WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

MARXISME dan STRUKTURALISME

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 03 April 2013
di TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL GENAP 2012/2013 - 0 komentar

MARXISME dan STRUKTURALISME, MELIHAT KEBERADAAN KELAS SOSIAL

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021 (KELAS A)

 

            Melalui pemikiran Karl Marx, perspektif Marxisme muncul sekitar tahun 1840. Perspektif Marxisme mengkritik proses pembedaan kelas dalam negara. Pembedaan ini, konon bagi seorang Marx, muncul akibat adanya ekspansi dari kapitalisme. Ekspansi ini mengganti sistem negara yang berdaulat menjadi sistem negara internasional (Burchil & Linklater 1996, 161). Dalam perjalannanya, sistem negara internasional melahirkan masyarakat kapitalis yang membawa sistem dua kelas sosial, yaitu sistem borjuis dan proletar. Kaum borjuis yang digambarkan sebagai kaum penguasa kapital (modal), dianggap sebagai perpanjangan tangan dari negara. Sehingga kaum borjuis memiliki kekuasaan untuk memperkerjakan kaum proletar, yang digambarkan oleh keberadaan kaum buruh. Bahkan bentuk memperkerjakan kaum proletar ini disalahgunakan oleh kaum borjuis, dalam bentuk eksploitasi kewajiban secara berlebihan. Hal inilah yang menjadi dasar atau pedoman bagi perspektif Marxis. “Fokus marxisme terdapat pada kelas-kelas sosial antara borjuis dan proletar” (Burchil & Linklater 1996).

            Dalam dalilnya, perspektif Marxisme memandang bahwa akan lebih baik jika kelas-kelas sosial dalam negara ditiadakan. Jika kelas-kelas sosial tidak ada, maka tidak akan ada proses pembedaan antara kaum borjuis dan proletar, dan tidak akan ada eksploitasi berlebihan. Kemungkinan akan adanya konflik pun bisa diminimalisir, karena faktor penyulut terjadinya konflik, yaitu rasa pembedaan antara kaum borjuis dan proletar (pahami dengan istilah ‘kesetaraan hak’) telah ditiadakan.

            Tetapi, dalam awal kemunculannya, perspektif Marxisme bukanlah perspektif kandung dari teori Hubungan Internasional (Wardhani 2013). Perspektif Marxisme lahir dari teori-teori disiplin ilmu Sosiologi. Maka jangan heran jika perspektif ini berfokus kepada masyarakat dalam negara. Dapat dilihat dengan bagaimana sistem dua kelas dalam masyarakat berjalan, bagaimana peranan antar kelas dan lain-lain. “Perspektif Marxisme hanya berfokus pada kelas-kelas sosial dan cenderung mengabaikan dasar logika fragmentasi yang diciptakan oleh rivalitas tanpa akhir antar negara-bangsa” (Burchill & Linklater 1996, 162) Sehingga dalam studi Hubungan Internasional, dalil Marx dianggap terlalu utopis dan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin proses menyatukan dua kelas dalam negara, jika memang negara tersebut membutuhkan keberadaan dua kelas tersebut? Di sinilah peranan perspektif Strukturalisme menjadi signifikan.

            Perspektif Strukturalisme muncul sebagai kritik dan koreksi terhadap perspektif Marxisme (Wardhani 2013). Bgai kaum Strukturalis, perspektif Marxis memiliki beberapa cela yang perlu untuk dikoreksi. Sebenarnya, perspektif Strukturalis hanyalah sebuah upaya para praktisi ilmu Hubungan Internasional, untuk membuat perspektif Marxis memiliki dasar-dasar teori Hubungan Internasional. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya poin-poin yang hampir sama dengan Perspektif Marxis. Jika kaum Marxis memandang adanya sistem dua kelas, kaum Strukturalis juga memandang dengan cara yang relatif sama. Hanya saja kaum Strukturalis membagi menjadi tiga kelas, yaitu core, periphery dan semiperiphery. Dan kelas-kelas ini ada karena mereka adalah bagian dari struktur. Kelas core atau yang lebih dikenal sebagai negara dunia pertama (first world state) adalah kelas yang menjadi dasar utama struktur dunia. Kelas ini diisi oleh negara-negara kaya yang memiliki kapabilitas dalam memimpin jalannya dunia global. Contoh konkrit adalah Amerika Serikat. Kemudian ada kelas periphery, atau yang lebih dikenal sebagai negara dunia ketiga (third world state). Kelas ini tergolong terbelakang dan tidak memiliki kapabilitas memimpin jalannya dunia global. Contoh adalah negara Indonesia. Sementara itu,  kelas semiperiphery adalah kelas yang sulit didefinisikan, karena tidak memiliki batasan yang jelas (Wardhani 2013).

            Kaum Strukturalisme memandang bahwa struktur dalam dunia ini mutlak dibutuhkan. Karena pada dasarnya setiap negara (yang direpresentasikan dalam bentuk kelas) membutuhkan negara lain. Seringkali kebutuhan ini melibatkan negara dari kelas yang berbeda. Keadaan ini yang akan mebuat setiap negara akan memiliki bentuk saling ketergantungan dengan negara lain. Tetapi jika hal ini terus menerus dibiarkan tanpa ada koreksi, maka dikhawatirkan akan terjadi penyalahgunaan wewenang. Negara-negara dengan wewenang tinggi bisa mengintimidasi atau bahkan mengkesploitasi negara-negara dengan kewenangan (pahami dengan konteks power) yang lebih lemah. Inilah poin pembeda antara kaum Strukturalis dan Marxis. Kaum Marxis menginginkan penghapusan sistem kelas, dengan dalil agar tercipta sebuah keadaan setara. Dan jika kesetaraan telah tercapai, maka potensi akan adanya konflik dapat diminimalisir.

             Kritik tidak hanya datang dari kaum Strukturalis, tetapi juga dari kaum Realis. Hal ini dapat dilihat dalam pernyataan “Kapitalisme akan menyatukan dunia dalam sesuatu seperti yang diramalkan kaum Marxis dan menolak pandangan bahwa kaum proletar revolusioner global dapat muncul di dalam dunia yang terbagi-bagi atas negara-bangsa yang berbeda-beda” (Burchill dal Linklater, 1996:177). Kaum Realis mengkritisi fokus daripada kaum Marxis, yakni berkutat pada masalah kelas saja. Masih banyak hal lain yang harus diperhatikan. Keamanan dan hukum misalnya, bagi kaum Realis permasalahan keamanan, terlebih lagi perang, adalah isu yang sangat sentral dan harus diberi fokus ekstra. Hal ini bisa dimaklumi karena kemunculan perspektif Realisme, berangkat dari keadaan dunia yang tengah konfliktual, karena pada saat itu perang sedang bergejolak pada hampir seluruh belahan dunia.

            Perspektif Marxisme adalah sebuah perspektif yang mengusung semangat humanisme, semangat ini bisa dilihat dari bagaimana mereka begitu memperjuangkan nasib kaum proletar dan menuntut adanya upaya penghapusan sistem kelas. Bagi kaum Marxis, diperlukan adanya ‘perubahan umat manusia dari keadaan asalanya dimana masyarakat skala kecil berinteraksi satu sama lain menuju kehidupan modern dimana umat manusia teritregasi, dan diperas, oleh kerasnya kehidupan kapitalisme global’  (Burchill dan Linklater, 1996:189). Emansipasi kaum proletar, bagi kaum Marxis adalah sebuah wacana yang harus terus-menerus diperjuangkan. Masalah baru timbul ketika sistem kelas ini benar-benar dihapus. Tetapi penghapusan sistem kelas ini akan sangat sulit untuk dilakukan, karena sifat dasar manusia, yaitu mendominasi, akan selalu ada. Dan hal ini seakan menjadi bukti bahwa perspektif Marxis terlalu idealis dan utopis, sarat dengan mimpi. Tetapi jika dirunut kembali, memang perspektif Marxis lahir karena adanya mimpi, mimpi untuk menghapus sistem kelas di dunia.

 

Referensi :

Burchill, Scott dan Andrew Linklater, 1996, Theories of International Relations, New York. ST Martin’s Press INC

Wardhani. Baiq, 2013, Marxism and Structuralism in IR, materi disampaikan pada mata kuliah Teori Hubungan Internasional pada 28 Maret 2013

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :