WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

INSTITUSIONALIS dan REZIM (INDIVIDU)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 10 March 2013
di REZIM GENAP 2012/2013 - 0 komentar

MELIHAT IO MELALUI PENDEKATAN INSTITUSIONALIS dan REZIM

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

        Jika ingin memahami Organisasi Internasional (IO), maka akan muncul dua pendekatan umum yang dapat menjelaskan IO secara utuh. Kedua pendekatan tersebut adalah pendekatan institusional dan pendekatan rezim. Meskipun terdapat beberapa perbedaan mendasar antara kedua pendekatan ini, namun pada kenyataannya masih terdapat beberapa pihak yang dibuat kebingungan. Melalui paper kali ini penulis mencoba memberikan beberapa penjelasan singkat mengenai pendekatan rezim dan institusionalis. Penulis akan memberikan beberapa poin-poin pembeda dari kedua pendekatan dan pengaruh mereka dalam studi mengenai Organisasi Internasional.

        Pendekatan pertama adalah pendekatan institusionalis. Salah satu studi tertua dalam pendekatan institusionalis adalah analisis formal institusional (Barkin, 2006:27). Analisis formal menekankan studi mereka pada struktur formal, organisasi dan hierakri birokratis dari Organisasi Internasional (Barkin, 2006:27-28). Dalam struktur formal dijelaskan bagaimana sebuah Organisasi Internasional memiliki struktur formal, layaknya perusahaan. Di sisi organisasi, analisis formal akan menjelaskan bagaimana IO menjalankan organisasi mereka secara organisatoris dalam konteks ini, secara administratif). Namun ada hal menarik dalam penjelasan hierarki birokratis. Penjelasan ini berargumen bahwa IO dijalankan oleh dua pekerja utama, yaitu pegawai administratif dan pejabat politis (Barkin, 2006:28). Bagi pegawai administratif, mereka bekerja untuk IO itu sendiri dan mereka memberikan loyalitas utama mereka kepada tujuan utama IO. Namun di sisi lain, pejabat politis memiliki tujuan yang berbeda. Seperti yang telah diketahui, pejabat politik adalah representasi sebuah negara dalam IO. Sehingga, meskipun para pejabat politis tetap bekerja kepada IO, namun mereka membawa unsur-unsur politis dan tujuan dari pemerintahan induk (dalam hal ini negara). Sehingga para pejabat politis ini akan berusaha untuk merubah hasil kebijakan IO agar sesuai dengan tujuan yang diminta dari pemerintahan induk tempat mereka bernaung (Barkin, 2006:28).

        Tetapi pada prakteknya, analisis formal institusional mengalami statisme. Analisis formal mungkin mampu menggambarkan IO secara partikular dalam waktu tersebut, tetapi tidak mampu menjelaskan kapan dan bagaimana IO akan berubah (Barkin, 2006:32). Dan hal ini pun terbukti. IO terus menerus berubah dan mengalami perkembangan yang pesat. Untuk menanggulangi hal tersebut, muncul sebuah studi baru, yaitu Neofunctionalism. Studi Neofunctionalism, melihat bahwa wacana mengenai global governance menjadi semakin berkembang karena IO juga terkait terhadap keberadaan negara yang semakin internasional. Kaum fungsionalis melihat bahwa IO menjadi kendaraan utama menuju global governance (Barkin, 2006:32). Kaum neofungsionalis berpendapat bahwa harus ada sebuah integrasi antara negara dan IO. Bagaimana negara dan IO harus bersinergi dalam membangun proses politis dan teknis menuju pemerintahan yang bersifat global.

        Lagi-lagi para penstudi organisasi internasional menemui kendala baru. Meskipun kaum neofungsionalis mampu memberikan pandangan baru mengenai kapan IO bisa berubah, namun mereka belum bisa menjawab sebuah pertanyaan klasik. Pertnayaan tersebut adalah “bagaimana IO melakukan tugasnya, dan bagaimana dampak yang akan muncul akibat aktivitas dari IO itu sendiri” (Barkin, 2006:32). Demi menjawab pertanyaan tersebut, muncul sebuah studi baru yang disebut dengan neoinstitusionalis atau institusi sosiologis (Barkin, 2006:34). Studi ini melihat dan memfokuskan diri pada bagaimana dinamika organisatoris aktual dalam IO itu sendiri (Barkin, 2006:34). Pendekatan ini memiliki dua poin utama, yaitu IO sebagai mekanisme penguat/empowering mechanism, dan komitmen IO terhadap aturan dalam IO tersebut dan prosedur/pathology yang diikuti/dijalankan (Barkin, 2006:34-35).

        Pendekatan kedua dalam rangka memahami IO adalah pendekatan rezim. Pendekatan rezim menjadi pendekatan utama bagi para penstudi IO pada tahun 1980-1990 an (Barkin, 2006:36). Terdapat beberapa perbedaan mendasar antara kedua pendekatan ini. Salah satunya terletak pada cara mereka memandang para aktor. Pendekatan institusionalis menekankan IO sebagai aktor utama dan apa yang akan IO lakukan sebagai aktor utama. Sedangkan bagi pendekatan rezim, mereka lebih melihat negara sebagai actor primer (Barkin, 2006:36). Dan dalam rezim, seperangkat aturan, prinsip, norma dan proses pengambilan keputusan akan mempengaruhi tingkah laku negara dan ekspektasi negara, jika diberikan sebuah isu terkait. Sehingga, rezim lebih spesifik terhadap area isu yang menjadi main concern, berbeda dengan kaum instisionalis yang lebih melihat pada keseluruhan isu.

        Setiap pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangan dalam hal penjelasan mengenai IO. Tetapi hal yang terpenting adalah bagaimana kedua pendekatan ini mampu menjelaskan keberadaan IO dalam Hubungan Internasional. Penulis berharap melalui paper ini, perbedaan antara perbedaan antara kedua pendekatan menjadi nyata sehingga tidak akan membuat bias.

 

Referensi:

J. Samuel Barkin, 2006. “Regimes and Institutions”, dalam International Orgaization, Theories and Institutions. Palgrave McMillan, New York.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :