WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

REZIM SEBAGAI JALAN KELUAR

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 17 March 2013
di REZIM GENAP 2012/2013 - 0 komentar

REZIM SEBAGAI SEBUAH ALTERNATIF JALAN KELUAR

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

      Rezim internasional dewasa ini menjadi fokus utama riset empiris dan debat teoritis hubungan internasional (Haggard&Simmons, 1987:492). Kepentingan dari keberadaan rezim international menjadi riset empiris dan debat teoritis berangkat dari ketidakpuasan terhadap konsepsi dominan dari keteraturan internasional, otoritas dan organisasi. Hal ini merupakan refleksi dari perspektif realis yang dianggap mampu menjawab semua peristiwa yang terjadi pada masa lampau, dimana semua sendi-sendi kehidupan diisi dengan keberadaan perang yang silih berganti. Perspektis realis sebagai perspektif utama yang dianut banyak negara pada masa tersebut, dengan sistem anarkis yang menempatkan negara sebagai aktor utama dan dominan dalam hubungan internasional, mulai dianggap melemah. Melemahnya perspektif realis ini diakibatkan oleh berbagai macam persoalan yang timbul dalam lingkup hubungan internasional, yang tidak hanya berkutat pada masalah perang saja. Mulai bermunculan berbagai macam persoalan yang sifatnya lebih kompleks dan datang dengan bentuk yang sama sekali baru. Maka, diperlukan sebuah jalan baru, sebuah solusi untuk menyelesaikan segala macam persoalan tersebut. Kemunculan rezim internasional dipandang sebagai jalan keluar yang ditunggu oleh banyak pihak.

      Rezim internasional berpatokan pada kelakuan atau tindak tanduk yang berpola (Haggard&Simmons, 1987:493).  Bagi seorang Krasner, rezim adalah seperangkat prinsip, norma, aturan dan proses pengambilan keputusan bagi para aktor berkaitan dengan ekspektasi aktor-aktor tersbut pada sebuah isu yang ada dalam hubungan internasional (Krasner, 1982:1). Isu-isu inilah dapat dianggap sebagai bentuk baru persoalan yang harus dihadapi para aktor. Melalui rezim, kelakuan setiap aktor (dalam hal ini negara) dibentuk seddemikian rupa, sehingga aktor-aktor tersebut mampu bertindak seperti yang diinginkan oleh rezim yang dianut.

      Bagaimana caranya negara-negara bisa menjadi patuh dan tunduk terhadap keberadaan rezim? Jawabannya simpel, karena keberadaan perangka-perangkat dalam rezim berusaha untuk memenuhi keinginan semua pihak (pahami konteks keinginan dengan ekspektasi). Perangkat-perangkat ini akan membentuk sebuah prosedur tak baku yang bersifat koheren, dimana keberadaannya akan diikuti oleh para aktor karena dimotori oleh ekspektasi mereka sendiri (Krasner, 1982:2). Sehingga, keberadaan rezim tidak akan muncul dengan sembarangan. Rezim akan muncul jika terdapat masalah yang bersifat spesifik. Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan keberadaan rezim Maka rezim ada dalam berbagai persoalan di area yang substansional dan spesifik dalam hubungan internasional (Haggard&Simmons, 1987:493).

      Keberadaan rezim bisa mengalami perubahan. Ada empat faktor utama mengapa rezim bisa mengalami perubahan. Faktor pertama adalah power atau kekuatan. Kekuatan diukur melalui bagaimana derajat kerelaan aktor untuk mengikuti perintah-perintah di dalam rezim (Haggard&Simmons, 1987:496). Faktor kedua adalah bentuk organisatoris dari rezim. Bagaimana design organisatoris dan pengoperasian rezim berlaku bagi negara-negara dalam rezim tersebut (Haggard&Simmons, 1987:496). Faktor ketiga adalah bidang atau ruang lingkup rezim. Bagaimana ruang lingkup sebuah rezim dalam memahami sebuah isu (Haggard&Simmons, 1987:497). Faktor terakhir adalah mode alokasir rezim. Bagaimana rezim berorintasi pada alokasi sumber daya (Haggard&Simmons, 1987:497).

      Pemahaman mengenai rezim dapat dipahami melalui empat jalan (teori), yaitu struktural, permainan dan strategi teoritis, fungsional dan kognitif (Haggard&Simmons, 1987:498). Tiga teori pertama adalah teori yang bersifat state-centric. Teori struktural beranggapan bahwa kondisi dalam dunia internasional memungkinkan untuk terjadinya kooperasi antar aktor. Salah satu bagian teori struktural adalah theory of hegemonic stability (Haggard&Simmons, 1987:498). Pendekatan strategi dan permainan bertumpu pada pilihan penataan analisis. Bagaimana para aktor melakukan kerjasama, hal tersebut merupakan bagian dari strategi layaknya permainan, karena para aktor tersebut tengah mengambil peran dalam sebuah permainan antar negara (Haggard&Simmons, 1987:498). Teori fungsional menjelaskan bagaimana kelakuan intitusi dalam kaitannya dengan efek yang akan ditimbulkan (Haggard&Simmons, 1987:506). Sebagai contoh, bagaimana reward dan konsekuensi dari rezim bila diikuti atau tidak oleh sebuah negara. Sementara teori kognitif lebih menekankan diri pada intersubjective meaning structures (Haggard&Simmons, 1987:498).

 

      Rezim internasional memainkan peranan penting dalam hubungan internasional. Rezim mampu memberikan solusi baru bagi para aktor dalam hubungan internasional untuk  mengahadapi berbagai macam bentuk persoalan. Maka tak salah jika rezim dianggap sebagai sebuah alternatif jalan keluar baru.

Referensi :

Haggard, Stephan & Beth A. Simmons. 1987. “Theories of International Regimes” dalam International Organization. Vol. 41.  No.3 (Summer 1987). hal. 491-517. The MIT Press

Krasner, S. D. 1982. Structural Causes and Regime Consequences: Regime as Intervening Variables. Dalam (Penyunt.) International Regimes (hal. 1-21). Cornell University Press.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :