WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

GLOBALISASI DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL (INDIVIDU)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 12 December 2012
di PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL GANJIL 2012/2013 - 0 komentar

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

GLOBALISASI dalam HUBUNGAN INTERNASIONAL

 

Globalisasi telah memainkan peranan penting dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Teknologi dan kultur kebudayaan adalah beberapa contoh konkrit aspek kehidupan manusia, yang secara langsung ataupun tidak langsung, telah mendapatkan pengaruh dari keberadaan globalisasi itu sendiri. Globalisasi juga telah merubah proses interaksi dalam pola hubungan internasional. Terlebih lagi, globalisasi juga memainkan peranan penting dalam perubahan dan perkembangan studi Hubungan Internasional. Maka, diperlukan sebuah kajian tersendiri mengenai globalisasi dan peranan globalisasi dalam proses berjalannya hubungan internasional. Terlebih lagi, pada saat ini kajian mengenai globalisasi telah berada di luar dan melampaui kajian mengenai state itu sendiri (Wardhani, 2012).

Globalisasi sendiri dapat diartikan sebagai sebuah proses. Proses kaburnya sekat dan penghalang antara ruang dan waktu. Di era globalisasi, semua hal menjadi dekat, aliran informasi menjadi cepat, dan semua hal bisa didapat dengan mudahnya dengan waktu yang terhitung sangat singkat. Pada awalnya,  istilah globalisasi masih menjadi sesuatu yang asing. Tetapi, semakin lama dunia terus tumbuh dan berkembang. Maka, dibutuhkan penjelasan baru yang dianggap mampu untuk mendeskripsikan kondisi yang baru ini. Dua ratus tahun kemudian, dimulai sejak tahun 1980, pembicaraan tentang globalisasi makin meluas dan dicantumkan dalam standard vocabulary, tidak hanya dalam lingkaran akademis, namun juga diantara para jurnalis, politisi, businessman, periklanan, dan entertainer. Oleh karenanya, semakin umum pula untuk membicarakan pasar global, komunikasi global, konferensi global, ancaman global, masyarakat global dan lain-lain. Pada abad ke-20, civitas akademika Hubungan Internasional dan disiplin ilmu lainnya mulai menguji pertanyaan global, baik itu perubahan lingkungan global, global gender relations, politik ekonomi global, dan sebagainya.

Memang benar bahwa ide-ide dari globalisasi tersebut beredar dengan baik sebelum 1980. Beberapa telah menggunakan kata global sendiri untuk menunjukkan ‘the whole world’ atau dunia secara keseluruhan sejak akhir abad ke-19. “The terms ‘globalize’ and ‘globalism’ were introduced in a little-read book published in 1944, while the noun ‘globalization’ entered a dictionary for the first time in 1961” (Reiser & Davies 1944: 212, 219; Webster 1961). Walaupun demikian, kata globalisasi itu sendiri tidak begitu populer hingga beberapa dekade belakangan.

Pada dasarnya, globalisasi memiliki beberapa artian yang berbeda-beda. Para pakar dan praktisi (terutama pemerhati Hubungan Internasional) memiliki cara tafsir yang berbeda antara satu sama lain. Jan Aart Scholte salah satunya. Beliau terkenal dengan frasa bahwa globalisasi adalah “multifaceted process necessitating a multi dimensional concept” (Scholte, 2001). Scholte berpendapat bahwa globalisasi tersusun atas empat unsur. Globalisasi bisa berarti sebagai Internationalization (Internasionalisasi), Liberalization (Liberalisasi), Universalitation (Universalisasi), dan Westernization (Modernisasi). Namun pengertian mengenai globalisasi sendiri dapat dikatakan mengarah pada tidak terbatasnya suatu tatanan atau aspek kehidupan dalam masyarakat. “Globalization can ... be defined as the intensification of worldwide social relations which link distant localities in such a way that local happenings are shaped by events occurring many miles away and vice versa” (Anthony Giddens, 1990).

Inilah alasan utama mengapa proses globalisasi sendiri berlangsung dalam dua dimensi, yakni dimensi ruang dan waktu. Secara geografis, mungkin sangat mustahil bagi beberapa orang untuk bisa saling berinteraksi dengan satu sama lain. Berkenaan dengan adanya proses globalisasi, konsep dimensi ruang ini sendiri makin dipersempit. Batas teritorial suatu negara dengan negara yang lainnya tidak lagi memiliki pengaruh yang cukup signifikan. Hal ini juga berimbas kepada konsep waktu. Kebutuhan mengenai waktu semakin signifikan dan sensitif. Setiap orang, selain membutuhkan ruang untuk berkomuniasi dan berinteraksi, juga membutuhkan aliran informasi yang sangat cepat. Itulah sebabnya peristiwa atau fenomena yang terjadi di belahan dunia timur, bisa seketika diketahui oleh pihak manapun, meskipun berada dalam posisi yang berseberangan dan sangat jauh. Hal ini tentu saja sangat membantu dalam perkembangan studi Hubungan Internasional. “Globalization refers to all those processes by which the peoples of the world are incorporated into a single world society, global society” (Albrow, 1990). 

Sehingga, muncul berbagai implikasi mengenai globalisasi. Terlebih lagi dengan kaitannya terhadap studi Hubungan Internasional. Apakah para pakar harus merubah fokus studi mereka, dari studi mengenai pola hubungan internasional menjadi studi mengenai globalisasi? (Barnett & Sikkink, 2008). Tentu saja tidak. Globalisasi masih memegang peranan penting dalam hubungan internasional. Namun, dalam skala Ilmu Hubungan Internasional, fokus mengenai studi globalisasi jangan dicampur adukkan dengan keberadaan Ilmu Hubungan Internasional itu sendiri. Akan lebih baik jika studi mengenai globalisi mendapatkan porsi tersendiri.

 

Referensi :

Reiser, Olivier Leslie & Blodwen Davies (1944) “Planetary Democracy: An Introduction to Scientific Humanism and Applied Semantics” Creative age press, inc

Albrow, Martin (1987) Globalization on Sociology : The Basics

Scholte, Jan Aart (2001) “The Globalization of World Politics”, in Baylis, John & Smith, Steve (eds.), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, pp. 13-34

Giddens, Anthony (1990) “The Consequences of Modernity”  Stanford University Press

Barnett, Michael & Sikkink, Kathryn (2008) “From International Relations to Global Society,” in Reus-Smit, Christian & Snidal, Duncan (eds.), The Oxford Handbook of International Relations, Oxford University Press, pp. 62-83

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :