WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

DARI GATT menuju WTO

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 08 May 2013
di REZIM GENAP 2012/2013 - 0 komentar

DARI GATT MENUJU WTO, SEBUAH CATATAN KECIL

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

  Rezim WTO (World Trade Organization) memainkan peranan penting dalam keberlangsungan kehidupan ekonomi internasional. Dan sampai saat ini WTO menjadi sebuah rezim yang memfokuskan diri untuk memberikan seperangkat aturan main (dalam bentuk regulasi dan aturan-aturan) bagi negara-negara di dunia untuk melaksanakan aktivitas ekonomi. Memang aktivitas ekonomi sangatlah luas lingkupnya, tetapi secara terperinci keberadaan rezim WTO lebih menitikberatkan pada aturan untuk melaksanakan perdagangan antar negara. Tetapi di sisi lain WTO adalah bukti nyata bahwasanya rezim dapat mengalami pergolakan (dalam bentuk dinamika). Hal ini terbukti dari proses transformasi GATT (General Agreement on Tariffs and Trade) menuju WTO yang dikenal oleh masyarakat luas sekarang. Terdapat berbagai macam alasan dibalik transformasi WTO, dan alasan-alasan ini akan diperjelas melalui serangkaian perspektif-perspektif di dalam rezim.

            Dapat dikatakan jika pada awalnya fokus utama GATT hanya terpaku pada aturan-aturan (bahkan hanya sebatas kesepahaman atau kesepakatan) mengenai perdagangan antar negara. Sehingga rezim GATT hanya bertujuan untuk fasilitator pengecualian Undang-Undang yang bersangkutan dengan ekonomi nasional, tetapi batasan yang diberikan masih belum jelas (Ford 2002). Rezim GATT belum mampu memberikan batasan mengenai perdagangan jasa yang lebih komprehensif dan luas cakupannya. Ketidakmampuan rezim GATT ini terlihat dari tidak adanya aturan yang jelas mengenai properity rights dan rules of origin. Padahal aturan mengenai properity rights dan rules of origin adalah dua hal krusial dalam urusan perdagangan, terlebih lagi dalam kaitan perdangan antar negara.

            Di dalam sebuah rezim, setiap negara yang terlibat di dalamnya memiliki kemampuan untuk mengutarakan kepentingan yang diusung ke dalam rezim tersebut. Dan bagi negara-negara kecil, keberadaan rezim GATT hanyalah representasi kepentingan negara-negara Barat yang kuat dan Amerika Serikat sebagai negara hegemon (Ford 2002, 115). Dampaknya adalah negara-negara kecil tersebut tidak dapat memainkan peranan yang signifikan di dalam rezim. Negara-negara ini hanya mendapatkan disadvantages, kerugian karena implementasi nilai-nilai dari ideologi neoliberalis, yaitu liberalisasi pertukaran barang (Ford 2002, 116). Sehingga transformasi GATT dipandang sebagai perubahan peran negara-negara kecil dalam rezim. Alasan-alasan ini dipercaya sebagai pemicu transformasi GATT menuju WTO.

            Berbicara mengenai transformasi, beberapa perspektif mencoba untuk melihat proses transformasi ini ke dalam sudut pandang yang berbeda. Perspektif Materialistis contohnya, perspektif ini melihat dari implikasi dan dampak keberadaan rezim WTO. Bagi kaum Materialis, keberadaan WTO hanyalah perpanjangan tangan kepentingan negara-negara hegemon, layaknya Amerika Serikat. Tetapi dengan perkembangan yang terjadi, baik itu di dalam maupun di luar rezim, perkembangan ini seolah-olah telah memberikan sebuah pintu kesempatan bagi negara-negara kecil untuk memainkan peranan yang jauh lebih signifikan. Teori Materialistis tidak mampu menjelaskan kecenderungan mengutanya negara-negara lemah tersebut, sehingga keberadaan teori Materialis perlahan menjadi tidak relevan, terlebh lagi dalam kaitannya menjelaskan perubahan rezim GATT menuju WTO. Kemudian terdapat juga perspektif Strukturalisme. Kaum Strukturalis memandang keberadaan rezim dengan cara pandang yang berbeda. Rezim bertindak sebagai refleksi kekuatan negara yang predominan (Ford 2002, 118). Konsep kaum Strukturalis terefleksikan dalam teori Stabilitas Hegemoni. Perubahan rezim GATT menuju WTO tidak akan merusak struktur yang ada, karena pada implementasi di lapangan tetap ada aktor yang hegemon di dalam rezim, sehingga stabilitas di dalam rezim tetaplah terjaga.

            Kaum Neorealis memandang rezim WTO dengan cara pandang yang kontras. Bagi kaum Neorealis, rezim adalah refleksi distribusi kemampuan dalam sistem internasional (Ford 2002, 118). Sistem internasional bagi kaum Neorealis adalah Anarkis, sehingga perubahan rezim bukanlah perubahan struktur, tetapi hanyalah refleksi dari keseimbangan kekuatan di dalam sistem anarkis dunia. Perubahan ini, bagi kaum Neorealis didasari dari menguatnya posisi negara-negara lemah di dalam rezim dan posisi negara hegemon yang semakin menurun. Kemudian terdapat pula perpektif Neo-Marxis. Perpektif ini memandang jika sistem ekonomi dunia didominasi oleh kapitalis global (Ford 2002, 118). Keberadaan rezim praktis hanya sebagai fasilitator bagi negara-negara core untuk memasarkan produknya ke negara periphery. Perubahan rezim GATT menuju WTO tidak akan berpengaruh terhadap keberadaan negara core dan periphery, karena sistem akan tetap didominasi oleh kapitalis global.

 

Referensi :

Ford, Jane. 2002. “A Social Theory of Trade Regime Change: GATT to WTO”, International Studies Review, Vol. 4, No. 3, USA: Blackwell Publishing. pp. 115-138

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :