WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

AMERICAN COLONIAL POLITICAL SYSTEM (KELOMPOK)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 06 March 2013
di Umum - 0 komentar



Colonial Political System

 

Kelompok A1

  1. Rinaldi Agus                 071112004
  2. M. Arkhan Dinata        071211231012
  3. Trisca Mia                   071211231029
  4. Ana Maratuthoharoh    071211232009
  5. Pradipta Aditya S 071211233021

 

 

Sistem politik kolonial di Amerika Serikat merupakan salah satu kejadian sejarah yang cukup panjang. Kronologi kejadiannya pun tidak kalah panjangnya, dimulai dari diketemukannya benua Amerika oleh orang Eropa sampai dengan peristiwa detik-detik kemerdekaan Negara Amerika Serikat. Suku bangsa asli Amerika yakni suku Indian. Sekarang ini hampir dipastikan bahwa penduduk asli Amerika menjadi penduduk minoritas di tanah kelahirannya sendiri. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah kedatangan penjelajah sekaligus penjajah yang dating dari benua Eropa.

Christopher Columbus sampai ke Amerika dari Spanyol dengan berlayar pada tahun 1492. Setelah Christopher Columbus datang, orang-orang Spanyol berdatangan ke tanah baru tersebut untuk ditaklukkan. Amerika pada awalnya dijajah oleh Spanyol yang berdatangan ke tanah baru tersebut yang sudah terdapat penduduk asli Amerika dimana mereka datang untuk memburu harta karun. Kemudian para pendeta datang untuk dapat menjadikan penduduk asli Amerika menjadi umat kristiani, para pelayan datang mengikuti majikannya, dan para pedagang datang untuk melakukan jual beli barang dagangan (Ver Steeg, 1982). Pada tahun 1541 bangsa Spanyol yang sudah berada di Amerika mengklaim sebagian besar wilayah Amerika dan membentuk koloni-koloni, kecuali Brazil yang pada saat itu telah dikuasai oleh Portugal. Bangsa Spanyol merasa memiliki kekuasaan terhadap penduduk asli Amerika sehingga mereka berbuat sewenang-wenang. Tidak sampai satu abad kemudian penduduk asli Amerika banyak yang meninggal karena tenaga mereka diperas untuk bekerja di bawah aturan Spanyol, akan tetapi banyak juga dari mereka yang meninggal karena tertular penyakit yang dibawa oleh bangsa Spanyol. Kemudian karena bangsa Spanyol membutuhkan tenaga kerja, akhirnya mereka mengimpor orang-orang Afrika untuk dijadikan budak (Ver Steeg, 1982).

Antara tahun 1607-1733, Inggris membuat 13 koloni di Amerika utara, yaitu: Virginia (1607), New Hampshire (1623), Massachussets Bay(1629), Maryland (1634), Rhode Island (1636), Connecticut (1636), North Carolina (1653), New York (1664), New Jersey (1664), Delaware (1664), South Carolina (1670), Pennsylvania (1682), Georgia (1733). Jamestown di Virginia yang ditemukan pada tahun 1607, merupakan kota pertama yang diperintah oleh dewan kolonial Inggris. Hal ini menandai dimulainya self-government di daerah kolonial Inggris (Bailey, 1979)

 

Tiga belas koloni tersebut secara garis besar dikelompokkan ke dalam tiga macam bentuk pemerintahan dan yang mempunyai hak pilih adalah kaum Freeman. Bentuk-bentuk koloni tersebut adalah;

  1. Bentuk Royal (kerajaan); dalam koloni bentuk ini, gubernurnya dipilih oleh raja. Beberapa contoh koloni bentuk royal adalah Virginia, New Carolina, New Hampshire, Vermons, New Jersey, Georgia, New York, dan Massachusetts.
  2. Bentuk Proprietary (kepemilikan); dalam bentuk pemerintahan proprietary, yang menunjuk gubernur adalah pemilik koloni (proprietor). Contoh-contoh koloni bentuk ini adalah Maryland, Pennsylvania, dan Delaware.
  3. Bentuk Charter; dalam bentuk koloni ini, rakyat-lah yang memilih sendiri gubernur mereka melalui general election (pemilihan umum) contoh koloni bentuk ini adalah Rhode Island dan Connecticut.

 

Bangsa Inggris tidak melihat berbagai daerah koloni tersebut sebagai satu bangsa yang besar yaitu Amerika, namun sebagai bangsa yang berbeda dan terpisah-pisah berdasarkan daerah koloninya. Setiap daerah koloni memiliki perbedaan yang ditentukan oleh sumber daya alam,  geografi yang dimiliki. Hal ini  berpengaruh terhadap sistem kolonial yang berlaku di masing-masing daerah koloni. Misalnya daerah New England atau Amerika utara yang terdiri dari New Hampshire, Massachusets Bay, Connecticut, dan Rhode Island lebih condong ke pemerintahan gereja.

 

Meskipun latar belakang dan budaya membedakan setiap daerah koloni, namun semua daerah koloni menerapkan self-government atau otonomi daerah. Sekitar pertengahan abad ke-18, setiap daerah koloni memiliki tiga level pemerintahan, yaitu pemerintahan kota atau daerah, pemerintahan kolonial, dan pemerintahan kerajaan Inggris. Untuk pemerintahan kota, menangani peraturan yang membahas tentang batas-batas wilayah antar pemilik tanah atau lahan. Sedangkan pemerintahan kolonial terdapat tiga bagian utama, yaitu governor atau gubernur, dewan kolonial, majelis pembuat Undang-Undang. Gubernur ditunjuk oleh kerajaan Inggris untuk memberlakukaun hukum kolonial. Sedangkan dewan kolonial berfungsi sebagai penasehat gubernur. Lalu anggota majelis pembuat UU bertugas membuat UU, menentukan pajak, serta memutuskan siapa yang berhak untuk mendapatkan hak pilih.

 

Referensi :

 

Biro Program Informasi Internasional Departemen Luar Negeri A.S. , Garis Besar Sejarah Amerika Serikat

Bailey, Thomas A. and Kennedy, David M (1979) The American Pageant. 6th ed. Canada: Heath. p59-78.

Ver Steeg, Clarnce L. Dr. 1982. American Spirit: a History of the American People. New Jersey: Prentice Hall.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :