WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

APA ITU TEORI (INDIVIDU)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 06 March 2013
di TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL GENAP 2012/2013 - 0 komentar

REDEFINING THEORY FROM THE INTERNATIONAL RELATION’S WAY

PRADIPTA ADITYA SIAGAN / 071211233021

 

Semua cabang disiplin ilmu dan ilmu pengetahuan membutuhkan teori. Dengan keberadaan teori, semua disiplin imu akan mampu menjelaskan arti sebuah fenomena dengan jalan menghubungkan variabel-variabel yang ada. Bahkan bagi disiplin ilmu Hubungan Internasional, teori adalah pijakan utama untuk tidak hanya menjelaskan, tetapi juga menganalisa berbagai macam fenomena yang telah terjadi, dengan berbagai dampak yang akan dirasakan. Sehingga dapat dikatakan bahwa teori adalah salah satu entitas (instrumen penting) bagi keberlangsungan hidup disiplin-disiplin ilmu untuk mencapai tahapan perkembangan dan penyempurnaan.

Pada dasarnya ada banyak definisi teori. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata teori dalam 3 buah pengertian, Artian pertama adalah “Pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa (kejadian)”, sementara artian kedua berbunyi “Asas dan hukum umum yang menjadi dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan”, dan artian ketiga adalah “Pendapat, cara, dan aturan untuk melakukan sesuatu”. Jonathan H. Turner memiliki pendapat bahwa teori adalah proses mengembangkan ide-ide yang membantu kita menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu peristiwa terjadi (Turner, 2010:10). Proses pengembangan ide-ide ini harus dimulai serangkaian proses eksplorasi terhadap keberadaan peristiwa tersebut. Proses eksplorasi harus dilakukan dikarenakan setiap individu yang ingin mengetahui kebenaran sebuah perkara (peristiwa), menurut Turner harus merasakan, mendefinisikan atau setidaknya menggambarkan bagaimana peristiwa itu dalam sudut pandang individu tersebut (Turner, 2012:16). Setelah melalui proses eksplorasi, barulah dimulai proses penyusunan kerangka-kerangka berpikir. (Turner, 2010:17) Kerangka-kerangka berpikir inilah yang akan membantu individu-individu dalam hal pengembangan ide-ide untuk proses penjelasan perisitwa tersebut. Collins & Brash mengemukakan sebuah pendapat, dimana teori bagi mereka adalah sebuah rencana yang diformulasikan dari sebuah gagasan atau pikiran. Gagasan dan pikiran ini terdiri dari seperangkat aturan, prosedur dan asumsi yang pada gilirannya akan digunakan untuk menghasilkan sesuatu. Namun bagi mereka teori hanya memberikan sebuah penjelasan yang abstrak dan belum terstruktur dengan baik dan masih bersifat umum. Dan cara berpikir Collins  & Brash akan disebut sebagai pemikiran atau pengetahuan abstrak. Coulumbus dan Wolfe mengartikan istilah “teori” dari bahasa Yunani, yang berarti ‘melihat’ dan memperhatikan. Jadi, bagi Coulumbus & Wolfe, teori adalah berbagai macam pandangan atau persepsi mengenai aya yang terjadi, sehingga “pekerjaan penonton” adalah deskripsi (Coulumbus&Wolfe,1985:29). Seorang tokoh bernama Aron (1986) membagi dan mengasosiasikan artian teori dengan dua macam artian, yaitu Contemplative Knowledge / Pengetahuan Kontemplatif dan Scientific Knowledge. Contemplative Knowledge  adalah cara berpikir teoritis yang sama dengan cara berpikir filosofis, sementara Scientific Knowledge adalah cara berpikir teori dengan system pendekatan deduktif yang berisikan hipotesis-hipotesis dengan berbagai macam konsep yang dapat didefinisikan. Knutzen (1997) memiliki pandangan bahwa teori adalah sekumpulan proposisi yang saling berhubungan. Hubungan antar proposisi ini yang akan membantu menjelaskan bagaimana dan mengapa kejadian-kejadian atau peristiwa muncul seperti yang terlihat.

Setelah melihat pengertian dari teori, muncul pertanyaan menarik. Apa pengaruh teori dalam disiplin Ilmu Hubungan Internasional, terlebih lagi bagi mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional? Secara umum dapat dikatakan pengaruh teori terhadap disiplin ilmu sangat besar dan memainkan peranan penting. Dengan berteori, disiplin ilmu dapat mengalami perkembangan ke arah yang lebih baik. Hal ini ditunjang oleh keinginan setiap individu (baik para tokoh dan praktisi, termasuk juga di dalamnya mahasiswa) untuk dapat dengan lebih baik dan komprehensif memahami berbagai macam kejadian atau masalah yang terjadi di sekitarnya. Waltz (1972) pun mengatakan bahwa mahasiswa Hubungan Internasional sering menggunakan istilah “teori” dalam berbagai kesempatan. Namun istilah teori tersebut hanya dipakai untuk menutupi karya yang hanya berangkat dari keterangan belaka dan sangat jarang istilah teori digunakan untuk karya yang merujuk pada standar filosofi keilmuannya. Berteori memang adalah sebuah proses untuk memahami sesuatu, tetapi tetap saja harus ada landasan- landasn fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Teori harus dibangun dari hubungan antar konsep yang berasal dari proposisi-proposisi logis yang menjelaskan keterkaitan dua variabel atau lebih (Dugis, 2013). Variabel-variabel tersebut berupa postulat, premis dan asumsi. Jika semua variabel ini bisa dihubungkan dengan baik, maka proposisi-proposisi ini akan mampu membantu proses perumusan teori yang baru (Hadi, 1987). Dan seringkali banyak orang beranggapan bahwa sebuah teori harus memiliki nama. Namun, jika berangkat dari cara berpikir melalui proses pengamatan-pengamatan perisitwa yang mengutamakan rasionalitas, proses tersebut dapat dikatakan sebagai proses berteori (Wardhani, 2013).

Contoh penggunaan teori dalam disiplin ilmu hubungan internasional adalah teori-teori alternatif. Teori-teori alternatif muncul sebagai jalan untuk penjelasan mengenai berbagai macam fenomena yang terjadi pada dunia global. Seperti yang diketahui oleh khalayak umum, terdapat banyak fenomena global yang berperan penting terhadap kelangsungan studi hubungan internasional. Teori-teori baru yang muncul mempunyai tujuan untuk menyempurnakan teori-teori yang lama, sehingga akan tercapai sebuah tahapan dimana sebuah disiplin ilmu mampu dengan baik menjelaskan segala macam fenomena yang terjadi. Teori-teori baru ini mempunyai sifat sebagai pencerahan (enlightening). Hal ini juga merefleksikan sebuah sifat dasar dari teori itu sendiri, bahwa teori tidak melihat benar atau salahnya sebuah permaslahan, tetapi teori hanya memberikan pencerahan (enlightening) atas masalah tersebut (Wardhani, 2013). Teori tidak menilai permasalahn dari sisi etisnya, tetapi menilai sebuah permasalahan, untuk memberikan spekulasi-spekulasi. Spekulasi ini yang pada akhirnya akan memahami dan menjelaskan permasalahan tersebut dalam kacamata disiplin ilmu yang terkait.

Sudah saatnya bagi semua penstudi ilmu Hubungan Internasional untuk memiliki kemampuan mengembangkan sebuah teori. Dengan mengembangkan teori, para penstudi (dalam hal ini mahasiswa) dapat dengan mudah memahami dan menjelaskan berbagai macam fenomena yang terjadi dan terkait dengan disiplin ilmu yang dipelajari. Dengan berpedoman pada teori, maka secara tidak langsung akan membentuk kepribadian yang kritis. Hal ini amatlah penting, karena dengan kepribadian yang kritis, para penstudi Hubungan Internasional dapat mengambil kesimpulan atas fenomena yang dipelajari, dimana kesimpulan tersebut telah melalui proses analisa yang panjang dan terstruktur. Pada akhirnya kesimpulan inilah yang akan menentukan seberapa dalam dan pahamnya seseorang dalam menggunakan teori sebagai dasar cara berpikir. Selama seseorang masih belum mampu menggunakan teori, maka dapat dipastikan bahwa pemahaman yang ia dapat belum maksimal. Semakin tinggi cara berpikir mengembangkan teori seseorang, maka pemahaman yang didapat akan semakin baik.

 

Referensi

Turner, Jonathan H. “Defining Theory from the Perspective of Sociology” dalam Theoritical Principles of Sociology. California: 2010. hlm. 8-20

Coulumbis, Theodore A. & Wolfe, James H. 1990. Pengantar Hubungan Internasional: Keadilan dan Power. Bandung: Percetakan Abardin.

Hadi, Sutrisno. 1998, Metodologi Penelitian.Yogyakarta: Fakultas Psikologi, Universitas Gajah Mada

Wardhani, Baiq. & Dugis, Vinsenzio. 2013. What is Theory?. Materi kuliah disampaikan pada kuliah Teori Hubungan Internasional Departemen Hubungan Internasional Universitas Airlangga. 28 Februari 2013

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :