WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

DEMAND of REZIM

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 02 April 2013
di REZIM GENAP 2012/2013 - 0 komentar

REZIM INTERNASIONAL MENJAWAB TANTANGAN DARI DUNIA BARU

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Dunia internasional selalu dipenuhi dengan permasalahan-permasalahan baru yang mengalami perkembangan dan mengarah kepada sifat kompleks. Hal ini disebabkan oleh adanya proses transformasi dari permasalahan itu sendiri, yang mulai bersinggungan dengan kepentingan negara. Perang yang pada saat tersebut mendominasi jalannya hubungan antar negara, telah dianggap sebagai upaya yang sia-sia karena tidak semua permasalahan internasional dipicu dan diselesaikan oleh keberadaan perang. Maka kemunculan rezim internasional dianggap sebagai sebuah alternatif untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan model baru tersebut. Kemunculan rezim internasional ini ditandai dengan anomali perspektif Realis, yang memandang bahwa dunia internasional bersifat konfliktual. Faktanya, anomali ini terefleksikan dengan kemunculan kerjasama antar negara berkembang menuju arah yang lebih intens. Robert O. Keohane (1982) berpendapat bahwa analisis rezim internasional berdasarkan dengan penetapan (baik secara implisit maupun eksplisit) prinsip, norma, aturan, serta proses pengambilan keputusan yang diharapkan dapat mencapai titik temu dengan ekspektasi para aktor yang terlibat dalam lingkup area terkait.

            Rezim internasional dipengaruhi dengan keberadaan negara hegemon (Keohane 2005). Negara hegemon membentuk sebuah bentuk stabilitas hegemoni dalam rezim, karena negara hegemon memiliki power yang sangat kuat. Seringkali negara hegemon menjadi aktor utama yang dominan dan mendikte jalannya keberlangsungan rezim. Tetapi, keberadaan negara hegemon malah menekan negara-negara lain yang posisinya jauh lebih lemah. Hal ini dapat dilihat dalam kasus dimana negara hegemon mendapat keuntungan lebih, dan negara-negara lain hanya mendapat keuntungan seadanya, dan bahkan hanya mendapat kerugian. Menyikapi hal tersebut, stabilitas hegemoni pun memberikan pola pendekatan baru dalam bentuk argumen. (Keohane 1982), adopsi dari teori supply and demand ekonomi mikro.

            Poin pertama argumen Keohane adalah system constraint – choice analysis: virtues and limitations (Keohane 1982). Poin ini berfokus pada cara berpikir para aktor dalam rezim. Para aktor akan berusaha untuk mengembangkan pola pikir rasional, dengan pemberian porsi yang rata terhadap berbagai macam variabel. Pola pikir ini digunakan dalam proses penanggulangan berbagai macam kendala (constraints) dalam proses hubungan internasional. Dalam pola berpikir rasional akan selalu memunculkan patokan pilihan minimum rasional (minimum rational choice). Patokan ini yang akan membawa para aktor untuk membatasi diri mereka dalam memahami kendala-kendala yang terjadi. Sehingga para aktor yang tidak diuntungkan tetap mengikuti rezim karena mereka memiliki cara berpikir rasional.

            Lalu bagaimana fungsi dan konteks rezim internasional dalam hubungan internasional? Hal ini seakan dijawab pada poin kedua Keohane (1982), yaitu the context and function of international regimes. Konteks keberadaan rezim internasional adalah untuk mencegah kecacatan (flaw) sebuah institusi, karena semua institusi pasti mengalami masalahan ketidaksempurnaan fungsi. Sementara fungsi dari rezim internasional adalah sebagai fasilitator kerjasama bagi para aktor dalam hubungan internasional dan pencegah dominasi aktor hegemon. Sehingga rezim bisa merubah pola bertingkah laku para aktor hegemon ataupun non-hegemon, karena para aktor dikondisikan untuk ‘tunduk’ pada seperangkat prinsip, norma, aturan dan proses pengambilan keputusan dalam rezim yang diikuti.

            Poin ketiga adalah elements of a theory of the demand for international regimes (Keohane 1982). Semua rezim bisa mengalami perubahan dan dinamika, sehingga permintaan kepada keberadaan rezim bisa berkurang. Hal ini bisa dipicu dengan sebuah keadaan dimana solusi Pareto Optimal dapat diterima oleh para aktor (Ronald Choase t.t dalam Keohane 2005). Poin Pareto Optimal pertama adalah certainties, poin ini menjelaskan keberadaan tatanan legal, dimana tatanan ini menekankan pertanggungjawaban aksi, misalya aksi dukungan pemerintahan, dalam bentuk otoritas yang mereka miliki. Poin kedua dan ketiga adalah perfect symmetries information dan zero transaction cost. Jika ketiga faktor ini telah terpenuhi dan diikuti oleh para aktor, maka keberadaan rezim dapat dikesampingkan, atau bahkan mencapai sebuah titik dimana rezim tersebut menjadi tidak diperlukan. Tetapi jika ada satu faktor yang tidak terpenuhi, maka proses pemberhentian rezim tidak akan terjadi.

            Poin keempat adalah information, openness, and communication in international regimes (Keohane 1982). Poin ini menjelaskan aliran informasi antar aktor di dalam rezim. Aliran informasi akan menyebabkan proses komunikasi diantara para aktor anggota dalam suatu rezim bisa berjalan lebih intens. Tatanan kehidupan internasional yang lebih terbuka akan memberikan dampak bagi semua rezim, sehingga satu rezim bisa mempengaruhi keberadaan rezim lain. Sehingga makna dari sebuah rezim bisa berkembang menjadi lebih luas lagi. Rezim yang bersifat internasional akan mengalami perkembangan makna yang lebih kuat daripada rezim yang bersifat regional.

            Poin terakhir adalah coping with uncertainties: insurance regimes. Poin ini menjelaskan keefektifan sebuah rezim. Jika sebuah rezim bisa mengatasi masalah-masalah mengenai ketidakpastian, maka rezim bisa bertahan lebih lama. Ketidakpastian ini bisa dilihat dalam bagaimana sebuah rezim mampu memberikan penjelasan atau mungkin jawaban atas permasalahan atau isu yang dihadapi (pahami dengan istilah ‘terkait’) rezim tersebut. Jika rezim mulai menunjukan ketidakefektifan, maka dapat dipastikan bahwasanya rezim tersebut tidak akan bertahan lama, bisa saja pada akhirnya rezim akan mengalami perubahan menuju bentuk rezim baru atau malah berhenti sama sekali.

            Di mata Keohane, keberadaan aktor hegemon memiliki peranan yang penting dan signifikan. Tetapi di dalam sebuah rezim, aktor hegemon tidak mutlak dibutuhkan. Aktor hegemon tidak menjamin kestablian rezim, dalam bentuk fluktuasi permintaan terhadap keberadaan rezim. Aktor hegemon bisa bertindak sebagai fasilitator dan penyuplai kebutuhan rezim.

 

Referensi :

Keohane, Robert O. (1982). “The Demand for International Regimes”. Dalam Stephen D. Krasner (ed.), International Regimes, Cambridge University Press. Hal. 325-355.

Keohane, Robert O, 2005. “Hegemonic Cooperation in the Postwar Era”, dalam Robert O. Keohane. After Hegemony Cooperation and Discord in The World Political Economy. New Jersey. Hal. 135-181.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :