WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

TEORI KRITIS

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 25 April 2013
di TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL GENAP 2012/2013 - 0 komentar

TEORI KRITIS, SEBUAH POTRET SINGKAT

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021 (KELAS A)

 

            Teori Kritis dapat dibilang adalah salah satu perspektif dalam disiplin ilmu Hubungan Internasional, yang keberadaanya memiliki sifat unik. Teori Kritis berusaha untuk mendobrak keberadaan perspektif-perspektif tradiosional, tetapi di sisi lain tetap mengambil beberapa poin dari perspektif tradisional itu sendiri. Contoh konkrit adalah bukti jika Teori Kritis menyetujui ideologi-ideologi dari perspektif Marxisme. Tetapi kenyatanya Teori Kritis juga menyerang perspektif Marxisme. Bahkan menariknya di dalam Teori Kritis terjadi sebuah fenomena saling kritik, hal ini diakibatkan oleh dasar terbentuknya Teori Kritis, yaitu adanya keinginan untuk ‘terus menerus mengkritik, tetapi kritik yang dilontarkan tidak selalu bermakna negatif’ (Wardhani 2013). Teori Kritis mencoba untuk merekonstruksi perspektif-persektif tradisional, dengan jalan penyodoran kritik secara immanent (terus menerus). Kritik dianggap sebagai sebuah jalan untuk mengkritisi dan sekaligus memberi solusi.

            Teori Kritis lahir di Jerman, tepatnya di University Frankfurt am Main. Pada awalnya Teori Kritis memiliki nilai-nilai Marxisme, yang disebarkan oleh tokoh-tokoh seperti Karl Marx, Max Weber, Hegel dan Immanuel Kant. Maka Teori Kritis juga sering disebut sebagai perspektif ‘Marxis-humanisme’ atau ‘Open-Marxis’. Fokus awal Teori Kritis juga sejalan dengan fokus utama Marxisme, yaitu penghapusan ketidak-adilan. Janji-janji yang disusung oleh kaum Liberalis, ternyata dalam implementasinya tidak sesuai denga harapan. Terdapat eksploitasi berlebihan dari para pemegan modal terhadap kaum-kaum bawah. Perang yang terjadi, yang dianggap oleh kaum Realis sebagai pelebaran kekuasaan negara, nyatanya tidak membawa dampak signifikan

            Tetapi lama kelamaan fokus Teori Kritis sedikit memisah karena fokus yang berseberangan dengan perspektif Marxis. Perseberangan ini didasari karena fokus perspektif Marxis yang hanya berkutat pada permasalahan yang terjadi antara kaum Borjuis dan Proletar saja (Wardhani 2103), padahal kenyataanya terdapat berbagai macam aspek di luar kedua kaum tadi, yang jauh lebih signifikan dampakya. Sehingga Teori Kritis terus berkembang dan perlahan mulai memperluas fokus, jauh lebih lebar dari lingkup fokus dari perspektif Marxis.

            Teori Kritis berkembang dari nilai-nilai kaum behavioralis. Terdapat kecenderungan untuk melawan kaum Positivis, yang membawa asumsi bahwa ilmu itu harus bebas, dalam artian bebas nilai. Bagi kaum behavioralis, keberadaan ilmu, terlebih lagi dalam ilmu sosial, tidak dapat dipahami melalui jalan bebas nilai. Hal ini didasari oleh perbedaan dasar antara ilmu pasti atau eksak, dimana subjek dan objek dapat dipisahkan proses pemahamannya, dengan ilmu sosial, yang tidak boleh memisahkan posisi subjek dan objek sebagai bagian dalam proses pemahaman. “The facts which our senses present to us are socially performed in two ways: through the historical character of the object perceived and through the historical character of the perceiving organ. Both are not simply natural; they are shaped by human activity, and yet the individual perceives himself as receptive and passive in the act of perception” (Horkheimer 1976, 213). Semua kejadian dalam kehidupan sosial manusia memang terjadi karena keberadaan manusia itu sendiri. Tetapi jika telah berbicara mengenai bagaimana manusia mempersepsikan sesuatu, seringkali manusia memosisikan diri sebagai individu yang reseptif dan pasif. Inilah poin kritikan utama dari kaum Teori Kritis, yang memandang bahwasanya diperlukan sinergi antara objek dan subjek yang tengah diamati, umtuk mencapai hail pengamatan yang benar-benar valid. Hal ini disebabkan dari keabsahan data, karena melalui dua belah pihak.

            Teori Kritis berakar dari enlighment para tokoh-tokoh seperti Marx, Imannuel Kant dan Hegel. Sehingga dapat dipahami jika Teori Kritis mendapat berbagai macam pengaruh dari banyak tokoh. Salah seorang tokoh, yaitu seorang Andrew Linklater, beranggapan bahwa Teori Kritis haruslah merubah mindset. Perubahan mindset akan selalu sejalan dengan perubahan cara dan pola berpikir manusa. Perubanan ini nantinya dapat mengantarkan manusia untuk bebas dari aturan yang mengekang, yang membatasi manusia untuk bertindak. “Critical theory extend human capacity for determination” (Linklater 1982). Peranan Teori Kritis adalah sebagai aktor yang memperluas kapasitas manusia, untuk determinasi (memilih) serangkaian tindakan yang dapat diambil atau diperbuat. Dan jika berbicara mengenai kebebasan, maka keberadaan dari kebebasan ini tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan emansipasi. Seperti yang telah diketahui bersama, terdapat tiga asumsi emansipatori dalam disiplin ilmu Hubungan Internasional, yaitu Critical Theory, Post-Modernism dan Feminism (Wardhani 2013). Teori Kritis berusaha untuk memajukan dan mengutamakan kebebasan bagi individu untuk mengekspresikan diri, karena individu harus memiliki mindset sebagai orang yang bebas.

            Berbeda dengan perspektif lain yang, Teori Kritik selalu memperbaharui diri. Perspektif lain juga dapat melakukan hal yang sama, tetapi proses pembaharuan diri ini tidak akan secepat dan sesignifikan layaknya Teori Kritik. Pembaharuan yang siginifikan ini terjadi karena adanya immanent critics (Wardhani 2013). Teori Kritik selalu berusaha memberikan kritik atas segala sesuatu yang tengah terjadi, yang tengah berlangsung, atau segala sesuatu yang akan terjadi. Maka tidak heran jika di dalam Teori Kritik sendiri, terdapat kecenderungan saling kritik antara satu tokoh dengan tokoh lain. Hal ini dianggap wajar, karena kritik dipandang sebagai jalan terbaik untuk memperbaharui diri setiap saat. Sehingga lama kelamaan Teori Kritik berevolusi menjadi sumber filsafsat dalam disiplin ilmu Hubungan Internasional. Hal ini disebabkan oleh rasa ingin mengkritik terus menerus, sehingga Teori Kritik memberikan kemungkinan-kemungkinan baru, yang tidak pernah dapat disajikan oleh perspektif lain.

            Teori Kritik memposisikan diri sebagai perspektif yang selalu mengkritik gejala atau fenomena yang terjadi di sekitarnya. Teori Kritik menghadirkan berbagai macam kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah disajikan oleh perspektif lain.

 

Referensi :

Horkheimer, Max (1976). "Traditional and Critical Theory". In: Connerton, P (Eds), Critical Sociology: Selected Readings, Penguin, Harmondsworth, p. 213

Linklater, Andrew (1982). Men and Citizens in the Theory of International Relations, MacMillan Press

Wardhani , Baiq. 2013.Critical Theory. Materi Dibahas pada Kuliah Teori Ilmu Hubungan Internasional, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga. 03 April 2013.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :