WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

NASIB KULTUR NASIONAL dalam DUNIA GLOBAL

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 08 April 2013
di PENGANTAR GLOBALISASI GENAP 2012/2013 - 0 komentar

NASIB KULTUR NASIONAL dalam DUNIA GLOBAL

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

            Dalam tatanan dunia global, keberadaan negara, khususnya dalam tatanan kultur nasional, mengalami sebuah ‘dinamika’ baru. Negara yang terekspos dan terpapar oleh adanya arus globalisasi yang masif memunculkan kecenderungan-kecenderungan dan berbagai potensi baru dalam berbagai bidang. Dan dalam perjalannya, kultur nasional, mau tidak mau, juga ikut terpapar dengan arus globalisasi. Melalui dua perspektif utama dalam globalisasi, yaitu skeptis dan globalis, akan terlihat bagaimana globalisasi merubah dan membentuk kultur nasional. Karena jika melihat dari fakta yang terjadi, globalisasi mempunyai peranan yang sangat besar dalam dinamika kultur nasional dalam sebuah negara.

            Bagi kaum skeptis, kemunculan nation-state modern dan pergerakan nasionalis mengubah ‘pemandangan’ dari identitas politik (Held & McGrew 2003, 25). Kondisi ini akan memunculkan sebuah kreasi negara modern, dimana kreasi ini akan menggerakan rasa mengenai kepemilikan atas negara. Dasar dari kemunculan rasa atas kepemilikan negara ini adalah globalisasi, dalam bentuk modernisasi. Refleksi dari modernisasi dalam negara dapat dilihat dari timbulnya rasa kerjasama antar relasi sosial dalam negara yang mencapai tingkatan baru (Held & McGrew 2003, 26). Bukti modernisasi juga dapat dilihat dari sentralisasi power oleh para elit penguasa, yang membuat masyarakat menjadi sadar akan keanggotaan mereka dalam komunitas politik bersama (Held & McGrew 2003, 26). Masyarakat dapat mengekspresikan rasa ‘keanggotaan’ mereka melalui keberadaan kultur nasional.  

            Berbicara mengenai modernisasi, ada hal menarik yang menjadi poin sanggahan kaum skeptis. Mereka melihat bahwasanya modernisasi adalah bentukan dari kaum elit, para penguasa di negara bersangkutan. Kaum elit ini berusaha membentuk sebuah negara bentukan, yang sebetulnya tidak ada bentuknya dan tidak nyata dalam dunia ini. Identitas dan kultur nasional adalah proyek eksplisit bentukan kaum elit (Held & McGrew 2003, 27). Maka tidak salah jika rasa memiliki negara, dewasa ini hanya dapat dipahami oleh kaum elit politik. Mereka membentuk sebuah negara melalui pola gambaran ideal mereka. Maka jangan heran jika kelompok berdasarkan kesamaan etnis, kultural dan bahasa bisa menjadi sumber konflik (Held & McGrew 2003, 28). Kelompok-kelompok ini melihat negara yang mereka diami, tempati dan bahkan mereka miliki, dengan kacamata masing-masing. Gesekan pasti terjadi karena tidak ada kesamaan rasa dalam rangka memahami negara antar kelompok-kelompok yang telah disebutkan di atas.

            Sementara bagi kaum globalis, kultur nasional dipandang tidak konfliktual, seperti pandangan kaum skeptis. Kaum globalis memandang dengan cara pandang yang jauh lebih simpel, dan sisi lain, jauh lebih global. Bagi mereka, kompleksitas dari kultur nasional, tercermin dari identitas nasional, akan terus berjalan (Held & McGrew 2003, 31). Diperlukan adanya upaya untuk menghapuskan kompleksitas kultur nasional. Caranya adalah dengan nasionalisasi kultur, tetapi nyatanya fakta berkata lain. Nasionalisasi kultur akan tetap mengalami kendala, karena serangan dari dunia global yang begitu massif dan intens. Ekspansi dari dunia global akan membentuk globalisasi kultur (Held & McGrew 2003, 31). Globalisasi kultur akan menyerang langsung nasionalisasi kultur, dan dapat dibayangkan siapa yang akan menang.

            Bagaimana cara memahami globalisasi kultur dalam dunia modern saat ini? Sebenarnya fenomena ini dapat dipahami sebagai sebuah fenomena ‘bentukan’, atau ‘disengaja’. Globalisasi kultur dimotori oleh perusahaan-perusahaan global, sehingga peranan negara menjadi tidak signifikan. Kaum globalis berargumen bahwa korporasi telah menggeser negara dan teokrasi dalam peranan pusat produksi dan distributor utama globalisasi kultur (Held & McGrew 2003, 36). Meskipun korporasi, insitusi dan perusahaan swasta internasional bukanlah hal yang dianggap benar-benar baru, nyatanya globalisasi kultur masih terus berjalan dan berlangsung. Hal ini diakibatkan karena pengaruh dan akibat yang ditimbulkan telah mencapai tahapan baru (Held & McGrew 2003, 36). Keberadaan mereka (institusi dan perusahaan-perusahaan internasional) mungkin tidaklah baru, tetapi dampak akan keberadaan merakalah yang benar-benar baru, sehingga mampu memotori penyebaran globalisasi kultur di dunia.

            Globalisasi telah memainkan peranan yang sangat signifikan dalam dunia global. Negara menjadi salah satu saksi bisu globalisasi, khususnya dalam kultur nasional. Kultur nasional seakan luntur, dan tergantikan dengan adanya globalisasi kultur, yang melahirkan kultur global. Sehingga jika muncul pertanyaan mengenai langkah apa yang harus diambil negara, dalam rangka menghadapi globalisasi ini, terutama dalam globalisasi kultur? Lalu bagaimana nasib negara, terutama kultur nasional mereka, dalam dunia global? Jawabannya terletak pada cara negara beserta masyrakatnya, memahami keberadaan globalisasi.

 

Referensi :

Held, David dan Anthony McGrew. 2003. “The Fate of National Culture”, dalam Globalization/Anti-Globalization, Oxford: Blackwell Publishing Ltd., pp. 9-25

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :