WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

GLOBALISASI dan HUBUNGAN INTERNASIONAL (KELOMPOK)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 07 December 2012
di PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL GANJIL 2012/2013 - 0 komentar

Kelompok 8 B

SOH 101

Ahmad Mubarok A. (071211232017)

Pradipta Aditya S. (071211233021)

Jessica Claudia M. (071211233027)

Anggreita Shaskia (071211233036)

Globalisasi dan Hubungan Internasional

Globalisasi adalah sebuah proses kaburnya sekat dan penghalang antara ruang dan waktu. Pada era globalisasi, semua menjadi dekat, instan dan riil. Tak terkecuali dengan hubungan internasional. Hubungan internasional secara langsung atau bahkan tidak langsung, telah mendapatkan imbas atau implikasi dari kemunculan globalisasi. Globalisasi pada awalnya merupakan sesuatu yang asing. Tetapi, semakin lama dunia terus tumbuh dan ide-ide yang baru sangat dibutuhkan untuk mendeskripsikan kondisi yang baru pula. Dua ratus tahun kemudian, dimulai sejak tahun 1980, pembicaraan tentang globalisasi makin meluas dan dicantumkan dalam standard vocabulary, tidak hanya dalam lingkaran akademis, namun juga diantara para jurnalis, politisi, businessman, periklanan, dan entertainer. Oleh karenanya, semakin umum pula untuk membicarakan pasar global, komunikasi global, konferensi global, ancaman global, dan lain-lain. Selama akhir abad ke-20, civitas akademika Hubungan Internasional dan disiplin ilmu lainnya mulai menguji pertanyaan global, baik itu perubahan lingkungan global, global gender relations, politik ekonomi global, dan sebagainya.

Memang benar bahwa ide-ide dari globalisasi tersebut beredar dengan baik sebelum 1980. Beberapa telah menggunakan kata global sendiri untuk menunjukkan ‘the whole world’ atau dunia secara keseluruhan sejak akhir abad ke-19. “The terms ‘globalize’ and ‘globalism’ were introduced in a little-read book published in 1944, while the noun ‘globalization’ entered a dictionary for the first time in 1961” (Reiser & Davies 1944: 212, 219; Webster 1961). Walaupun demikian, kata globalisasi itu sendiri tidak begitu populer hingga beberapa dekade belakangan.

Globalisasi memiliki arti yang berbeda-beda. Setiap orang memiliki penafsiran yang tidak sama satu dengan yang lainnya. Setidaknya, terdapat lima penggunaan kata globalisasi yang bisa dibedakan menurut Jan Aart Scholte. Namun pengertian globalisasi itu sendiri lebih kepada tidak terbatasnya suatu tatanan atau aspek kehidupan dalam masyarakat. “Globalization can ... be defined as the intensification of worldwide social relations which link distant localities in such a way that local happenings are shaped by events occuring many miles away and vice versa” (Anthony Giddens 1990).

Kini banyak hal yang makin mendunia seiring dengan makin berkembangnya sistem informasi dan komunikasi. Apalagi sejak tahun 1960, perubahan yang signifikan terjadi dan kata globalisasi itu sendiri mengarah pada proses dimana banyak interaksi sosial yang saling terhubung antar teritori geografi sehingga setiap orang merasa bahwa jarak sama sekali tidak berpengaruh. Mereka menganggap bahwa dengan globalisasi mereka seperti berada dalam satu dunia atau satu tempat yang sama.

Itulah sebabnya mengapa proses globalisasi sendiri berlangsung dalam dua dimensi, yakni dimensi ruang dan waktu. Secara geografis, mungkin sangat mustahil bagi beberapa orang untuk saling berinteraksi. Dengan adanya globalisasi, konsep dimensi ruang ini sendiri makin dipersempit. Batas teritorial suatu negara dengan negara yang lainnya tidak lagi memiliki pengaruh yang cukup signifikan. Kemudian konsep waktu yang makin dipersempit. Apa yang terjadi di belahan dunia timur, bisa seketika kita ketahui walaupun berada dalam posisi yang berseberangan dan sangat jauh. “Globalization refers to all those processes by which the peoples of the world are incorporated into a single world society, global society” (Martin Albrow 1990). 

Aspek yang dilingkupi globalisasi itu sendiri mulai meliputi aspek ekonomi, politik, komunikasi, keamanan, dan sektor-sektor lainnya. Dunia kontemporer masa kini, pada saat yang bersamaan bisa disebut sebagai dunia yang telah mengglobal dan terinternasionalisasi. Tidak ada lagi batasan regulasi negara yang ketat, atau perbedaan waktu dari satu negara di benua asia maupun benua eropa, jarak antar negara satu dengan yang lain, korespondensi maupun layanan komunikasi kini telah menyebar dengan sangat luas tanpa dibatasi oleh hal-hal tadi. “Die Globalisierung ... global networking that has welded together previously disparate and isolated communities on this planet into mutual dependence and unity of ‘one world’” (Emanuel Richter, translated from German).

Dalam perkembangannya, gejala-gejala globalisasi sendiri sebenarnya telah terlihat jauh sebelum eksistensi studi Ilmu Hubungan Internasional itu sendiri. Pola interaksi dalam globalisasi dapat dirunut dalam hubungan antarbangsa di dunia pada masa-masa awal perdagangan antarnegeri sekitar tahun 1000 sampai 1500 Masehi. Pedagang dari Cina atau India ataupun kaum muslim di Asia dan Afrika, pada masa tersebut, mulai menyusuri jalan darat (seperti jalur sutera yang terkenal) ataupun jalan laut (seperti pantai Afrika Timur dan pesisir Samudra Hindia). Mereka melakukan perjalanan ini dengan tujuan melakukan perdagangan. Di samping melakukan perdagangan, kaum pedagang juga turut menyelipkan berbagai macam nilai-nilai dan kebudayaan yang mereka anut untuk mereka sebarkan dalam pola interaksi ini. Agama, arsitektur bangunan, keberagaman nilai sosial dan kebudayaan adalah beberapa contoh penyebaran yang mereka lakukan, disamping perdagangan sebagai tujuan utama mereka.

Semakin berkembangnya pola interaksi ini memicu negara-negara di Eropa untuk turut ikut serta, namun dengan pola interaksi yang berbeda. Negara-negara seperti Spanyol, Portugis, Inggris dan Belanda secara massif melakukan eksplorasi. Mereka melakukan eksplorasi, terutama eksplorasi ke daerah dunia ketiga (The Third World) yang mereka anggap masih terbelakang dan belum modern. Eksplorasi ini juga didorong dengan terjadinya revolusi industri bersar-besaran yang membutuhkan sumber daya yang sangat banyak. Revolusi industri meningkatkan keterkaitan antar negara. Namun, beberapa negara besar memandang bahwa keterkaitan ini bisa dimanfaatkan menjadi sebuah bentuk yang semakin maksimal. Disinilah kontoversi globalisasi memainkan peranannya. Kolonialisasi di dunia semakin berkembang dan membawa pengaruh besar dalam tatanan hidup semua negara di dunia.

Setelah kolonialisasi, industri pun semakin tumbuh dan kebutuhan akan bahan baku semakin meningkat. Pangsa pasar pun semakin luas. Hal ini memicu bertumbuhnya perusahaan-perusahaan multinasional. Dan bentuk kolonialisasi mengalami perubahan bentuk menuju imperialisme. Imperialisme dan pertentangan ideologi antara Amerika Serikat dengan dan Rusia pada saat itu memicu kemuculan Perang Dingin. Keruntuhan Komunisme memicu berakhirnya Perang Dingin. Kemenangan Amerika Serikat dengan ideologi Kapitalisme mereka memberikan pembenaran bahwa Kapitalisme adalah jalan terbaik dalam mewujudkan kesejahteraan dunia. Implikasi dari kapitalisme ini adalah, negara-negara di dunia mulai menyediakan diri untuk menyesuaikan diri ke dalam pasar bebas. Pasar bebas adalah ajang dan wadah bagi negara-negara di dunia untuk memperlihatkan eksistensi dalam hubungan internasional. Sehingga, terjadi interaksi yang jauh lebih massif dan intens. Hal ini turut didukung dengan perkembangan teknologi, seperti teknologi komunikasi dan transportasi, yang terus menerus berkembang. Sekat-sekat antar negara pun mulai kabur. Secara harafiah, kini seluruh aspek kehidupan tak terbatas antara ruang dan waktu.

Dapat disimpulakan proses lahirnya globalisasi sendiri merupakan sesuatu yang bertahap. Dengan merujuk pada sejarah, memang aksi pada masing-masing zaman terlihat berbeda. Pengaruh globalisasi dalam keilmuan Hubungan Internasional sangat signifikan, jika kita bandingkan tinkat atau level keilmuan HI dari masa kemasanya memang akan terlihat sebuah perbedaan kajian keilmuan yang sangat mencolok. Studi HI memang merupakan bidang studi yang sangat dinamis, dengan adanya globalisasi sendiri telah mendorong HI mencangkup hampir segala aspek keilmuan seperti ekomoni, hukum, politik, kerjasama, kemanusiaan, perdamaian, yang semuanya dalam lingkup global. Selain itu HI dapat membantu memahami proses dan sumber perubahan global, tidak hanya untuk menjelaskan dinamika masyarakat global, tetapi juga untuk memungkinkan untuk terlibat lebih langsung dalam membantu membentuk arah perubahan itu.

 

Referensi :

Smith, Steve & Baylis, John (2001) “Introduction,” in Baylis, John & Smith, Steve (eds.), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, pp. 1-12

Scholte, Jan Aart (2001) “The Globalization of World Politics”, in Baylis, John & Smith, Steve (eds.), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, pp. 13-34

Barnett, Michael & Sikkink, Kathryn (2008) “From International Relations to Global Society,” in Reus-Smit, Christian & Snidal, Duncan (eds.), The Oxford Handbook of International Relations, Oxford University Press, pp. 62-83

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :