WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

LIMA KLAIM UTAMA GLOBALISME

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 19 March 2013
di PENGANTAR GLOBALISASI GENAP 2012/2013 - 0 komentar

LIMA KLAIM UTAMA GLOBALISASI

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

        Dewasa ini, globalisasi telah memainkan peranan penting dalam pola hubungan internasional negara-negara di dunia. Dunia menjadi semakin sempit dan terkoneksi satu sama lain. Aliran data masuk dan keluar begitu cepatnya. Kejadian apapun di penjuru dunia bisa saja memiliki dampak terhadap negara lain, di penjuru dunia lain. ‘Dislokasi global’ (Le Grain 2003, 102) dan ‘pertukaran politik dan budaya’ (Le Grain 2003, 96) hanyalah beberapa contoh istilah-istilah yang muncul akibat dari adanya globalisasi. Bahkan, secara global globalisasi berkembang menjadi sebuah ideologi, yang keberadaannya telah diterima dan diakui oleh khalayak umum. Globalisasi dan kapitalisme pun bekerja sama dengan prinsip-prinsip neoliberalis untuk mengagung-agungkan prinsip pasar bebas bagi para globalis untuk menguasai sistem politik dan perdagangan dunia. Penguasaan politik ini tentu saja didasari oleh dasar rasa atau keinginan untuk mencapai keuntungan semaksimal mungkin (pahami prinsip dasar kapitalis). Dan hal ini diperparah dengan persepsi publik terhadap keberadaan globalisasi itu sendiri. Publik melihat bahwa tidak ada yang salah dengan globalisasi, globalisasi berjalan dengan sendirinya dan tidak terelakkan, dan sebagainya. Seorang tokoh terkenal, yaitu Manfred B. Steger, mencoba mengulas fenomena perubahan globalisasi yang perlahan menjadi globalisme ini melalui lima klaim utama globalisme. Lima klaim ini dapat dijadikan referensi menarik bagi para penstudi globalisasi sebagai bahan studi utama mengapa globalisasi mengalami kristalisasi konsep dan realitas yang didalangi oleh kaum neoliberal, sehingga lama kelamaan muncul sebagai bentuk globalisme.   

        Klaim pertama adalah ‘Globalization is about the Liberalization and Global Integration of Markets’ (Steger 2002, 47). Apakah globalisasi adalah liberalisasi dan integrasi pasar yang global? Faktanya adalah liberalisasi dan integrasi pasar global ini memungkinkan pasar untuk menentukan kebebasan individu untuk bergerak dan bermanuver. Pasar, dengan ‘tangan tak kelihatannya’, atau market’s invisible hands memberikan semacam keleluasaan bagi para individu (lebih mengarah kepada elit kapitalis) untuk terus memainkan peranan dalam pasar bebas. Adanya upaya untuk melawan hukum dan peraturan yang menjadi penghalang aliran bebas barang, servis dan capital (Steger 2002, 49), adalah saksi bagaimana liberalisasi dan integrasi pasar mengambil peranan dan ‘bermain’ demi pencapaian keuntungan maksimal.

        Klaim kedua adalah ‘Globalization is Inevitable and Irreversible’ (Steger 2002, 54). Apakah globalisasi menjadi terelakan dan tidak dapat kembali? Jawabannya bisa dirunut dari upaya kaum globalis yang menanamkan sebuah nilai dimana globalisasi adalah proses yang natural (berjalan dengan sendirinya) dan mutlak (setiap pihak harus merasakan kehadiran globalisasi, dan berhadapan dengan konsekuensinya). Namun, kenyataan yang harus dipahami adalah klaim ini disinyalir hanyalah sebuah propaganda Amerika. Amerika dengan sangat pintar dan jeli memanfaatkan situasi dan menempatkan diri mereka di luar sistem globalisasi, padahal dengan beserta pihak-pihak lain, seperti IMF ataupun World Bank sekalipun, mereka mengawasi proses perkembangan globalisasi setiap negara. Thomas Friedman pun mengatakan bahwa Amerika memiliki peranan unik dalam globalisasi dunia – “Amerika bukan hanya negara, mereka adalah contoh spiritual dan role model, dan Amerika menjadi suar (beacon) bagi seluruh dunia (Steger 2002, 59). Dan klaim kedua ini memiliki keterkaitan dengan klaim ketiga.

        Klaim ketiga adalah ‘Nobody is in charge of Globalization’. Apakah benar tidak ada seorang pun yang memegang kendali atas globalisasi? Tentu saja tidak. Amerika telah menjadi dalang dari keberadaan globalisasi. Terlalu naïf memang bila Amerika terus menerus menjadi pihak yang dipersalahkan, tetapi inilah faktanya. Thomas Friedman menunjuk para Electronic Herd, sekumpulan agen yang yang memaksa negara lain untuk membuka pasar mereka untuk melaksanakan free trade dan free investments di Amerika (Steger 2002, 64). Joseph Gorman pun menyanggah hal ini dengan mengatakan Amerika harus menguatkan posisinya sebagai penguasa dalam globalisasi, melalui sepuluh halaman pernyaataannya (Steger 2002, 65).

        Klaim keempat adalah ‘Globalization Benefits Everyone’. Apakah benar globalisasi memang membawa keuntungan bagi semua pihak? Melalui klaim pertama, dapat dilihat bahwa liberalisasi dan integrasi pasar global memungkinkan individu untuk mengambil peranan dalam pasar. Tetapi, individu disini hanyalah para elit kapitalis dan mereka yang memiliki modal yang cukup saja. Dan hal ini terefleksikan dalam klaim keempat. Hanya mereka yang memiliki modal kuat, para elit kapitalis, mereka yang mendominasi dan hegemon, punya kekuatan dan peranan yang begitu kuatnya, sehingga kaum-kaum yang lemah tidak bisa menikmati keberadaan globalisasi itu sendiri. “Ada banyak indikasi atau bahkan bukti, bagaimana pengejaran keuntungan global membuat kaum ’lemah’ menjadi sangat sulit menikmati keuntungan dari tekonologi dan penemuan ilmiah” (Steger 2002, 68). Ironisnya, globalisasi hanya menguntungkan segelintir orang saja, sementara pihak lain tidak mendapatkan apa-apa, mereka bahkan hanya mendapat kerugian dari kemunculan globalisasi.

        Klaim terakhir adalah ‘Globalization Furthers the Spread of Democracy in the World’ (Steger 2002, 68). Apakah betul globalisasi menjadi aktor penyebar demokrasi di dunia? Kembali lagi pada poin-poin klaim sebelumnya, demokrasi disini hanya dimaknai sebagai demokrasi pasar yang semacam ‘diakusisi’ oleh elit-elit kapitalis saja. Tidak pernah ada yang namanya demokrasi dalam tatanan pasar global. Hal ini didalangi oleh pemahaman yang dangkal dan formal-prosedural mengenai ‘demokrasi’ (Steger 2002, 75)..

        Kesimpulan yang dapat ditarik adalah globalisasi telah memainkan peranan penting dalamtatanan dunia saat ini. Tetapi, faktanya globalisasi telah mengalami penyelewengan dan kekeliruan dalam implikasi penanaman dalam tatanan global. Dunia telah memaknai globalisasi dengan pandangan yang sedikit keliru, dapat dikatan bias dan tidak pada tempatnya. “Amerika tidak lagi merasa aman terhadap serangan di tanah Amerika. Isolationism tidak bisa lagi menjadi opsi’ (Le Grain 2003, 115). Inilah bukti bahwasanya globalisasi telah dipahami dan dilaksanakan secara keliru bagi setiap negara. Amerika pun mendapatkan getahnya. Serangan bom World Trade Center ditujukan kepada Amerika sebagai simbol globalisme dan kapitalisme (Le Grain 203, 115).

        Manfred B. Steger menjadi sosok penting pengungkap tabir dibalik globalisasi, yang perlahan berubah menjadi globalisme. Melalui lima klaim yang beliau lontarkan, Steger berusaha mengkritik keberadaan globalisme sebagai bentuk penyelewengan dan kekisruhan globalisasi yang disalah artikan. Harapannya adalah, dengan memberikan enlightment dengan keberadaan globalisasi yang telah salah kaprah diartikan, masyarakat bisa perlahan kembali menuju globalisasi yang diinginkan semua pihak, layaknya globalisasi yang proper seperti pada awalnya kemunculannya.

 

Referensi:

Le Grain, Philippe. 2003. “A Brief History of Globalisation”, dalam Open World: the Truth about Globalisation, London: The Abacus Book, pp. 80-117

Steger, Manfred B. 2002. “Five Central Claims of Globalism’, dalam Globalism: the New Market Ideology, Oxford: Rowman & Littefield Publisher, Inc.,pp. 43-80

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :