WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

NASIONALISME SEBAGAI FAKTOR UTAMA KEMUNCULAN INDONESIA

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 10 March 2013
di STUDI STRATEGI INDONESIA 1 GENAP 2012/2013 - 0 komentar

NASIONALISME, FAKTOR UTAMA KEMUNCULAN NEGARA INDONESIA

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

            Bila ditanya hal apa yang melahirkan Indonesia, maka jawaban yang paling relevan adalah nasionalisme. Nasionalisme menjadi pelecut semangat bagi para kaum nasionalis untuk membawa Indonesia menuju tahapan baru. Dan sebenarnya, secara sadar ataupun tidak, orang-orang Belanda-lah yang dalam konteks ‘tidak sengaja’ menanamkan rasa nasionalisme. “Pemerintah Belanda menggalang orang-orang denagn berbagai bahasa dan berbagai kebudayaan itu kedalam suatu kesatuan politis, dan itu justru cenderung mengembangkan dalam diri mereka suatu ‘kesadaran kelompok’ ” (Kahin, 1995:49). Dengan kemunculan ‘kesadaran kelompok’ ini, orang-orang Indonesia mulai merangkaikan semangat-semangat patriotisme, yang pada awalnya bersifat regional menjadi patriotisme yang bersifat luas. Hal ini merefleksikan bahwa garis-garis batas politis (melihat dalam batasan geografis, yang berpengaruh dalam keberagaman etnis) cenderung menentukan kesadaran nasional (Kahin, 1995:49).

            Rasa nasionalisme juga muncul dalam bentuk kejayaan masa lalu. Tradisi kejayaan masa lalu itu juga penting dalam perkembangan kebanggaan komunitas yang mendasari perkembangan nasionalisme (Kahin, 1995:50). Dengan pengagungan wilayah Indonesia, yang dipahami pada jaman tersebut sebagai Nusantara, sangatlah luas dan kaya. Bagaimana propaganda mengenai kebesaran Kerajaan Majapahit dan keagungan Kerajaan Sriwijaya menjadi pelecut utama pergerakan nasionalis.

            Namun faktor terpenting yang mendukung pertumbuhan suatu nasionalisme terpadu adalah tingginya derajat homogenitas agama di Indonesia (Kahin, 1995:50). Tidak dapat dipungkiri, bahwa lebih dari 90 persen dari penduduk Indonesia pada jaman tersebut memeluk agama Islam. Homogenitas agama membawa pengaruh yang berbeda, dikarenakan nilai-nilai agama Islam ternyata mampu bersinergi dengan kebudayaan Jawa kuno, tetapi pada prakteknya keberadaan agama tidak dapat dipahami secara utuh. Pemahaman tidak utuh ini dapat dilihat dalam sinergi nilai ikatan dalam simbol kelompok – dalam (in-group), untuk melawan penjajah, yang dalam hal ini adalah orang-orang Belanda yang mayoritas beragama Kristen. Sehingga, penyebaran nasionalisme dibayang-bayangi dengan penyebaran agama Islam yang membawa maksud tertentu. Bukti dari maksud tertentu ini dapat dilihat dalam pernyataan “mendorong sejumlah besar bangsawan Indonesia untuk memeluk kepercayaan Islam sebagai suatu pergerakan politis untuk melawan penetrasi Kristen “ (Kahin, 1995:51).

            Fase kemunculan rasa nasionalisme di Indonesia memang tidak dapat dipastikan. Namun asumsi-asumsi publik memberikan tenggat kasar, yaitu sekitar dasawarsa kedua abad ke 20. Nasionalisme pada saat itu mulai muncul ketika dampak pemerintahan Belanda yang sewenang-wenang mulai merugikan Indonesia. Hal ini mulai berdampak pada kondisi sosial-politik di Indonesia. Salah satunya berimbas kepada kelompok etnis Cina. Pada awalny etnis Cina memiliki hubungan mesra dengan Belanda. “orang Cina disukai VOC” (Viekke, 1961:385), “setelah 1800 mereka menjadi bagian penting dalam pengorganisasian Sistem Kultur dan monopoli pemerintah” (Viekke, 1961:385). Namun, sekitar pertengahan abad ke-19, kaum etnis Cina “dijauhi” oleh kaum Belanda. Hal ini merupakan refleksi dari perubahan yang terjadi di Asia, dapat dilihat dari modernisasi Jepang dan pergerakan besar-besaran orang Cina menuju Indonesia. Keretakan hubungan dengan Belanda ini menimbulkan krisis identitas bagi orang Cina yang lahir di Indonesia, yang “hanyalah orang Cina dalam tradisi, bukan kebangsaan” (Viekke, 1961:389).

            Bagi kaum Jawa pun, kehadiran nasionalisme juga membawa dampak. Berdirinya Budi Utomo kelak menjadi tonggak utama gerakan nasionalis Indonesia awal. Pengikut-pengikut Budi Utomo yang pertama terdiri atas kaum bangsawan Jawa, pejabat pemerintah, dan intelektual Indonesia. (Viekke, 1961:392). Hal ini pun menjadi batu loncatan berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1991.

            Kemunculan Budi Utomo dan SDI kelak akan menjadi pionir bagi gerakan-gerakan lain. Eduard F.E. Douwes Dekker dan Semaun hanyalah contoh kecil dari berbagai gerakan nasionalis yang muncul di Indonesia. Gerakan-gerakan nasionalis inilah yang pada akhirnya mengantarkan penduduk Indonesia untuk mulai mengenal apa itu Indonesia. “Orang Indonesia mungkin juga menganggap nasionalisme dan sosialisme itu satu dan sama adanya, yaitu untuk perjuangan melawan dominasi asing” (Viekke, 1961:400)

            Meskipun mayoritas gerakan-gerakan nasionalis ini menuai kritikan dan jalan terjal, atau bahkan mengalami akhir yang tragis, tetapi keberadaan mereka tetap memainkan peranan penting. Dengan bantuan rasa nasionalisme, rakyat Indonesia pada jaman tersesbut bisa menjadi satu kesatuan dan memerangi Belanda dan bahkan Jepang, demi mencapai gagasan sebuah negara baru yang terlepas dari cengkeraman koloni dan merdeka secara politik. Bila ada pertanyaan, seberapa pentingkah keberadaan rasa nasionalisme dalam proses menuju Indonesia, ada sebuah jalan menarik. Bayangkan diri anda sebagai seorang Belanda, dan bacalah kutipan Ki Hajar Dewantara tentang “Als ik eens Nederlander was” (Anderson, 1991:117). Jika anda mengerti apa yang Ki Hadjar Dewantara sampaikan, berarti anda telah mengerti peranan nasionalisme bagi rakyat Indonesia.

Referensi:

Kahin, George McTurnan. 1995. “Timbulnya Pergerakan Kebangsaan Indonesia”, dalam Nasionalisme dan Revolusi Indonesia, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, hal. 49-82

Viekke, Bernard H.M., 1961. “Berakhirnya Suatu Koloni, Lahirnya Suatu Bangsa”, dalam Nusantara: Sejarah Indonesia, Jakarta: Keputakaan Populer Gramedia, hal. 380-425

Anderson, Benedict. 1991. “The Last Wave”, dalam Imagined Community : Reflections on the Origin and Spread of Nationalism, London: Verso, hal. 113-140

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :