WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

RASIONALISME, RIWAYATMU KINI

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 10 April 2013
di TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL GENAP 2012/2013 - 0 komentar

RASIONALISME, RIWAYATMU KINI

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

            Rasionalisme adalah salah satu perspektif dalam Studi Hubungan Internasional. Tetapi pada kenyataanya, banyak pihak yang belum mengerti dan familiar dengan keberadaan perspektif Rasionalisme. Hal ini sebetulnya diakibatkan dari ketidak jelasan (ambiguisitas) perspektif Rasionalisme itu sendiri, dan kenyataan bahwa perspektif ini hanya berkembang di sekitar Inggris (Wardhani 2013). Rasionalisme, yang notabene adalah perspektif turunan dari English School of Thought, adalah sebuah perspektif yang memiliki sifat penengah. Keberadaanya sebagai penengah ini dikenal sebagai sifat via media (Burchill & Linklater 1996). Perspektif Rasionalisme berusaha menengahi ‘perselisihan’ antara kaum Realis (dengan sifat ‘konfliktual’ dan pemberian fokus pada ‘sistem anarkis’), dengan kaum Revolusioneris (yang digambarkan melalui keberadaan perspektif Liberalisme dan Kosmopolitanisme). Rasionalisme memandang dunia internasional, dan bahkan global, dengan kacamata hope without illusion. Kaum rasionalis memandang dunia dengan cara yang realistis (layaknya kaum Realis), tetapi juga melihat adanya harapan (layaknya kaum Liberalis).

            Menilik dari kilasan sejarah, perspektif Rasionalisme berkembang pada awal tahun 1970an. Perspektif ini lahir dari dua sumber yang berbeda. Sumber pertama datang dari Departemen Hubungan Internasional di LSE (London School of Economics). Tokoh-tokoh terkenal binaan LSE diantarnya adalah C.A. Manny, Hedley Bull dan Martin Wright. Sosok terakhir bahkan mengemukakan sebuah pertanyaan yang menjadi pijakan awal bagi perspektif Rasionalisme, “why is there no International Relations theory?”. Pertanyaan Martin Wright ini disinyalir menjadi sebuah kritikan terhadap keberadaan perspektif dalam Studi Hubungan Internasional. Ternyata, perspektif Realisme dan Liberalisme, yang dianggap sebagai perspektif utama dalam Studi Hubungan Internasional, bukanlah produk asli sarjana Hubungan Internasional (Wardhani 2013). Sementara sumber kedua berangkat dari pemikiran tokoh-tokoh seperti Herbert Butterfield, yang notabene adalah binaan British Commite of International School. Kemunculan LSE dan British Commite of International School, dipandang sebagai fase pertama perkembangan perspektif Rasionalisme. Fase ini dikenal sebagai Classical Period (Dunne 2007). Kemudian ada masa dimana pemikir-pemikir seperti Andrew Linklater, Harold, dan Barry Buzan pun muncul ke permukaan. kemunculan mereka dipahami sebagai fase kedua perspektif Rasionalisme. Masa ini dikenal sebagai Post Classical Period (Dunne 2007).

            Layaknya perspektif-perspektif lain, perspektif Rasionalisme juga memiliki asumsi dasar. Asumsi pertama adalah semua negara di dunia memiliki tingkatan kedudukan yang sama dalam mata dunia internasional. Ukuran besar kecilnya negara tidak akan memberikan masalah yang berarti. Hal ini disebabkan oleh posisi setiap negara yang sama dalam kancah dunia internasional. Asumsi kedua adalah sistem internasional adalah ‘anarki’. Sekilas asumsi kedua dari perspektif Rasionalis seakan-akan mirip dengan asumsi dari perspektif Realis. Yang menjadi pembeda utama adalah, kaum Rasional memandang bahwasanya perdamaian kolektif masih dapat terwujud dalam sistem anarki. Kekerasan dalam kehiduapn anarkis bisa diminimalisir dan dikendalikan, melalui ketaatan terhadap hukum yang berlaku dan ditaati oleh semua pihak.

            Dalam rangka memahami pola hubungan antar negara, perspektif Rasionalisme memiliki tiga cara pandang utama. Cara pandang pertama diilihami oleh keberadaan Thomas Hobbes. Seperti yang telah diketahui bersama, beliau adalah tokoh yang menjunjung sifat Realis. Maka cara pandang ini sering dikenal sebgaai cara pandang Realis atau Hobbesian. Mereka berargumen jika negara di dunia memiliki kedudukan yang sama. Negara-negara ini, dikarenakan memiliki kedudukan yang sama, akan saling mengadakan interaksi, dimana interaksi ini akan memengaruhi pola perilaku dan proses pengambilan keputusan (Dunne 2007). Cara pandang kedua adalah cara pandang Grosian. Cara pandang ini diilhami oleh pola pikir Hugo Grotius. Cara pandang ini memiliki sebuah teori yang terkenal, yaitu international society. Teori ini menjelaskan bahwasanya negara-negara di dunia memahami urgensi akan kepentingan dan nilai-nilai bersama. Sehingga akan terbentuk sebuah masyarakat yang berperilaku berdasarkan kepentingan dan nilai-nilai bersama tersebut (Dunne 2007). Cara pandang ketiga adalah cara pandang Kantian. Cara pandang ini dipelopori oleh Immanuel Kant. Ada salah satu teori terkenal dalam cara pandang ini, yaitu world society. Teori ini mengajukan konsep akan masyarakat dunia. Penjelasan dari masyrakat dunia adalah keseluruhan populasi global yang dijadikan sebagai dasar identitas nasional. Tetapi teori ini mendapat sanggahan dari Barry Buzan. Beliau memiliki pendapat, konsep masyarakat dunia adalah "Cinderella concept of English school theory”. Teori.masyarakat dunia masih belum dapat diterima dalam konsep aktual dunia.

            Berbicara mengenai hukum, bahasan mengenai hukum ini seakan-akan mendapatkan fokus yang berbeda, dari sudut pandang kaum Rasionalis. Kaum Rasionalis memandang bahwasanya memang diperlukan sebuah hukum yang betul-betul dipahami dan ditaati oleh semua pihak. Tetapi bagi kaum Rasionalis, keberadaan sebuah ‘institusi’ pengontrol dan penegak hukum  menjadi tidak dibutuhkan. Bagaimana bisa jika terdapat sebuah hukum yang harus ditaati dan dipahami oleh semua pihak, tetapi tidak ada pihak pengontrol yang sah? Mungkin jika berangkat dari asumsi pertama akan ditemui sebuah titik awal jawaban. Asumsi pertama mengedepankan tingkatan kedudukan negara yang dianggap sama, satu sama lain. Jika ada sebuah insitusi penegak hukum yang kuat, maka ditakutkan akan merubah posisi dan kedudukan negara ini. Tetapi jika memang keberadaan akan sebuah ‘institusi’ penegak hukum menjadi tidak diperlukan, bagaimana bisa kedamaian dalam sistem anarki dapat berjalan? Inilah salah satu titik lemah dari perspektif Rasionalisme.

            Sesuai dengan judul diatas, nasib perspektif Rasionalisme memang mengalami pasang surut. Keberadaan mereka menjadi tidak strategis lagi, mengingat kemampuan dan keambiguisitasan jalan dan pola pikir perspektif Rasionalis itu sendiri. Ketidak-konsistenan cara memandang dunia internasional dan ketumpang tindihan fokus, disinyalir menjadi biang keladi lemahnya posisi kaum Rasionalis dalam pola hubungan internasional dunia. Tetapi, sumbangsih mereka terhadap keberadaan Studi Hubungan Internasional, haruslah tetap diberikan apresiasi yang pantas. Terlepas dari bagaimana nasib mereka dalam dunia internasional saat ini, perspektif Rasionalisme telah membawa cara pandang baru.

 

Referensi :

Wardhani, Baiq Lekar Sinayang. 2013. Rationalism and English School of Thought,  dalam Kuliah Teori-teori Hubungan Internasional, Departemen FISIP Universitas Airlangga. Kamis, 5 April 2013.

Burchill, Scott & Andrew Linklater. 1996. Theories of International Relation, New York : ST Martin’s Press, INC

Dunne, Tim. 2007. The English School, in: Tim Dunne, Milja Kurki & Steve Smith (eds.) International Relation Theories. Oxford University Press, pp. 127-147.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :