WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

IDEOLOGI dan INDONESIA

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 03 April 2013
di STUDI STRATEGI INDONESIA 1 GENAP 2012/2013 - 0 komentar

IDEOLOGI SEBAGAI DASAR KEHIDUPAN POLITIK di INDONESIA

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

            Perjalanan negara Indonesia dalam tugas mencari sebuah ideologi yang cocok dan pas bagi rakyat dan masyarakatnya, ternyata bukanlah sebuah perkara yang mudah. Ideologi-ideologi yang muncul dan berkembang tidaklah sedikit, baik ragam dan jumlahnya. Sehingga, tidak mudah bagi para founding father untuk memilih ideologi mana yang sekiranya cocok dengan keadaan yang di manyarakat. Seorang founding father sekaligus sebagai presiden pertama di Indonesia, yaitu Ir. Soekarno, memberikan sebuah gagasan yang menarik. Beliau berargumen bahwasanya terdapat tiga ideologi yang sekiranya dapat mempengaruhi perkembangan negara Indonesia, khususnya bangsa Indonesia, yaitu Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme (Soekarno 1964). Ternyata, ketiga ideologi yang dikemukakan oleh Ir. Soekarno tadi merupakan dasar bagi seluruh organisasi politik di Indonesia (Feith 1988). Tetapi sebetulnya, meskipun ketiga ideologi di atas menjadi dasar bagi organisasi-organisasi politik di Indonesia, pada kenyataanya memiliki ciri khas yang berbeda, sehingga dalam prakteknya akan bertentangan dan berseberangan antara satu sama lain. Meskipun berpotensi menimbulkan pertentangan, Feith beranggapan bahwa masih ada rasa ingin mempersatukan ketiga ideologi tersebut. Tetapi kembali lagi, mempersatukan tiga ideologi dengan perbedaan-perbedaan mencolok bukanlah sebuah perkara yang gampang. Proses penyatuan ini malah dapat menimbulkan konflik-konflik lain, yang memiliki potensi yang buruk bagi Indonesia.

            Dalam artikel yang ditulis oleh Feith, ada lima aliran dalam pemikiran politik, yaitu Nasionalisme Radikal, Tradisionalisme Jawa, Islam, Sosialisme Demokratis, dan Komunisme (Feith 1988). Model klasifikasi lima aliran ini dianggap sebagai pendobrak atas ketidakjelasan ideologi-ideologi yang berkembang di Indonesia. Pada masa tersebut, belum ada ideologi yang dianggap cocok dengan keadaan yang tengah terjadi di masyarakat. Seringkali ideologi-ideologi tersebut hanya dekat dengan para tokoh elit politik, yang memang memiliki akses untuk mempelajari ideologi-ideologi tersebut secara mendalam.

            Setiap perbedaan dalam kelima ideologi tersebut, merefleksikan keadaan yang tengah terjadi di Indonesia pada masa-masa tersebut. Bagaimana bisa dilihat sebuah ketegangan yang tengah terjadi antara warisan tradisonal, berhadapan dengan kemunculan tradisi yang dianut dari dunia luar, yang secara ilmu dan displin lebih modern. Perbedaan-perbedaan antar ideologi juga mencerminkan adanya sisi penolakan budaya barat (Feith 1988). Hal ini dianggap wajar, karena dunia barat akan selalu identik dengan Imperialisme.

            Nyatanya, ideologi-ideologi yang berkembang ini benar terjadi dan memiliki pengaruh terhadap jalannya kehidupan politik (Soekarno 1964). Tetapi, proses perjalanan dan aktualisasi ideologi-ideologi ini tetaplah membawa kecenderungan-kecenderungan akan kemunculan konflik. Kecenderungan kemunculan bibit-bibit konflik ini berasal dari adanya konflik antar partai (Feith 1988). Dengan segala kepentingan yang dibawa, maka jelas adanya jika partai akan berusaha untuk menjadi aktor utama dalam kehidupan politik di Indonesia. Kepentingan-kepetingan inilah, yang dimotori oleh panutan ideologi yang berbeda, yang menjadi potensi besar pemicu konflik.

            Terdapat pula kebutuhan akan adanya rangka dasar bagi konsensus. Problem rangka dasar inilah yang memaksa kabinet-kabinet dalam sistem pemerintahan Indonesia untuk mengembangkan serta mengaplikasikan (menanamkan) rumusan-rumusan ideologi yang sekiranya cocok diaplikasikan di Indonesia. Jika hal ini bisa benar terealisasi maka harapan akan adanya penghubung antar pelbagai partai dengan asas ideologi yang berebeda-beda dapat tercapai, yaitu dalam bentuk kerjasama (Feith 1988).   

            Tetapi ide pemersatuan ideologi, menurut Soekarno, adalah sebuah wacana yang dipahami beliau sebagai ‘sesuatu yang segara harus dilaksanakan’. Dengan pemersatuan ini, maka akan muncul wujud persatuan dan kesatuan yang akan membawa bangsa Indonesia untuk lepas dari penjajahan. Tetapi, menurut beliau, rahasia persatuan yang paling penting adalah adanya rasa ingin menerima dan memberi. “Adanya perasatuan akan membawa pada bangsa Indonesia ke arah ke-Besaran dan ke-Merdekaan (Soekarno 1964).

            Faktanya, kemunculan berbagai macam ideologi di Indonesia ini memang tidak membawa opsi jawaban yang benar-benar bisa diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Tetapi, kemunculan-kemunculan ideologi ini tetaplah membawa peranan masing-masing, dimana peranan antar ideologi sangat penting dan signifikan. Akan sangat naïf jika hanya satu ideologi yang dipahami, dan ideologi yang tidak. Semua ideologi akan membawa hal-hal baru, dan hal baru ini akan membawa semua pihak untuk lebih bijak lagi memahami segala permasalahan dalam kehidupan politik di Indonesia.

 

Referensi :

Feith, Herbert dan L. Castles. ed. 1988. "Pengantar", dalam Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, Jakarta: LP3ES , pp. xiI-Ixvii

Ir. Soekarno. 1964. "Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme", dalam Dibawah Bendera Revolusi, Jakarta: Departemen Penerangan , pp. 1-23

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :