WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

NEOREALISME dan NEOLIBERALISME

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 27 March 2013
di PENGANTAR GLOBALISASI GENAP 2012/2013 - 0 komentar

MELIHAT DUNIA MELALUI  NEORALISME dan NEOLIBERALISME

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

            Dunia mengalami perkembangan yang sangat dinamis. Faktanya, bisa dilihat bagaimana Perang Dunia dan Perang Dingin mampu merubah wajah dunia. Pada awalnya dunia sangatlah konfliktual. Inilah alasan utama mengapa perspektif Realisme dipandang sebagai perspektif yang tepat, karena memang mampu untuk menggambarkan keadaan dunia pada masa tersebut. Tetapi, lama-kelamaan dunia pun ikut berubah. Tidak semua permasalahan dimulai, dan bahkan diakhiri dengan perang. Perspektif Neorealis dan Neoliberalis pun muncul dengan sebuah harapan, mampu menjelaskan keadaan dunia yang semakin dinamis berubah.

            Perspektif Neorealisme pada dasarnya memiliki teori-teori yang berangkat dari teori-teori perspektif Realis sebagai pendahulunya. Perspektif Neorealis berusaha untuk melihat keberadaan negara dalam hubungan internasional. Dalam struktur dunia yang anarkis, setiap negara memiliki kapabilitas yang tidak sama. Ada negara dengan kekuatan yang jauh di atas, ada negara yang memiliki kekuatan rata-rata, dan bahkan negara dengan kekuatan kecil. Keberadaan distribusi kapabilitas memainkan peranan penting. Dengan adanya distribusi kapabilitas, negara-negara yang lemah dapat berjuan untuk bertahan hidup atau survive, dimana kemampuan bertahan hidup ini adalah salah satu teori peninggalan perspektif Realisme.

            Salah seorang tokoh ternama perspektif Neorealis adalah Kenneth Waltz. Beliau berpendapat bahwa teori Hubungan Internasional seharusnya bersumber pada teori-teori perspektif Neorealisme (Waltz 1979). Teori Neorealis memiliki elemen-elemen yang berinteraksi, dimana pada gilirannya akan tercipta sebuah kesinambungan dalam sistem. Dan sejalan dengan interaksi antar elemen-elemen, kaum Neorealis juga memberikan fokus pada balance of power. Karena jika setiap elemen, dalam hal ini negara, mampu menyeimbangkan pola hubungan antara negara, maka akan tercipta keseimbangan antara negara-negarayang kuat dan yang lemah.

            Terdapat tiga sistem penempatan kekuatan negara berdasarkan power atau kekuatan yang dimiliki, yaitu sistem unipolar, bipolar dan multipolar (Waltz 1979). Sistem unipolar menjelaskan hanya ada satu negara great power dalam hubungan internasional. Sementara sistem bipolar memiliki pendapat bahwa di dunia hanya ada dua negara great power. Contoh nyata sistem bipolar adalah dengan berkaca pada peristiwa Perang Dingin. Perang dimana Amerika Serikat dan Uni Soviet menjadi dua poros utama, sekaligus menjadi dua aktor yang memiliki kekuatan yang sangat besar dalam hubungan internasional. Dan sistem multipolar mengacu pada sejumlah negara great power. Bagi kaum neorealis, sistem bipolar dipandang sebagai sistem paling cocok dengan keadaan masa sekarang. Hal ini diakibatkan oleh sifat kestablian dari sistem bipolar lebih jelas terlihat, tidak terlalu terpapar dengan keberagaman great power dan perubahan sistem bisaq diminalisir (Waltz 1979).   

            Semua perubahan yang terjadi pada dunia internasional akan memainkan peranan yang penting, dalam artian pola hubungan internasional antar negara. Jika ada negara yang kuat tiba-tiba jatuh, maka aka nada negara-negara lain yang mampu menggantikan posisi negara tersebut. Hal ini bisa dipahami bahwa perimbangan kekuatan bisa bergeser (merujuk pada balance of power di penjelasan bagian awal). Kaum neorealis juga mengakui eksistensi institusi dan organisasi internasional. Karena pada dasarnya institusi dan organisasi internasional juga turut serta melakukan pola hubungan internasional. Hal ini juga diperkuat dengan keberadaan institusi dan organisasi internasional sebagai aktor hubungan internasional yang sah. Neorealisme tidak menyangkal semua kemungkinan bagi kerjasama antar negara, namun mereka berpendapat bahwa negara akan selalu berusaha memaksimalkan kekuatan relatif dan mempertahankan otonominya (Jackson & Sorensen, 1999).

            Sementara itu, kaum neoliberal memiliki teori yang berangkat dari pendekatan liberalisme. Kaum neoliberalis memandang bahwa negara adalah aktor yang  egois dan selalu mencari keuntungan maksimal. Hal ini terpancar dari dasar perspektif neoliberalis yang mengejar absolute gains, pencapaian maksimal. Perbedaan dapat ditemui dengan dasar teori kaum neorealis yang hanya mengejar pencapaian relatif atau relative gains. Dalam pendekatan neoliberalis, negara berusaha mengimplementasikan kepentingan mereka terhadap keberadaan negara lain. Mereka tidak peduli jika negara lain untung atau bahkan rugi, selama mereka akan selalu mendapat untung.

              Kemudian dapat dikatakan bahwasanya kaum neoliberalis memandang bahwa negara adalah aktor utama dalam kondisi anarkis di dunia global. Kerjasama di bawah lingkup pemerintahan sangat memungkinkan untuk terjadi, dan negara dianggap menjadi fasilisator utama terjadinya interaksi ini. Tetapi kaum liberal melihat jika kerjasama akan selalu mendapatkan hambatan yang serius, karena dalam sistem pemerintahan yang anarki negara selalu mengejar keuntungan absolut, sehingga muncul kecenderungan para aktor untuk berbuat curang demi memaksimalkan keuntungan yang ingin didapat.

            Kaum Neoliberalis berusaha untuk melihat dunia dengan cara pandang yang berbeda dengan kaum neorealis. Kaum neoliberalis tidak selalu memandang dunia sebagai kesatuan global yang selalu konfliktual. Sehinggan keberadaan mereka ternyata membawa dampak positif. Proses hubungan internasional antar negara mejadi lebih kooperatif dan damai. Dan pelan-pelan pandangan neoliberal mulai dapat diterima oleh khalayak umum, terlebih lagi pada tahun 1970.  Hubungan antar negara industri menjadi semakin intens, karena tercipta sebuah pola hubungan kerjasama dan saling ketergantungan. Derajat interdependensi yang tinggi menyebabkan negara membentuk institusi-institusi internasional untuk menghadapi masalah bersama. Institusi ini akan memajukan kerjasama lintas batas antar negara.

            Cara pandang seseorang akan menjadikannya untuk bertingkah laku layaknya cara pandang yang dianut. Hal yang sama juga terjadi pada disiplin ilmu Hubungan Internasional. Keberadaan perspektif neorealis dan neoliberalis membantu para penstudi untuk melihat dunia dengan cara pandang yang baru dan telah disesuaikan dengan perubahan jaman yang tengah terjadi. Apabila muncul pertanyaan perspektif manakah yang paling benar, maka pertanyaan tersebut harus dijawab dengan tidak ada perspektif yang benar ataupun salah, yang ada adalah perspektif mana yang lebih cocok untuk dipakai sebagai pegangan. Setiap pandangan memiliki poin-poin sendiri dan perbedaan ini ada untuk saling mengisi satu sama lain.

 

 

REFERENSI :

Jackson, R and Sorensen, G. 1999. Introduction to International Relations. Oxford University Press

Waltz, Kenneth. 1979. Theory of International Politics [Paperback].

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :