WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

TRANSKRIP WAWANCARA (GLOBALISASI di MATA PETANI)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 06 March 2013
di PENGANTAR GLOBALISASI GENAP 2012/2013 - 0 komentar

TRANSKRIP WAWANCARA “GLOBALISASI di MATA PETANI”

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

Berikut adalah hasil wawancara dengan narasumber bernama bapak Sampai. Bapak Sampai memiliki rumah di Jalan Made Selatan RW 6. Nomor handphone beliau adalah 031-81288560. Beliau adalah petani lepas di desa Made. Keseharian beliau adalah menaman padi, dan diselingi dengan kacang tanah dan jagung. Jika tidak sedang bekerja di sawah, beliau bekerja serabutan. Pada saat wawancara dilaksanakan, bapak Sampai tengah bekerja sebagai pekerja bangunan sebuah rumah milik tetangga, tepat di sebelah sawah beliau.

PRADIPTA : Selamat pagi bapak. Boleh saya meminta waktu sebentar untuk mewawancarai bapak?

BAPAK SAMPAI  : Oh silahkan mas.

Pradipta A.S :    Bapak pernah mendengar kata Globalisasi? Apakah bapak mengerti atau pernah mendengar kata-kata globalisasi?

Bapak Sampai     :  Waduh mas, dengar aja belum pernah mas. Kalo mas tanyanya tentang sawah atau padi, beras, jagung, baru saya mudeng. Saya nggak tahu mas apa itu globalisasi, dengernya ya baru ini masnya ngomong ke saya.

Pradipta A.S       :    Begini pak. Globalisasi itu seperti info yang ada di belahan dunia lain itu kita bisa langsung tahu seketika di Indonesia pak. Seperti Barrack Obama, Presiden Amerika itu lo pak, yang kulit hitam. Nah itu bagian kecil dari Globalisasi.

Bapak Sampai       :    Wah saya tetap tidak mengerti mas.

Pradipta A.S       :    Tidak masalah pak. Yang penting saya melihat dari cara pandang seorang petani pak. Pertanyaan kedua pak. Jika saya menyebutkan kata globalisasi, seperti penjelasan saya yang sebelumnya, 5 hal apa yang terkait dengan globalisasi?

Bapak Sampai      :    Maksudnya 5 kata globalisasi apa mas?

Pradipta A.S         :    Oh, contoh begini pak. Kalau ada orang yang mengatakan kepada saya petani, pikiran saya langsung berkata padi, beras, cangkul, rokok dan sawah pak. Nah, dari penjelasan saya yang sebelumnya, kira-kira jika saya mengucapkan kata globalisasi, kata apa yang langsung terbersit di benak bapak?

Bapak Sampai    :    Oh ya mungkin sawah yang tambah lama tambah habis, ada traktor juga mungkin, lalu mulai banyak perumahan (perihal perumahan akan dijelaskan pada bagian penjelasan di bawah transkrip wawancara). Terus apa lagi ya mas? Saya bingung mas.

Pradipta A.S.     :    Ya sudah pak, 3 kata saja sudah cukup pak. Pertanyaan ketiga pak, Globalisasi itu baik atau buruk pak?

Bapak Sampai :    Ya jelas buruk mas. Sekarang sawah-sawah pada berkurang karena digusur Ciputra. Sekarang mau nanam padi aja susahnya minta ampun.

Pradipta A.S     :    Berarti saya bisa beralih ke pertanyaan ke empat. Apakah globalisasi menguntungkan semua pihak? Jika iya, pihak mana yang diuntungkan? JIka tidak, pihak mana yang dirugikan?

Bapak Sampai   :    Ya jelas merugikan mas. Kita dulu bertani enak, ga perlu mikir ini itu. Sekarang, gara-gara Ciputra, lahan kita nyawah jadi kurang. Lama-lama kita semakin terdesak. Teman saya aja ada yang terpaksa pindah ke Gresik gara-gara lahannya terpaksa dia jual. La tanah-tanah sebelahnya dibeli sama Ciputra, sawahnya dia ada di tengah, ya terpaksa dia jual, lha wong udah dipetak-petak, terus dikasi pagar, mana bisa dia masuk. Ya sudah, terpaksa dijual. Tapi Ciputra juga membantu mencarikan tanah dan sawah di Gresik juga.

Pradipta A.S       :    Wah ternyata sampai segitunya ya pak. Baiklah, menuju ke pertanyaan ke lima ya pak. Apakah globalisasi itu bisa dihindari pak?

Bapak Sampai       :    Dihindari ini apa mas?

Pradipta A.S       :    Ya mungkin dalam kasus bapak pihak-pihak Ciputra tidak bisa mendekati bapak, atau ya mungkin bapak bisa menolak untuk menjual lahan sawah bapak ke Ciputra kelak.

Bapak Sampai     :    Oh kalau masalah dijual ini ya cepat atau lambat tanah kita pasti bakal ditawar juga. Ya kita lihat saja, mana yang kuat. Tapi tetap saya kira mereka yang akhirnya bakal menang. La bawa polisi sama preaman, mana ada yang tidak takut mas.

Pradipta A.S.      :    Wah sayang sekali ya pak, bisa sampai begitu seriusnya ya pak. Baik pak, pertanyaan keenam, menurut bapak apakah ada persamaan antara globalisasi dengan liberalisasi?

Bapak Sampai      :    Walah apa lagi itu mas, saya belum pernah dengar.

Pradipta A.S.      :    Mungkin saya bisa menjelaskan liberalisasi dengan pasar bebas pak. Produk-produk Cina sekarang kan banyak di Indonesia pak.

Bapak Sampai     :    Kalau begitu mungkin sama ya mas. Barang-barang kita juga kadang diekspor juga buat pasar luar.

Pradipta A.S.        :    Pertanyaan terakhir pak, apakah Globalisasi baik untuk Demokrasi?

Bapak Sampai      :    Demokrasi itu yang nyoblos pak SBY itu ya mas?

Pradipta A.S.       :    Betul pak, tapi hal tersebut hanya bagian kecil dari demokrasi pak. Tapi secara representative demokrasi itu juga termasuk mencoblos pak SBY itu juga pak.

Bapak Sampai     :    Ya kalau begitu bagus dong mas. Kalau jaman pak Harto dulu kita mlih kucing dalam karung. Sekarang kita bisa lihat muka orang yang kita coblos. Tapi ada jeleknya juga mas, pribumi seperti kita-kita para petani ini semakin diasingkan mas.

Pradipta A.S         :    Terakhir pak, ada harapan khusus dari bapak berkaitan dengan globalisasi?

Bapak Sampai    :    Ya saya ingin kembali seperti dulu. Dulu nanem padi bisa dibuat makan, sisanya dijual. Sekarang harus mikir banyak hal, mikir ini itu, gimana caranya biar bisa makan buat besok. Saya hanya ingin bertani dengan teangn seperti dulu mas.

 

Penjelasan

Dalam sesi wawancara, bapak Sampai terlihat tenand dan santai. Namun, saya melihat kecenderungan bahwa bapak Sampai melihat globalisasi dalam sudut pandang yang bias dan cenderung seubjektif. Hal ini bisa dimaklumi dengan keberadaan perusahaan Ciputra. Perusahaan Ciputra, dengan nama Perumahan CitraLand, mulai masuk di Indonesia pada tahun 1987. Menurut penuturan beliau, semenjak Ciputra datang, mulai muncul berbagai macam masalah bagi penduduk Made. Lahan mereka dibeli, sehingga tempat bagi mereka untuk bertani semakin berkurang. Hal ini diperparah dengan kondisi para petani yang semakin memprihatinkan. Dan di mata beliau, semua ini adalah kesalahan dari Ciputra. Beliau memiliki pandangan sinis dan kurang berempati terhadaap keberadaan Ciputra, dan khususnya CitraLAnd. Hal ini tentu saja mempengaruhi artian istilah “globalisasi” di mata beliau. Sungguh ironis memang, tetapi inilah kenyataan yang harus kita hadapi bersama. Globalisasi bagaikan pedang bermata dua. JIka mampu dipergunakan denganbaik, maka hasilnya akan menyenangkan bagi semua pihak. Tapi jika dipergunakan dengan salah, maka yang didapat hanyalah kerugian. 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :