WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

WHAT is INDONESIA? (INDIVIDU)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 06 March 2013
di STUDI STRATEGI INDONESIA 1 GENAP 2012/2013 - 0 komentar

INDONESIA, SEBUAH NAMA, BERBAGAI ARTI

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

Indonesia adalah kata yang sangat sakral dan bermakna mendalam bagi kita semua. Di Indonesia-lah kita tinggal, besar, tumbuh, bekerja mencari nafkah dan bahkan mati. Sehingga, sebagai seorang berkewarganegaraan Indonesia, apakah kita semua mengerti arti kata yang terkandung di dalamnya? Apakah kita semua mengetahui siapa saja tokoh yang mengajukan nama Indonesia itu sendiri?

Sebelum mencapai pada tahapan artian dalam arti kata Indonesia, marilah kita mengetahui keberadaan Indonesia dalam wujud nyata. Indonesia, secara astronomis pada dasarnya terbentang dari 6 derajat lintang utara sampai 11 derajat lintang selatan dan terbujur dari 95 derajat bujur timur sampai 141 derajat bujur timur. Secara geografis, Indonesia diapit oleh Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Indonesia juga berada di tengah dua buah benua, yaitu Benua Asia di bagian utara Indonesia, dan Benua Australia di sebelah selatan. Jika dilihat secara lebih rinci lagi, Indonesia terdiri dari berbagai macam pulau dengan bermacam-macam kebudayaan yang beragam di dalamnya. Indonesia menganut sistim republik.

Dapat dikatakan pada awalnya, sebelum abad kedua puluh, belum terdapat negara Indonesia yang bisa kita pahami sekarang ini. Orang-orang kebanyakan pada masa tersebut belum melihat wilayah Indonesia sebagai satu kesatuan, melainkan hanya hamparan jejeran pulau-pulau besar maupun kecil. Elsbeth Locher-Schlten pun menjelaskan melalui pernyataannya “yang ada bukanlah satu bendera,melainkan banyak bendera”1 (Elson,2008:1). Dan hal ini juga diikuti dengan perkembangan Indonesia menuju sebuah negara yang sangat lambat, jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia pada umunya. Para pelancong dan pejabat dari luar negeri pun, juga menyebut wilayah Indonesia dengan berbagai sebutan. Barulah pada tahun 1850, kata “Indonesia” pertama kali digagas, namun dengan penggunaan istilah “Indu-nesians”. Istilah “Indu-nesians” ini muncul dari hasil buah pemikiran pelancong dan pengamat sosial asal Inggris, George Samuel Windsor Earl (Elson,2008:2). Beliau merumuskan nama “Indu-nesians” dengan dasar mencari istilah etnografis. Namun tanpa sepengetahuan Earl, koleganya yang bernama James Logan kemudian mencetuskan nama "Indonesia", dalam bentuk istilah “Indonesian”. Logan menganggap penggunaan istilah “Indonesia” lebih tepat dan benar untuk digunakan, karena Logan memiliki tujuan untuk mencari istilah geografis, bukan etnografis. Logan memberikan nama “Indonesia” dengan tujuan menjelaskan kawasan geografis di lingkup Indonesia pada jaman tersebut, namun dalam skala yang relatif tunggal. Karena Logan mampu membedakan antara penggunaan kata itu secara geografis dan etnologis, Logan kemuadian dianggap sebagai orang pertama yang menggunakan nama "Indonesia" (Elson,2008:3). Logan pun membagi "Indonesia" menjadi empat kawasan geografis terpisah, membentang dari Sumatra sampai Formosa (Taiwan). Penggunaan nama Indonesia diikuti oleh E.T. Hamy, ahli antropologi asal Prancis, pada tahun 1877. Hamy menggunakan kata "Indonesia" untuk menjabarkan kelompok ras prasejarah dan "pra-Melayu" tertentu di kepulauan Indonesia. Pada tahun 1880, ahli antropologi Britania A.H Keane mengikuti penggunaan istilah “Indonesia” milik Hamy. N.B. Dennys, seorang ahli Linguistik Britania, di tahun yang sama, juga ikut menggunakan istilah “Indonesia” dengan pengertian geografi yang jauh lebih baik. Pada tahun 1882, Sir William Edward Maxwell (administrator kolonial dan ahli bahasa Melayu Britania), juga mengikuti praktik Dennys (Elson,2008:3).

Tidak hanya tokoh luar negeri, tokoh-tokoh dari dalam negeri juga berperan dalam penggunaan nama Indonesia. Pada akhir tahun 1900, penggunaan nama Indonesia mulai berkembang pesat. Tokoh nasionalis seperti Soekarno dan Mohammad Hatta disebut sebagai bapak Indonesia. Istilah “Indonesia” dipakai sebagai perwakilan sebuah rasa satu akan embrio negara kelak (Kroef,1951:168). Ki Hajar Dewantara juga menggunakan istilah “Indonesia” saat beliau menjadi pimpinan redaksi majalah Hindia Poetra. Mohammad Hatta kembali berperan dalam penggunaan nama Indonesia. Beliau telah mengganti nama Indische Vereeniging sebuah organisasi pelajar di Belanda yang telah berdiri sejak tahun 1908 menjadi Indonesische Vereeniging pada tahun 1923.

Dari berbagai macam penggunaan istilah “Indonesia” di atas, sebenarnya gagasan apa yang dapat kita tarik dan renungkan? Bahwa sesungguhnya proses perumusan nama “Indonesia” ternyata harus melalui jalan yang amat panjang menuju kesempurnaan yang matang. Di balik nama Indonesia, tersimpan berbagai macam nilai yang baik dan luhur. Nilai-nilai seperti gotong royong, semangat juang yang tinggi, rasa cinta tanah air dan nasionalisme terhadap Indonesia dan seluruh tumpah darah, rasa ingin berkorban tanpa pamrih, rasa ingin berbagi yang tulus dan masih banyak lagi.

Harapan penulis adalah dengan mengetahui sejarah perumusan nama Indonesia, kita semua menjadi sadar dan mengerti bahwa nama Indonesia telah melalui proses perumusan yang panjang. Sehingga kita mampu meresapi dan memahami arti dari Indonesia itu sendiri dengan menyeluruh. Jika kita telah mampu untuk memahami dan meresapi arti Indonesia, maka pada akhirnya kita akan merasa bangga terlahir sebagai orang Indonesia. Itulah sebabnya, kata Indonesia sangat sakral dan memiliki makna yang mendalam bagi kita semua.

 

Referensi

Elson, R.E. 2008. “Asal-Usul Gagasan Indonesia”, dalam the Idea of Indonesia. Sejarah Pemikiran dan Gagasan. Jakarta: Serambi, pp. 1-65

Van der Kroef, Justus. 1951. “The Term Indonesia : Its Origin and Usage”, dalam Journal of the American Oriental Society. Vol. 71. No. 3. Juli-September 191. hlm. 161-171

1 Elsbeth Locher-Schlten, Sumatran Sultanae and Colonial State: The Rise of Dutch Imperialism, 1830-1907, terjemahan Beverley Jackson (Ithaca: Southeast Asia Program, Cornell University, 2004), hlm. 34

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :