WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

INTEGRASI TEORI REZIM INTERNASIONAL (KELOMPOK)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 25 March 2013
di REZIM GENAP 2012/2013 - 0 komentar

Penggabungan Teori-Teori Rezim Internasional

            Segala jenis hubungan yang dijalin dalam dunia internasional didasari oleh berbagai jenis kepentingan dari setiap aktor nya. Berbagai kepentingan tersebut diperhatikan,dianalisis,dan disimpulkan sehingga menjadi teori yang menjelaskan berbagai fenomena yang terjadi dalam hubungan internasional. Dari berbagai teori yang ada, dua teori yang sangat lama dalam studi Hubungan Internasional – realisme dan neoliberalisme- ikut serta melandasi teori-teori rezim internasional. Rezim internasional sendiri telah menjadi fokus besar dalam penelitian teoritis dan empiris dalam Hubungan Internasional sekarang ini. Para pelajar studi ini pun berusaha menggambungkan ketiga teori Hubungan Internasional-neoliberalisme, realisme, dan kognitivisme- dalam sebuah teori besar yang dapat menjelaskan bagaimana sebenarnya selama ini rezim internasional dapat ada,bertahan,dan hidup. Perang Dunia ke-2 pun disinggungkan kembali dalam artikel Integrating Theories of International Regimes sebagai contoh aktualisasinya.

            Diketahui bahwa rezim internasional merupakan sebuah tipe besar dari intitusi internasional. Merupakan sesuatu yang sengaja dibentuk dan menjadi bagian dalam perintah internasional baik pada sebuah regional maupun pada satu lingkup global (Hasenclever,et al, 2000). Dalam ulasan sebelumnya, rezim disadari sebagai sebuah alat yang dapat digunakan untuk memfasilitasi negara dalam mendapatkan kepentingannya melalui jalan menciptakan ekspektasi yang terbagi dan dengan meningkatkan tingkat transparansi dalam sebuah isu area agar kerjasama menjadi lebih terlihat menjanjikan. Saat ini pun rezim telah ada dalam segala aspek di dunia perpolitikan, seperti rezim keamanan, rezim ekonomi, rezim lingkungan, rezim hak asasi manusia, dan sebagainya. Dan kini para pelajar Hubungan Internasional merapatkan diskusi tentang rezim menjadi tiga pemikiran: neoliberalisme, realisme, dan kognitivisme. Ketiga pemikiran ini akan dijelajahi lebih mendalam lagi dan secara lebih sistemasis tentang kemungkinan-kemungkinan dari sebuah sintesis (Hasenclever et al, 2000:6)

            Neoliberalisme merupakan teori yang menekankan pada peran dari rezim internasional dalam membantu negara menyadari kepentingan bersama sehingga kerjasama sangat mungkin terjadi dalam perpolitikan internasional (Hasenclever et al,2000:8). Sementara dalam realisme, konsep kerjasama dalam sebuah rezim seperti yang dikatakan oleh kaum neoliberalis merupakan sesuatu yang memerlukan penjelasan lebih lanjut. Hal itu karena distribusi kekuatan dalam rezim itu sendiri mempengaruhi efektivitasnnya. Realisme sungguh percaya akan konsep Keseimbangan Hagemon (Hagemonic Stability) yang mana pemegang kekuatan hagemon inilah yang menjadi pengatur dalam rezim sehingga rezim tersebut dapat berjalan secara efektif (Hasenclaver et al,2000: 9). Namun, dalam sudut pandangan kognitivist, neoliberalis dan realis ini dianggap mengabaikan atau meremehkan sebuah sumber signifikan dari jenis-jenis perilaku dalam internasional. Akhirnya kelompok kognitivis ini membagi dua ruas  terkait analisis rezim dalam pemikiran kognitivist, yaitu kognitivis lemah dan kognitivis kuat. Ruas yang lemah berfokus pada peran kepercayaan sederhana dalam bentuk dan perubahan rezim sementara ruas kognitivis kuat menekankan pada karakter sosial dalam hubungan internasional (Hasenclever et al, 2000:10).

            Beberapa kemungkinan pada sintesis teoritis yang ada dalam studi rezim internasional merupakan kemungkinan-kemungkinan menjanjikan dan considerable, walaupun ia begitu terbatas. Hasenclever dalam artikelnya mencatat bahwa analisis terhadap rezim telah menguntungkan sebuah persetujuan besar dari persaingan perbedaan perspektif teori pada masa lalu. Dua kemungkinan yang sebelumnya dijanjikan dalam menggabungkan teori-teori rezim internasional adalah tentang : (1) bergabungnya neoliberalisme dan realisme dalam sebuah bentuk teori rasional rezim internasional, yang disebut sebagai teori kontekstual.(2) semenjak keduanya memperlakukan kepentingan aktor sebagai sesuatu yang given, mereka mungkin di tambahkan oleh seperangkat pendekatan yang berfokus pada gap yang ada dalam teori rasionalis menuju jaringan berbeda dalam sebuah rantai sederhana (Hasenclever et al,2000: 33).

            Aktualisasi teori rezim internasional pada masa setelah Perang Dunia ke-2 memperlihatkan dua kekuatan besar- AS dan Uni Soviet. Salah satu dari mereka, yaitu AS, muncul sebaga pemenang yangmana artinya juga merupakan pemegang kekuatan besar sehingga dapat menjadi pengendali atas negara-negara lainnya. Setelah sebelumnya pada perang tersebut hubungan antarnegara didasarkan pada kekuatan militer, setelah perang berakhir, kerjasama merupakan fenomena lain dalam hubungan internasional. Kerjasama ini ialah kerjasama ekonomi, suatu konsep yang dimaksut dalam konsep kerjasama kaum neoliberalis. Kamu liberalis percaya bahwa ekonomi menjadi masalah seluruh negara pada saat itu sebagai akibat dari perang besar yang panjang. Dalam kasus ini, Amerika Serikatlah yang muncul sebagai supplier atas negara-negara tersebut (Keohane, 2005).

            Terdapat tiga permasalahan pasca Perang Dunia ke-2 yang diselesaikan melalui rezim, seperti yang ditulis Keohane dalam artikelnya. Ketiga permasalahan itu tentang stabilitas moneter internasional, penyediaan pasar terbuka bagi barang, dan akses minyak dengan harga yang stabil. Pada masalah stabilitas moneter internasional, sebagai pemegang kekusaan dan pengendali kekuatan terbesar, Amerika Serikat sangat berperan dalam memberlakukan likuiditas agar terjadi stabilitas. Amerika Serikat pun berperan dalam mengurangi tariff dalam permasalahan penyediaan pasar terbuka bagi barang. Dan AS pun menyediakan akses minyak kepada Jepang dan Eropa (Keohane, 2005).

            Kesimpulan dari review ini didapatkan dari hasil analisis teori rezim internasional yang dilakukan oleh pada penstudi Hubungan Internasional dengan menggabungkan konsep dari pemikiran-pemikiran neoliberalis, realis, dan kognitivis. Neoliberalis dan realis tergolong dalam kelompok rasionalis sementara kognitivis masuk dalam kelompoknya sendiri. Perbedaan mendasar antara kelompok rasionalis dan kognitivis kuat terletak pada alamiah para aktor dan hubungan diantara mereka sendiri. Rasionalis menyelidiki sebuah sistem yang merupakan gabungan sejumlah kelompok yang mempengaruhi pemaksimalan keperluan, sementara kognitivis kuat mencoba untuk menerangi masyarakat yang dibentuk oleh suatu komunitas ‘pemain peranan’.

 

 

Referensi:

Andreas Hasenclever, Peter Mayer, Volker Rittberger, 2000, “Integrating Theories of International   

      Regimes”, Review of International Studies, Vol. 26, No. 1 (Jan., 2000), pp. 3-33.

Keohane, Robert O, (2005) “Hegemonic Cooperation in the Postwar Era”, in Robert O.

       Keohane. After Hegemony Cooperation and Discord in The World Political Economy.

       New Jersey. pp. 135-181.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :