WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

ORIENTASI LUAR dan DALAM

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 30 April 2013
di STUDI STRATEGI INDONESIA 1 GENAP 2012/2013 - 0 komentar

KEBIJAKAN EKONOMI, ORIENTASI KE LUAR atau KE DALAM?

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

            Indonesia mengalami pasang surut kehidupan ekonomi. Pasang surut ini terjadi ketika Orde Lama (masa kepemimpinan Soekarno), Orde Baru (masa kepemimpinan Soeharto) dan Orde Reformasi. Berbagai dinamika muncul bersamaan dalam pembabakan tiap-tiap Orde, dan dinamika ini tercermin dalam orientasi pembangunan dan ekonomi Indonesia pada tiap masa tersebut. Kita bisa melihat bagaimana orientasi ekonomi jaman Soekarno dan pada saat rezim Soeharto memainkan peranan dalam keberlangsungan kehidupan ekonomi Indonesia. Setiap orientasi yang dipilih dan dijalankan, pada gilirannya akan berdampak pada setiap aspek kehidupan. Entah dampak atau implikasi dari orientasi yang dipilih dapat membawa hal-hal positif, atau bahkan di sisi lain membawa dampak negatif, orientasi ekonomi adalah cerminan bagaimana Presiden, beserta jajarannya, mencoba untuk memilih jalan terbaik bagi Indonesia untuk melangsungkan kehidupan ekonominya.

            Masa-masa awal setelah kemerdekaan Indonesia ditandai dengan penunjukan Soekarno sebagai seorang Presiden. Soekarno adalah seorang sosok yang, dalam keberadaanya di dalam negara, sangatlah nasionalis. Hal ini dapat terlihat dari upaya beliau untuk mengusung semangat persatuan dan kesatuan. Pengaplikasian ideologi Nasakom (Nasionalis, Agamais dan Komunis) dan pemunculan ideologi Marxisme dalam kutipan pidato Soekarno “Saya Marxis, dada saya penuh dengan Marxisme (Mas’Oed 1989, 79) adalah bukti tingginya tingkatan nasionalisme dalam diri Soekarno. Sehingga tidaklah mengherankan jika orientasi kehidupan ekonomi pada rezim pemerintahan Soekarno sangat berorientasi ke dalam. Soekarno begitu ingin memajukan ekonomi domestik Indonesia, hal ini tercermin dari cara beliau memandang jika orang-orang Indonesia harus Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri). Kebijakan Presiden Soekarno begitu independen, mandiri dan bebas dari campur tangan pihak luar. Politik ‘Ganyang Malaysia’ adalah satu contoh nyata dari jiwa kritis Soekarno terhadap keberadaan campur tangan pihak luar. Lantas, apa yang terjadi selanjutnya?

            Kenyataan yang terjadi ternyata berbeda jauh dengan gambaran yang dimiliki oleh Presiden Soekarno. Dimulai dari keadaan ekonomi Indonesia yang terus menerus merosot, tidak kondusifnya iklim ekonomi di Indonesia dan berkurangnya rasa kepercayaan investor asing. Mochtar Mas’oed menggambarkan keadaan ekonomi Indonesia dengan pandangan bahwa keadaan ekonomi Indonesia sangatlah carut-marut. “…pada pertengahan 1960-an modal asing sangat langka dan sangat sulit diperoleh…” (Mas’Oed 1989, 73). Terjadi inflasi besar-besaran di Indonesia, keadaan ekonomi Indonesia semakin lesu, ditambah lagi dengan berkurangnya rasa percaya bagi investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia menandakan kegagalan sistem ekonomi Indonesia dibawah kepemimpinan Soekarno.

            Presiden Soeharto memilih mengambil alternatif jalan yang sedikit berbeda. Presiden Soeharto lebih menitik-beratkan kepada kerjasama luar negeri, pemberian porsi bagi aktor-aktor non negara (terutama bagi perusahaan-perusahaan swasta) dan penanaman modal dari pihak luar negeri (Mas’Oed 1989, 95). Sehingga dapat dikatakan jika orientasi kepemimpinan Soeharto lebih mengarah ke luar. Orientasi ke luar ini dipilih oleh Soeharto untuk mencoba memperbaiki keadaan sebelumnya (ketika Orde Lama) yang dinilai sangat carut marut, setidaknya dalam kacamata ekonomi dan pembangunan. Pertanyaanya, apakah orientasi ini dapat dikatakan, berhasil?

            Secara kasat mata kita tidak bisa menampikkan beberapa hasil positif dari penerapan orientasi ke luar a la Presiden Soeharto. Neraca perekonomian Indonesia perlahan mulai stabil, kehidupan ekonomi Indonesia perlahan terangkat. Serangkaian hasil baik lain perlahan mulai terlihat, seperti PDB (Produk Domestik Bruto) yang meningkat, kenaikan komoditi ekspor minyak dan kayu dan masih banyak hal lain. Tetapi tetap saja muncul berbagai kerugian dari implementasi orientasi ke luar a la Presiden Soeharto. Masalah pengangguran masih menjadi momok utama (bahkan hingga sekarang) dalam kehidupan ekonomi Indonesia. Kemudian kemunduran juga tetap dialami oleh pengusaha pribumi, karena iklim persaingan yang mengkondisikan mereka untuk kalah dari pengusaha-pengusaha luar, terutama kaum Cina. Dan bahkan mulai muncul tren pengusaha-klien atau pengusaha-birokrat (Mas’Oed 1989, 120). Pengusaha-pengusaha ini terbukti memiliki porsi dan kesempatan dari pengusaha-pengusaha lain, dan keberadaan mereka terbukti dapat membahayakan keberadaan pengusaha lain.

            Jika memandang keberadaan dua orientasi di atas, maka sejujurnya orientasi mana yang lebih cocok untuk diaplikasikan di Indonesia? Sejujurnya, orientasi ke luar lebih memiliki tingkatan realisme yang jauh lebih kentara. Kita tidak bisa berdiri sendiri di jaman yang sangat kooperatif dan di saat yang sama, kompetitif ini. Tetapi kita tidak boleh melupakan keberadaan keadaan domestik di dalam negara. Jika terdapat sebuah orientasi yang mampu menggabungkan kedua orientasi di atas, maka akan tercipta sebuah lingkungan ekonomi yang jauh lebih baik bagi Indonesia. Tetapi untuk saat ini, penulis lebih condong kepada orientasi ke luar. Kita semua telah hidup di dalam sebuah masa dimana kehidupan menbutuhkan bantuan orang lain. Selama-lamanya kita bisa berdiri sendiri, suatu saat kita pasti membutuhkan bantuan.

 

Referensi :

Mas’oed, Mochtar. 1989. “Stabilisasi dan Pembangunan Ekonomi yang Berorientasi ke Luar” dalam Ekonomi dan Struktur Politik Orde Baru 1966-1971. Jakarta: LP3ES, pp.59-126

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :