WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

GLOBALISASI EKONOMI

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 02 April 2013
di PENGANTAR GLOBALISASI GENAP 2012/2013 - 0 komentar

EKONOMI GLOBAL atau GLOBALISASI EKONOMI?

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

            Para praktisi sedang memikirkan sebuah jalan baru untuk melihat bagaimana globalisasi dalam ekonomi, khususnya dalam lingkup global dan dunia, memainkan peranananya dalam segala sendi kehidupan umat manusia. Karena setelah diteliti, globalisasi ekonomi telah membuat perbedaan-perbedaan yang khas terhadap keberadaan aktor-aktor, seperti negara atau perusahaan multinasional. Tetapi, mulai muncul perdebatan-perdebatan baru seiring dengan keberadaan globalisasi dalam lingkup ekonomi. Apakah di dunia mulai terbentuk sebuah bentuk ekonomi global yang tunggal? (Held & McGrew 2003, 38). Apakah globalisasi ekonomi betul-betul sedang merangkai dan membuat sebuah komunitas pasar yang satu dan mendunia, dan bahkan tersentralisasi pada satu pihak, layaknya sebuah komunitas ekonomi global yang tunggal?

            Bagi kaum skeptis, mereka memposisikan diri dalam globalisasi melalui interpretasi tren ekonomi kontemporer global (Held & McGrew 2003, 38). Pendapat kaum skeptis mengenai ekonomi dunia pada saat ini, dalam terminologi sejarah, adalah ekonomi dunia terintegrasi secara renggang (Held & McGrew 2003, 38). Istilah terintegrasi memang tetap dipercaya dan diakui oleh kaum skeptis, tetapi mereka tidak melihat adanya pola integrasi yang siginifikan. Contohnya dapat dilihat dari argumen kaum skeptis, bahwa aliran barang semakin deras tetapi dunia ekonomi kontemporer menjadi tidak terlalu terbuka.

            Tetapi di sisi lain, kaum skeptis menolak adanya wacana mengenai eksistensi ekonomi global. Globalisasi ekonomi memang selalu dikaitkan dengan integrasi mendalam antara pihak-pihak yang berurusan dengan ekonomi nasional, yang kesemuanya terpisah satu sama lain. Tetapi kenyataannya, bagi kaum skeptis, bukti-bukti yang ada gagal untuk menjelaskan kemunculan ekonomi global (Held & McGrew 2003, 38-39). Kaum skeptis tetap tidak melihat adanya kebangkitan sebuah pola ekonomi global yang tunggal. Kaum skeptis mengintepretasikan tren ini sebagai bukti dari internasionalisasi aktivitas ekonomi (Held & McGrew 2003, 39). Bagaimana intensifikasi antara ekonomi nasional, organisasi nasional dan regulasi ekonomi dapat dipengaruhi oleh aktor-aktor lain di luar negara. Bahkan hal ini dapat menghasilkan sebuah pola bagi negara untuk membangun kehidupan ekonomi mereka dalam tahapan global. Lihat saja bagaimana perkembangan antara Eropa, Asia-Pasifik dan Amerika di tahapan ekonomi dunia. Kaum skeptis menganalisa bahwa perkembangan ini bisa terjadi lantaran adanya kebangkitan dan pertambahan jumlah organisasi ekonomi dunia (Held & McGrew 2003, 40).

            Bahkan proses internasionalisasi ini diperkuat dengan kemunculan regionalisasi (Held & McGrew 2003, 41). Dengan adanya NAFTA, APEC dan ASEAN, sebagai contoh, negara-negara dalam satu wilayah regional bisa membangun kembali kehidupan ekonomi mereka. Tetapi tentu saja tidak lepas dari campur tangan aktor-aktor pengusung semangat regionalisasi tersebut. Hal inilah yang menjadi dasar bagi kaum realis bahwa integrasi ekonomi menjadi tidak signifikan. Internasionalisasi dan regionalisasi juga membawa semangat fragmentasi dalam ekonomi dunia, sehingga dunia terbagi menjadi ekonomi regional yang beragam.

            Kontras dengan cara pandang kaum skeptis, kaum globalis memandang bahwasanya keinginan untuk munculnya ekonomi global semakin bertambah hari demi hari. Produksi barang global dari perusahaan multinasional lebih banyak jumlahnya dari level ekspor dunia, sehingga mampu untuk mencakup seluruh daerah ekonomi mayor (Held & McGrew 2003, 48). Adanya kejatuhan dari sosialisme negara, produksi dan pertukaran barang dalam ekonomi nasional yang semakin intens seakan menjadi jawaban dari kaum globalis untuk mengkritik kaum skeptis. Di dalam dunia yang tanpa ‘batasan’ ini, perbedaan antara aktivitas ekonomi domestik dan aktivitas ekonomi global semakin tidak jelas (Held & McGrew 2003, 50). Negara semakin sulit untuk membendung gempuran produk-produk dari perusahaan multinasional.

            Kaum globalis memberikan pendapat bahwa perlu diberikan sbeuah poin pembeda dari kaum skeptis, untuk mempertanyakan eksistensi ekonomi global tunggal, yang ternyata mampu melebihi integrasi daerah ekonomi dunia (Held & McGrew 2003, 50). Mungkin poin yang dimaksud adalah proses regionalisme antar negara dalam satu lingkup daerah. Regionalisme berfungsi sebagai fasilitator yang mendorong proses penanaman globalisasi ekonomi (Held & McGrew 2003, 51). Jika memang ada wacana untuk sistem ekonomi global yang tunggal, maka regionalisasi menjadi jembatan bagi aktor-aktor untuk tunduk kepada satu sistem. Tetapi sistem tersebut terbatas hanya pada satu wilayah daerah saja, sementara daerah lain akan tunduk pada sistem lain. Jika memang ingin membentuk sebuah sistem ekonomi global yang tunggal, maka bagi kaum globalis sistem regional harus berintegrasi dengan internasionalisasi. Barulah ketika sebuah sistem bisa diakui dunia global, sistem ekonomi global bisa berjalan. Kaum skeptis meragukan adanya sistem ekonomi global, karena peran semua pihak dengan sendirinya akan tetap menutup kemungkinan untuk menuju ke arah tersebut. Tetapi bagi kaum globalis, jika semua pihak bersedia untuk menyerahkan proses kehidupan ekonomi pada satu pihak saja, maka kemunculan sistem ekonomi global bsia saja segera terealisasikan.

            Satu hal yang pasti, globalisasi sedang mengatur kembali tatanan ekonomi dunia. Bagi kaum skeptis, globalisasi dalam bentuk internasionalisasi dan regionalisasi sedang membentuk proses kehidupan ekonomi negara. Tetapi bagi kaum globalis, globalisasi yang membentuk pola kehidupan ekonomi negara. Sehingga, jika ada pertanyaan mengenai ekonomi global atau globalisasi ekonomi, maka jawabannya kembali kepada cara pandang mana yang ingin diakui.

 

Referensi :    

Held, David dan Anthony McGrew. 2003. “A Global Economy?”, dalam Globalization/Anti-Globalization, Oxford: Blackwell Publishing Ltd., pp. 38-57

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :