WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

REALISME

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 12 March 2013
di TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL GENAP 2012/2013 - 0 komentar

REALISME, SEBUAH PENJELASAN SINGKAT

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021 (KELAS A)

 

        Perspektif realisme adalah salah satu perspektif terkenal dan tertua dalam studi Hubungan Internasional. Perspektif ini muncul sebagai refleksi atas keadaan dunia yang kacau balau setelah terjadinya Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Sehingga tidak salah bahwa pandangan dari perspektif ini selalu saja berkutat pada masalah keamanan dan kemampuan bertahan hidup sebuah negara. Perspektif realisme juga dianggap sebagai perspektif yang paling bisa menjelaskan keadaan dunia pada saat tersebut, secara riil dan paling masuk akal. Melalui paper kali ini penulis ingin menggali lebih lagi mengenai pengertian realisme. Apa itu perspektif realisme, bagaimana perspektif ini memandang negara sebagai aktor utama, dan bagaimana perspektif realisme memandang dunia internasional.

        Pada dasarnya perspektif realisme adalah perspektif yang memandang politik internasional pada sisi kompetitif dan konfliktual (Wardhani, 2013). Salah seorang tokoh realis ternama, E.H. Carr, memandang bahwa politik internasional sebagai dunia yang jahat, dan sesuai dengan sifat dasar manusia (Carr, 1961). Sifat dasar manusia menurut Carr adalah ‘a cult of individualism’, pemuja individualisme. Individualisme ini adalah rasa atau keinginan untuk menang sendiri, mendominasi segala sesuatu yang ada, tidak ingin kalah, dan dapat bertahan dari musuh (Carr, 1961). Carr secara jelas menggambarkan bahwa sifat-sifat dasar manusia ini tergambar jelas dalam perilaku setiap negara. Bagaimana sebuah negara berperang dengan negara lain, bagaimana sebuah negara menjajah negara lain dan merampas semua harta kekayaan sumber daya alam negara tersebut. Sehingga, perspektif realis sering bertolak belakang dengan perspektif liberalisme atau idealisme, yang memusatkan diri pada kooperasi antar negara (Wardhani, 2013).

        Perspektif realisme memandang negara sebagai aktor utama dalam hubungan internasional (Wardhani, 2013). Sehingga negara memiliki hak istimewa untuk mengambil segala tindakan yang dirasa pantas dan memungkinkan. Setiap tindakan yang diambil oleh sebuah negara adalah tindakan yang betul-betul harus dipikirkan secara cermat. Dasar bagi negara untuk melaksanakan tindakan adalah pursuit of national interest dan struggle for power. Hal ini sesuai dengan prinsip kaum realis bahwa negara adalah sebuah kesatuan yang utuh dan rasional (Wardhani, 2013). Rasionalitas negara mengacu pada tindakan yang diambil negara tersebut tidak akan di luar batas, tindakan yang diambil negara hanya pada batasan waspada (prudence).

        Mungkin setelah melihat definisi negara sebagai aktor utama, akan timbul pertanyaan baru. Bagiamanakah nasib aktor lain, selain negara? Apakah peranan aktor selain negara juga masih diakui? Atau, hanya negara saja yang dianggap sebagai aktor dalam hubungan internasional? Sebetulnya, peranan aktor lain selain negara, bagi kaum realis, tetap ada dan diakui, tetapi peranan dan posisi mereka tetaplah dibawah negara sebagai aktor utama. Aktor-aktor seperti Multinational Corporation (MNC), tetap boleh melaksanakan proses hubungan internasional, tetapi tetap dalam lingkup negara sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam pola hubungan dunia global.

        Kemudian, kaum realis melihat dunia sebagai sebuah keadaan yang anarkis (Wardhani, 2013). Sebelumnya, perlu dipahami bahwa pemahaman mengenai istilah ‘anarkis’ dalam dunia studi Hubungan Internasional berbeda dengan arti anarkis pada media massa pada umumnya. Jika pada media massa pada umumnya, anarkis adalah tindakan kekerasan, istilah anarkis pada dunia Hubungan Internasional mengacu pada sebuah keadaan dimana tidak ada kekuasaan tertinggi di atas negara. Hal ini (ketiadaan kekuasaan tertinggi di atas negara) kemudian berpengaruh pada posisi kedaulatan mutlak. Kedaulatan mutlak adalah milik negara, tidak ada aktor lain yang memiliki tingkatam kedaulatan yang lebih tinggi dari negara sebagai aktor utama.

        Realisme memberikan fokus utama mereka pada aspek survival (Wardhani, 2013). Survival, seperti yang telah diketahui bersama, adalah sebuah kemampuan untuk bertahan hidup di setiap keadaan. Negara pun harus mampu bertahan hidup dalam setiap keadaan, entah itu dalam gempuran yang bersifat perang, ataupun non-perang (misalkan gempuran budaya yang bisa merusak ciri khas bangsa). Terlebih lagi, jika kedaulatan atau sovereignty negara tersebut diserang, negara harus mampu mempertahankan kedaulatan mereka. Hal ini sejalan dengan prinsip dasar realisme lainnya, yaitu pengesampingan moral. “Morality has limited place in international politics” (Wardhani, 2013). Tindakan apapun dapat dilakukan, jika menyangkut prinsip bertahan hidup. Prinsip moral tetap dijunjung tinggi, tetapi moral dapat dikesampingkan jika hal itu berkenaan dengan keberadaan negara dalam hubungan internasional.

        Sehingga bagi kaum realis, perang yang terjadi pada saat itu memang dapat dimaklumi. Perang yang terjadi mungkin diakibatkan oleh proses pembelaan kedaulatan sebuah negara. Perang juga bisa dipahami sebagai gambaran dari sifat dasar manusia, yang terefleksikan dalam sifat sebuah negara. Lalu, apakah kedamaian bagi kaum realis, ada dan diakui? Jika selama ini kaum realis begitu mengagung-agungkan perang sebagai jalan utama negara untuk bertahan hidup, apakah kaum realis juga masih memahami arti dari kedamaian? Secara teori, kaum realis masih memahami arti dari kedamaian. Tetapi, proses pengaplikasian kedamaian ini yang sedikit berbeda dengan pemahaman umum. Bagi kaum realis, kedamaian dapat tercipta dengan jalan lain, seperti manufaktur senjata. Pada Perang Dingin, Amerika dan Uni Soviet berlomba dalam usaha pembuatan senjata. Memang pada saat Perang Dingin, tidak ada perang yang terlihat secara kentara antara Amerika dan Uni Soviet, dan kedamaian dapat tercipta. Tetapi kedamaian yang tercipta adalah kedamaian semu. Bagi mereka, kedamaian dapat tercipta dengan pertunjukan militer pasif, siapa yang mampu memproduksi senjata yang jauh lebih banyak dan kuat, dialah pemenangnya.

         Di dalam perpsektif realisme, ada dua aliran utama, yaitu classical realism dan radical realism (Wardhani, 2013). Realisme klasik menekankan fokus kepada konsep national interest. Hal ini sejalan dengan para tokoh realis klasik seperti Reinhold Niebuhr; Hans Morgenthau, George F. Kennan, E.H. Carr dan N. Spykman yang dianggap sebagai tokoh-tokoh penemu konsep national interest. Kaum realis klasik juga tidak menganggap kemenangan mutlak/absolut sebagai harga mati, mereka hanya melihat bahwa kemenangan memang diperlukan, tetapi cukup kemenangan yang relatif saja (Wardhani, 2013). Hal ini didasari oleh tidak ada yang namanya kemenangan mutlak, karena bisa saja hari ini menang, dan besok akan muncul musuh yang lebih kuat dan memiliki kemampuan mendominasi yang lebih baik. Disamping itu, kemenangan mutlak hanya akan dianggap sebagai tindakan yang sia-sia, karena akan menghabiskan sumber daya manusia dan alam negara tersebut. Sementara realisme radikal menekankan diri pada keagungan atau glorification pemenangan pada perang. Bagi kaum realis radikal, segala tindakan akan dibenarkan selama tindakan tersebut berkenaan dengan keberadaan negara dalam hubungan internasional. Beberapa tokoh pendukung teori realisme radikal adalah Thucydides, Machiavelli dan Thomas Hobbes.

        Demikianlah uraian singkat penulis mengenai realisme. Kiranya uraian singkat di atas dapat memberi pemahaman lebih baik mengenai perspektif realisme.

 

Referensi :

Wardhani, Baiq. & Vinsenzio M. A. Dugis, 2013. Realism. Materi kuliah disampaikan pada kuliah Teori Hubungan Internasional Departemen Hubungan Internasional Universitas Airlangga. 7 Maret 2013

Carr, E.H., “Part II : Society and Individualism” dalam What is History. 1961. United Kingdom: University of Cambridge & Penguin Books

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :