WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

KERJASAMA INTERNASIONAL dan REZIM

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 24 March 2013
di REZIM GENAP 2012/2013 - 0 komentar

KERJASAMA INTERNASIONAL dan KEBERADAANYA BERSAMA REZIM

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

        Dewasa ini kerjasama internasional telah menjadi hal yang umum dalam hubungan internasional. Kerjasama internasional menjadi sebuah jalan bagi para aktor untuk melakukan ‘hubungan‘ pemenuhan kepentingan yang diinginkan oleh aktor tersebut. Salah satunya adalah negara sebagai aktor utama dalam hubungan internasional. Negara melaksanakan kerjasama internasional dikarenakan negara tentu saja ingin memenuhi kebutuhan rakyatnya. Menurut Mochtar Kusumaatmadja, kerjasama internasional memiliki peranan yang sangat penting. “Hubungan dan kerjasama antar negara timbul dikarenakan adanya kekayaan alam dan kemajuan industri yang tidak berimbang, sehingga memaksa negara untuk membentuk sebuah kerjasama yang bersifat internasional di berbagai sektor tersebut” (Kusumaatmadja & Agoes 2003). Melalui paper kali ini penulis ingin menjabarkan kerjasama internasional dengan fokus kedekatannya dengan rezim.

        Terdapat tiga buah pendekatan utama mengenai kerjasama internasional dari studi rezim. Pendekatan pertama adalah pendekatan neoliberalisme. Pendekatan ini memandang bahwa kerjasama internasional harus memfokuskan diri pada peranan rezim internasional. Dengan bersandarkan pada rezim internasional, negara bisa memahami common interest (Hasenclever et al. 2000, 7). Bagi kaum neoliberalis, kerjasama internasional (dalam bentuk kooperasi) bagi negara adalah sebuah investasi yang akan menguntungkan bagi negara tersebut. Melalui kerjasama internasional, negara mampu meraup keuntungan lebih untuk menjamin keberadaan mereka. Hal ini sangat sesuai dengan keberadaan kaum neoliberalis sebagai pembentuk negara-negara oportunis, negara yang memberikan fokus untuk mengejar absolute gains. Peranan rezim adalah membantu negara untuk mengkoordinasi tingkah laku negara tersebut, dalam rangka menjaga keberadaan rezim meskipun faktor yang melatarbelakangi keberadaan rezim tersebut telah lama tidak berjalan (Hasenclever et al. 2000, 8).

        Pendekatan kedua adalah pendekatan realisme. Pendekatan realisme memandang bahwa hubungan interstate atau antar negara dalam suatu rezim membutuhkan penjelasan (Hasenclever et al. 2000, 9). Power menjadi isu sentral di dalam kooperasi di antara negara. Distribusi kemampuan antar negara akan secara kritis memengaruhi prospek dan efektifitas rezim yang diakui dan diikuti negara-negara yang kooperasi tersebut (Hasenclever et al. 2000, 9). Perspektif realisme juga mengeluarkan sebuah teori terkenal, yaitu teori stabilitas hegemoni. Teori stabilitas hegemoni menjadi salah satu sumbangsih terbesar kaum realis bagi keberadaan rezim itu sendiri.

        Pendekatan ketiga adalah pendekatan kognitif. Pendekatan kognitif menitikberatkan pada karakter sosial dalam hubungan internasional (Hasenclever et al. 2000, 10). Bagi kaum kognitif, ketidak-pastian dalam hubungan kausal membuat para decision-maker untuk bertindak atas pengaruh politis (Hasenclever et al. 2000, 10). Termasuk apakah sebuah negara akan mengikuti sebuah kerjasama internasional atau tidak, semua hal itu kembali kepada para decision-maker sebagai pengambil keputusan.

        Dari tiga pendekatan diatas, maka dapat dilihat bahwasanya keberadaan kerjasama internasional sangat penting. Kerjasama internasional memberikan wadah bagi para aktor untuk melaksanakan pola hubungan internasional dengan cara kooperasi dan kerjasama antar aktor. Memang, tidak dapat dipungkiri bahwasanya akan ada pihak-pihak penguasa (hegemon) yang akan mendominasi. Lantas bagaimana para aktor hegemon menawarkan pola kerjasama internasional? Para aktor hegemon akan berupaya keras menawarkan diri sebagai penyuplai international public goods. Dengan semua sumber daya dan kemampuan yang dimilikinya, tidak akan sulit bagi negara hegemon untuk mendapatkan posisi yang tinggi dalam kerjasama internasional. Sehingga penyelenggaraan kerjasama internasional beserta ketetapan dan ketentuannya bisa dipimpin oleh aktor hegemon. Salah satu peranannya bisa kita lihat pada kerjasama-kerjasama internasional setelah Perang Dunia II. Mulai banyak kerjasama internasional yang bermunculan ke publik, dengan berbagai kepentingan yang mengendarainya. Bisa dilihat bagaimana ASEAN begitu memainkan peranan penting di Asia Tegnggara, bagaimana GATT dan rezim Bank Dunia merubah wajah dunia, dengan Amerika menjadi penyokong utamanya.

        Apakah mungkin jika kerjasama internasional berjalan tanpa aktor hegemon? Bisakah kerjasama internasional tetap nerjalan meskipun keberadaan aktor hegemon tidak diakui lagi? Secara praktek hal tersebut masih memungkinkan. Mungkin saja sebuah negara hegemon ‘keluar’ dari sebuah kerjasama internasional dalam periode waktu tertentu. Tetapi negara hegemon tersebut secara sengaja ataupun tidak sengaja akan menciptakan sebuah ‘rezim’ di dalam kerjasama internasional tersebut. Sehingga, faktor-faktor seperti kebiasaan atau bahkan akan ketidakstabilan akan tetap tertinggal dalam ‘rezim’ dimana keberadaan rezim tersebut telah menjadi semacam ‘konsepsi umum’ yang diakui oleh negara-negara lain yang ikut dalam kerjasama internasional tersebut.

         Kerjasama internasional memberikan wadah yang memungkinkan bagi setiap negara untuk melakukan pola hubungan internasional. Negara bisa berinteraksi secara lebih intens dengan negara lain, karena negara tersebut telah menyetujui aturan-aturan yang dianut dalam ketentuan dalam kerjasama internasional tersebut. “Maka, akan tercipta ketergantungan antar-bangsa dalam berbagai bidang, seperti perdagangan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan masih banyak lagi” (Kusumaatmadja & Agoes 2003). Kerjasama internasional membuka berbagai macam kemungkinan baru bagi setiap negara untuk melakukan hubungan internasional dalam dunia global.

 

Referensi :

Kusumaatmadja, Mochtar dan Etty R. Agoes. 2003. Pengantar Hukum Internasional. Jakarta. Alumni

Hasenclever, Andreas, Peter Mayer dan Volker Rittberger. 2000 “Integrating Theories of International Regimes”,dalam Review of International Studies, Vol. 26, No. 1 (Jan, 2000)

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :