WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

FUTURE of IR (KELOMPOK)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 14 December 2012
di PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL GANJIL 2012/2013 - 0 komentar

Kelompok 8 kelas B

SOH 101

Ahmad Mubarok A. (071211232017)

Pradipta Aditya S. (071211233021)

Jessica Claudia M. (071211233027)

Anggreita Shaskia (071211233036) 

 

The Future of IR: A Disabling Discipline? One World Many Theories?

Studi ilmu Hubungan Internasional sekarang ini memang tengah berdiri tegak di dunia keilmuan dan menciptakan sebuah bahasa universal dengan analisis politik dunianya (Darby, 1997). Beberapa tahun ini ilmu Hubungan Internasional telah mengembangkan bidang keilmuannya dengan membawa Ilmu Hubungan Internasional kedalam bidang-bidang baru keilmuan dalam lingkaran budaya dan ekologi, selain itu juga sudah ada pergerakan di dalam disiplin HI untuk mencangkupkan sebuah perubahan sistem politik.

Dalam beberapa tahun ini telah terjadi kegelisahan terhadap kapasitas penjelasan atas kejelasan studi HI yang muncul di dalam sebuah pertanyaan yang mencerminkan hilangnya arti HI di saat berakhirnya perang dingin dan kegagalan komunisme di Uni Soviet. Sejarah hubungan internasional telah diceritakan sebagai sebuah sistem internasional yang bermula didalam eropa dan berfondasi dari sistem westphalia. Bisa dikatakan sistem westphalia menata ulang hubungan antara sistem politik dunia saat itu. Setelah itu kolonialisasi mulai menjadi tren di negara-negara eropa, peneletiaan terakhir menyebutkan bahwa sejarah hubungan internasional mensugesti bahwa imperialisme dapat menembus mereka di dalam sebuah disiplin ilmu HI pada awal decade abad 20.  Beberapa penelitian yang perlu diadakan untuk memberi penjernihan pada kaum imperial yang mulai melupakan dunia timur sebagai dunia jajahan mereka setelah perang dunia dua berakhir. Berakhirnya kolonialisme di dunia merupakan awal perkembangan keilmuan HI selanjutnya, karena dalam hal era ini jika penstudi HI masih berkutat pada masalah lama seperti imperialisme dan kolonilisasi maka HI tidak akan dapat benyak berguna.

Kritik-kritik yang diajukan kususnya bagi HI sebetulnya dapat menjadi acuan atas disiplin HI sendiri, kritik-kritik ini memiliki beberapa kelemahan seperti, mereka mengkondisikan untuk menutup diri dari pemikiran-pemikiran kaku seperti pemikiran ortodoks sehingga kemungkinan berkembangnya menjadi sempit dikarenakan pemikiranya yang sempit.

Menurut Robert W. Cox, studi HI seharusnya tidak selalu stagnan. Stagnan dalam artian hanya menjelaskan ideologi-ideologi atau isu-isu tertentu yang sedang terjadi, melainkan studi HI seharusnya juga dapat memberikan sumbangsi atau ide yang membawa perubahan terhadap isu-isu kontemporer. Berikut beberapa poin perubahan yang dianggap penting, perubahan sebagai kekuatan laten dalam sejarah, perubahan melalui kekacauan dan pengorganisasian diri, perubahan purposive, perubahan dalam struktur sejarah, pengaplikasian struktur sejarah, perubahan legitimasi. Hal-hal tersebut yang dianggap mendasari adanya anggapan bahwa perubahan secara global dianggap berperan penting dalam studi ilmu HI.

Dewasa ini para praktisi Ilmu Hubungan Internasional tengah berupaya keras untuk memahami globalisasi sebagai salah satu fenomena yang terjadi di dunia. Para praktisi telah melakukan beberapa langkah dalam rangka mempelajari hal ini. Mereka telah mengkaji istilah “globalisasi” itu sendiri melalui berbagai perdebatan. Tentu saja, bagaimana istilah ini diimplikasikan dalam dinamika Hubungan Internasional. Mereka juga telah menempatkan teori-teori dalam studi Ilmu Hubungan Internasional ke dalam konteks globalisasi, terlebih ke dalam berbagai macam perdebatan mengenai globalisasi itu sendiri.

Namun, semua ini tidak berjalan mulus. Banyak problem yang harus dihadapi dalam memahami kompleksitas Hubungan Internasional di era globalisasi yang tengah dirasakan bersama. Dalam perjalanannya, teori dalam Ilmu Hubungan Internasional mengenai keberadaan globalisasi  dinilai dalam lingkup negatif daripada positif. Hal ini bisa dilihat dari debat yang telah lama menghiasi eksistensi Hubungan Internasional, antara realism dan neo-realism (yang telah menjadi pandangan yang mendominasi Ilmu Hubungan Internasional dalam kurun waktu yang cukup lama) dengan perpektif yang lain, katakanlah positivism dan masih banyak lain. Bagi para ahli, debat-debat mengenai globalisasi ini hanya akan memperkeruh jalannya perkembangan Ilmu Hubungan Internasional.

Kontroversi debat ini pun juga tak luput dari kritik. Sifat kontroversial dari kemunculan globalisasi telah memancing berbagai macam pertanyaan bagi para ahli untuk memahami fenomena yang terjadi akibatnya. Kritik-kritik ini seolah-olah mampu memberikan sebuah pencerahan. Bahwa sesungguhnya kondisi nyata pada nyatanya memberikan dampak yang signifikan. Globalisasi memainkan peranan yang lebih dari bayangan semua pihak. Jika pada awalnya negara dipandang sebagai aktor utama karena memiliki kedaulatan, maka seiring berkembangnya waktu, pandangan ini mengalami kemunduran. Apakah dengan semakin berkembangnya jaman, perkembangan-perkembangan ini menjadi semakin tidak terduga dan jauh dari prediksi para ahli, itulah yang menjadi pertanyaan.

Globalisasi memang telah menjadi pintu perubahan bagi semua pihak. Namun, perubahan ini juga membawa berbagai macam tantangan, terlebih lagi terhadap Hubungan Internasional. Berkurangnya kekuatan negara adalah salah satu contoh bukti kemampuan globalisasi. Semua pihak harus mampu menyiapkan diri untuk menghadapi globalisasi dalam Hubungan Internasional. Transisi menuju interdepedensi transnasional dan global governance adalah permasalahan yang harus mampu dihadapi kelak. Dengan persiapan matang, globalisasi bisa menjadi pemicu semangat menuju perubahan yang lebih baik kelak.

Dalam perjalanannya, Hubungan Internasional kini menjadi ilmu yang banyak sekali mengalami tantangan di sepanjang usianya. Banyak yang memprediksi relevansi serta eksistensinya di masa mendatang. Akankah Hubungan Internasional masih bisa dianggap sebagai disiplin ilmu, atau keberadaannya sudah tidak lagi memberikan kontribusi bagi dunia internasional. Apakah dengan semua teori-teori serta perdebatan yang ada selama ini makin mendukung serta memperkuat keberadaan Ilmu Hubungan Internasional sebagai suatu disiplin ilmu, atau justru menentang eksistensinya. Beberapa teoritikus memiliki suatu pandangan masing-masing yang tentu saja berbeda satu sama lain dalam memahami dunia kini. Ada yang berjalan sangat baik daripada yang lain, ada yang berubah, dan tentu saja ada yang begitu ingin tahu perdebatan apa yang akan menjadi penting di masa depan.

Banyak sekali poin-poin dalam Hubungan Internasional, pertanyaan penting maupun tantangan-tantangan dan prediksi bahwa disiplin ilmu tersebut akan berubah dalam beberapa pola. “Histories of the diciplines are written in retrospect viewing the events through the theories that won the debate, and it therefore looks as if the events caused the theories” (Wæver 1998: 691-2). “The second version of prediction is to assume that the best argument wins, and therefore by checking in the debate who is right and wrong one knows how it will go” (Katzenstein, Keohane, and Krasner 1998). Dalam hal ini, disiplin ilmu Hubungan Internasional masih dipertanyakan tentang apa yang harus diperbuat dengan banyaknya jumlah teori-teori yang ada. Apa saja yang dijelaskan teori-teori tersebut tentang Hubungan Internasional kepada kita.

Tetapi satu hal yang perlu diketahui adalah bahwa dalam Hubungan Internasional setiap teori yang digunakan selalu dalam satu kesatuan antara satu sama lain. Potret dari disiplin ilmu ini haruslah dimengerti sejak masa lampau, masa kini, serta masa depan dari teori-teori tersebut untuk memahami kesuluruhan studi yang kita pelajari. Beberapa dari teori-teori yang ada berasal dari ekonomi (teori permainan dan neoliberal institutionalism), cultural studies (post-colonialism), filosofi (poststructuralism), dan banyak yang lainnya. Diperbolehkan bagi kita untuk memiliki suatu pandangan tertentu, namun akan lebih baik bila kita memahami ilmu secara kesuluruhan dimulai dari bentuk, struktur, interest, serta dinamika yang ada di lingkungan disiplin tersebut.

Hubungan Internasional merupakan sebuh disiplin dalam sebuah disiplin. Alasannya, karena Hubungan Internasional merupakan suatu ilmu yang independen. Hubungan Internasional memiliki jurnalnya sendiri, organisasinya yang mandiri, konferensi, dan para civitas Hubungan Internasional menganggap mereka sebagai ‘international relationists’ daripada ‘political scientists’. Kemudian perbincangan mulai masuk pada great debates yang merupakan salah satu fase penting dalam Hubungan Internasional. Mempelajari perdebatan-perdebatan tersebut akan membantu tidak hanya dalam memahami serta mengikuti teori-teori apa saja yang ada dalam lingkup Hubungan Internasional, tetapi juga mengerti apa yang ada dalam teori-teori tersebut dan bagaimana mereka terstruktur. Dengan memahami apa saja yang ada di dalamnya, tentu makin memudahkan para penstudi untuk mempelajarinya.

Permasalahannya, great debates tersebut masihkah berlanjut di situasi sekarang atau tidak. Teori Hubungan Internasional telah termarginalisasikan dan referensi tentang great debates hampir menghilang. Namun, inti pentingnya adalah bahwa posisi Hubungan Internasional itu sendiri masih berada dalam ‘silsilah’ perdebatan, yaitu ‘after the fourth debate’. Alternatif final dari intrepretasi bisa saja berbeda, karena satu teori dibuat untuk bisa menang. Setiap teori pasti memiliki koherensi atau saling berkesinambungan satu sama lain.

Lalu, seperti apa Hubungan Internasional saat ini? Penjelasan berikut memperkenalkan tentang argumen perlunya teori bagi relevansi pertanyaan politik. Hubungan Internasional haruslah relevan. Kita tidak bisa memunculkan suatu teori hanya untuk mengejar relevansi. Karena Hubungan Internasional tanpa teori atau metode tidak akan mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama. Idealnya, sebuah disiplin harus memiliki relevansi terhadap suatu teori, tidak berorientasi kepada kebijakan yang berlebihan. Ini merupakan aturan umum yang dianut oleh banyak disiplin, baik natural, humanis, maupun sosial dengan memperlakukan disiplin itu sebagai disiplin yang mempunyai relevansi. Hubungan Internasional semakin memahami ilmu sebagai studi dan teori mengenai dunia dalam lingkup hubungan internasional. Di dalam disiplin yang mempunyai relevansi teori yang bervariasi seperti Hubungan Internasional, tantangannya adalah tidak mendapat pengetahuan tetapi bagaimana semua pihak mampu memahami segala fenomena yang terjadi. Kemudian hal ini harus dipahami dalam lingkup dunia dan proses yang mampu dipahami semua pihak.  

 

Referensi :

Darby, Phillip (2008) “A Disabling Discipline?” in Reus-Smit, Christian & Snidal, Duncan (eds.), The Oxford Handbook of International Relations, Oxford University Press, pp. 94-108.

Cox, Robert W. (2008) “The Point Is not Just to Explain the World but to Change It,” in Reus-Smit, Christian & Snidal, Duncan (eds.), The Oxford Handbook of International Relations, Oxford University Press, pp. 84-93.

Hay, Collin (2007) “International Relations Theory and Globalization,” in Tim Dunne, Milja Kurki & Steve Smith (eds.,) International Relations Theories, Discipline and Diversity, Oxford University Press, pp. 266-287.

Waever, Ole (2007) “Still a Discipline Ater all These Debates?,” in Tim Dunne, Milja Kurki & Steve Smith (eds.,) International Relations Theories, Discipline and Diversity, Oxford University Press, pp. 288-308.

 

Secret Word : OBJECTIVE 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :