-negara berkembang ini mengalami krisis ekonomi besar-besaran, seperti krisis peso yang terjadi pada tahun 1995 di Mexico dan krisis Asia pada tahun 1997 (Pieterse 2004,14).

            Dalam perjalannya globalisasi neoliberalisme membawa berbagai macam perubahan bagi negara. Globalisasi neoliberalisme juga membawa berbagai dampak yang berbagai macam. Bagi negara yang tidak mampu menghadapi keberadaannya, maka globalisasi hanya akan membawa dampak negatif. Maka seringkali organisasi-organisasi melawan keberadaan neoliberalisme tumbuh di negara-negara maju, karena dinilai akan jauh lebih efektif dalam proses penyampaian aspirasi.

 

Referensi

Pieterse, Jan Nederveen. 2004. Neoliberal Empire, dalam Globalization or Empire?. London: Routledge

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :