WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

APA itu REZIM (INDIVIDU)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 06 March 2013
di REZIM GENAP 2012/2013 - 0 komentar

SEBUAH PENJELASAN SINGKAT MENGENAI REZIM BESERTA PERKEMBANGANNYA DALAM DUNIA HUBUNGAN INTERNASIONAL

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

Jika anda bertanya kepada orang awam, bayangan apa yang terbersit dalam benak anda mengenai istilah ‘rezim’, maka dapat dipastikan, berbagai hal yang berbau negatif akan muncul. Bagi orang awam, istilah rezim sering diartikan dengan pengertian yang salah. Rezim Soeharto dan rezim Hosni Mubarok adalah beberapa contoh jawaban orang awam mengenai pengertian istilah ‘rezim’ di benak mereka. Seolah-olah penggunaan istilah rezim hanya dipakai pada lingkup negara yang tidak demokratis. Dan bahkan bagi orang awam, rezim dipandang hanya memberikan dampak kepada sebuah negara bersangkutan saja. Anggapan- anggapan ini pada dasarnya bisa dikatakan keliru. Hal ini bisa dipahami karena propaganda media massa yang turut serta memberikan penjelasan yang salah terhadap keberadaan penggunaan dan artian istilah rezim. Lantas, apa itu rezim? Bagaimana cara menggunakan dan memahami istilah ‘rezim’ dengan benar? Apakah betul rezim hanya memberikan dampak tidak luas, hanya kepada negara bersangkutan saja?

 

DEFINISI REZIM INTERNASIONAL

Rezim secara singkat bisa dipahami sebagai perangkat aturan main. Aturan main ini akan membuat para pemain paham cara bermain, hukuman apa yang didapat jika sang pemain tersebut berbuat curang ataupun kalah. Rezim pada dasarnya bersifat internasional. Sehingga, akan lebih baik jika kita memahami rezim sebagai rezim internasional saja. Rezim internasional adalah seperangkat prinsip, norma, aturan dan proses pengambilan keputusan bagi para aktor untuk melaksanakan sebuah pola hubungan internasional, baik secara implisit atau eksplisit. Rezim internasional bertindak bagaikan “wadah” bagi para aktor dalam hubungan internasional untuk melaksanakan pola hubungan mereka. Tokoh-tokoh seperti Donald Puchala, Raymond Hopkins dan Oran Young memandang rezim sebagai karakteristik dalam sistem internasional. Bagi mereka, tidak akan ada kelakuan ataupun tingkah laku terpola yang mampu bertahan untuk tidak memunculkan rezim yang berhubungan dan kongruen dengan tingkah laku tersebut. Di sisi lain, tokoh seperti Susan Strange menentang prinsip, norma, aturan dan proses pengambilan keputusan melalui kritik konvensional yang berstruktur.

Ada beberapa pendapat tokoh terkenal mengenai keberadaan rezim. Keohane dan Nye, menempatkan rezim sebagai sebagai “sets of governing arrangaments” atau perangkat pengaturan pemerintahan1. Perangkat-perangkat ini berupa jaringan aturan, norma dan prosedur yang mengatur perilaku dan pengontrol efek yang akan muncul akibat keberadaan perangkat tersebut (Krasner:1982:2). Haas berpendapat jika rezim mencakup beberapa prosedur, aturan, dan norma-norma yang saling koheren dan saling menguntungkan2 (Krasner,1982:2). Terminologi berbeda terdapat dalam pernyataan Hedley Bull. Beliau merujuk kepentingan aturan dan institusi dalam masyarakat internasional  dengan penggunaan “prinsip umum yang utama, dimana prinsip tersebut akan memberikan otorisasi (memberi kuasa) kepada kelompok individu yang telah ditentukan untuk bertingkah laku selayaknya aturan-aturan yang telah ditetapkan bagi mereka3” (Krasner,1982:2). Sementara, Evans dan Newham menempatkan rezim sebagai kerangka kerja bagi para aktor dalam hubungan internasional (Evans&Newham,1998:471). 

Rezim harus dipahami sebagai entitas yang lebih dari pengaturan sementara. Pengaturan sementara yang bisa berubah, bersamaan dengan pergeseran kekuasaan atau kepentingan. Keohane mencatat bahwa perbedaan analisis dasar harus dibuat antara rezim dan perjanjian. Perjanjian bersifat khusus dan mengikat. Sementara rezim lebih kepada fasilisator untuk memfasilitasi perjanjian. Konsep Waltz mengenai balance of power (keseimbangan kekuasaan, di mana negara dikendalikan oleh tekanan sistematis untuk secara berulang dan terus menerus menyeimbangkan perilaku dan taingkah laku mereka, bagi Waltz bukanlah sebuah rezim. Kaplan menggambarkan sebuah komitmen yang seimbang dimana aturan yang membatasi jangka pendek maksimalisasi kekuasaan secara langsung (terutama tidak menghancurkan aktor penting) dapat dikatakan sebuah rezim.

 

PERKEMBANGAN REZIM INTERNASIONAL

Apakah rezim mengalami perkembangan? Tentu saja rezim akan mengalami perkembangan. Perkembangan ini bisa dipahami sebagai perubahan. Di awal bagian pada tulisan ini telah dijelaskan bahwa rezim terdiri dari prinsip, norma, aturan dan proses pengambilan keputusan. Jika aturan dan proses pengambilan keputusan berubah, perubahan ini hanya terjadi di dalam tubuh rezim itu saja. Rezim tersebut tidak akan berubah, hanya mengalami semacam ‘penyesuaian’ saja. Namun jika prinsip dan norma berubah, maka rezim pun akan berubah. Rezim pun juga dapat melemah. Melemahnya rezim hanya dapat terjadi jika prinsip, norma dan proses pengambilan keputusan menjadi kurang koheren. Melemahnya rezim juga diakibatkan oleh hubungan ke empat elemen tersebut menjadi tidak konsisten dalam praktik di lapangan. Perubahan dalam rezim melibatkan perubahan aturan dan prosedur pengambilan keputusan, tetapi bukan dari norma-norma atau prinsip-prinsip, dan melemahnya rezim melibatkan inkoherensi antara komponen-komponen dari rezim atau inkonsistensi antara rezim dan perilaku yang terkait.

Pada dasarnya, ada 5 faktor utama penyebab perubahan rezim. Faktor pertama adalah Egoistic Self-Interest (Keegoisan kepentingan diri). Faktor ini menjelaskan tentang keberadaan rezim internasional yang memaksimalkan kemampuan satu pihak untuk kebutuhan sendiri. Faktor kedua adalah kekuatan politik. Faktor kedua ini memiliki makna bahwa perkembangan rezim adalah kekuatan politik. Kekuasaan (dalam hal ini dilihat dari kekuatan politik) dapat meningkatkan nilai dan posisi bargaining aktor dalam hubungan internasional. Faktor berikutnya adalah norma dan prinsip. Faktor keempat adalah kebiasaan dan tradisi. Faktor ini mempunyai peran sebagai pelengkap dan penguat tekanan terhadap egoistic self interest dan penyebaran nilai. Faktor terakhir adalah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan memiliki dampak independen dalam sistem internasional.

 

KEPENTINGAN MEMPELAJARI REZIM

Pada dunia dewasa ini, keberadaan rezim menjadi sangat penting. Rezim bersifat mengikat, agar tunduk dan patuh pada hukum, atura dan norma yang berlaku. Dan bagi studi Hubungan Internasional, studi mengenai rezim menjadi sangat penting karena rezim telah memainkan peranan penting dalam setiap aspek hubungan internasional dalam lingkup global.

 

REFERENSI :

Krasner, S. D. (1983). Structural Causes and Regime Consequences: Regimes as Intervening Variables. Dalam Dalam S.D. Krasner (Penyunt.) International Regimes (hal 1-22). Cornell University Press

Evans, G., & Newham, J. (1998). Dictionary of International Relations. London: Penguin Books

1Robert O. Keohane and Joseph S. Nye, Power and Interdepence (Boston: Little,Brown, 1977), p. 19

2Ernst Haas, “Technological Self-Reliance for Latin America: the OAS Contribution,” International Organization 34, 4 (Autumn 1980), p. 553.

3Hedley Bull,  The Anarchical Society: A Study of Order in World Politics)New York: Columbia University Press, 1977), p.54

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :