WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

GREAT DEBATES IV : POSITIVISM vs POSTMODERNISM (INDIVIDU)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 06 December 2012
di PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL GANJIL 2012/2013 - 0 komentar

Dalam perkembangan sejarah hubungan internasional, great debates memainkan peranan yang sangat penting. Great debates membawa sebuah dinamika baru dalam berbagai dimensi hubungan internasional. Tidak hanya dalam pola hubungan itu sendiri, namun juga berkaitan dengan kemajuan disiplin Ilmu Hubungan Internasional. Latar belakang kemunculan great debates adalah adanya dorongan (dalam hal ini dorongan dari para ahli, termasuk pakar Hubungan Internasional) untuk menjelaskan fenomena-fenomena atau kejadian penting yang telah terjadi dalam konteks global (Dugis, 2012). Tidak hanya menjelaskan, namun juga diharapkan dapat mengkaji dan menjelaskan segala dampak yang akan terjadi dan dirasakan oleh semua pihak ke depannya.  

        Pada masa awal great debates, para ahli memberikan fokus pada bagaimana substansi pola hubungan internasional pada jaman tersebut (Dugis, 2012). Bahkan, mereka juga memberi porsi lebih terhadap Perang Dunia yang tengah terjadi, dan dampak yang akan dirasakan kelak. Contoh nyata adalah perdebatan antara kaum Realis dan Liberal. Namun, dikarenakan ruang lingkup yang masih sempit, perdebatan yang terjadi hanya akan membawa banyak implikasi. Hal ini dirasakan oleh berbagai pihak, dan pada akhirnya membawa semua pihak ke arah perdebatan yang lebih luas. Hal ini tercermin pada paruh kedua abad keduapuluh (1950-an dan 1960-an) dimana Ilmu Hubungan Internasional mengalami perkembangan dalam lingkup metodologi (Jackson & Sorensen 2005: 280). Perkembangan metodologis dalam Hubungan Internasional terjadi pertama kali yaitu pada great debate kedua antara kaum behavioral yang ingin menempatkan HI pada analisis “ilmiah” dengan kaum tradisional yang melandaskan lingkup studi pada norma dan nilai. Pada pembahasan kali ini penulis akan membahas great debate keempat antara postivisme dengan posmodernisme.

        Pandangan positivisme muncul pada abad 19. Pandangan positivisme memberikan fokus utama kepada pengamatan yang dilakukan dan hasilnya akan bersifat pasti. Kaum positivis melakukan pengamatan berdasarkan pengalaman-pengalaman berdasarkan realita yang ada di sekitar. Setelah melakukan pengamatan, kaum positivis akan menguji pengamatan tersebut, apakah pengamatan yang telah dilakukan bersifat objektif (tidak subjektif atau berat sebelah), pasti, faktual, nyata, dan berdasarkan data empiris dan rasional. Dan, pengamatan yang telah dilakukan diangkat dalam sebuah lingkup studi. Hal ini tercermin pada bagaimana kaum positivis memandang dinamika fenomena global yang terjadi. Kaum Positivis melihat Ilmu Hubungan Internasional sebagai sebuah disiplin ilmu yang empiris dan objektif, serta kebenaran-kebenaran dan nilai dalam Ilmu Hubungan Internasional bersifat mutlak. Para tokoh pendukung pandangan Positivis adalah August Comte (1798-1857), John Stuart Mill (1806-1873), dan Herbert Spencer (1820-1903).

        Kemudian muncul pandangan posmodernisme. Pandangan posmodernisme muncul pada abad 19, dan tujuan kemunculannya adalah menentang kegagalan pandangan modernis dalam menyikapi fenomena yang terjadi (Foucault: 1981). Dan pandangan posmodernisme memiliki beberapa perbedaan dengan pandangan positivisme. Posmodernisme melihat bahwa tidak ada segala sesuatu di dunia ini yang bersifat permanen dan universal. Tidak ada nilai mutlak. Sehingga, kaum posmodernis melihat dunia sebagai sebuah kesatuan yang dinamis, selalu berubah-ubah. Fenomena yang terjadi pada satu daerah belum tentu terjadi pada daerah lain. Dan peristiwa yang terjadi akan membawa dampak yang berbeda bagi setiap negara. Kaum posmodernis mengutamakan rasionalitas untuk mencari kebenaran. Rasionalitas ini akan selalu berubah, sehingga nilai kebenaran juga akan selalu berubah, sesuai dengan interpretasi yang diambil. Tokoh-tokoh pendukung Posmodernisme adalah Friedrich Jean Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900), Jean Francois Lyotard, Jean Baudrillard, dan Jacques Derrida.

        Great debates keempat memberikan beberapa poin penting. Positivisme adalah pandangan yang memandang secara objektivitas bahwa disiplin Ilmu Hubungan Internasional merupakan sebuah disiplin ilmu yang mutlak, bahkan dalam konteks ilmu sosial sekalipun. Objek kajian positivis terfokus pada bagaimana para pakar menjelaskan fenomena-fenomena yang memiliki pola tertentu dan dapat dianalisa dengan menggunakan variabel-variabel atau hipotesa. Namun, pandangan posmodernisme memiliki sudut pandang yang berbeda. Kaum posmodernis membantah adanya pengetahuan objektif atas fenomena sosial. “Mereka kritis terhadap kaum liberal klasik seperti Kant; mereka juga kritis terhadap kaum positivis kontemporer seperti Waltz” (Jackson & Sorensen 2005, 303). Bagi kaum posmodernis, tidak ada suatu hal yang sifatnya mutlak atau objektif. Segala sesuatu bersifat dinamis dan berubah. Perubahan akan selalu ada karena adanya perkembangan yang dialami oleh semua pihak, seiring dengan perkembangan jaman. Tidak ada yang mampu memungkiri hal tersebut.

        Akhir kata, teori posmodernisme yang muncul untuk menentang teori-teori positivisme tidak dapat dikatakan lebih unggul, atau bahkan begitu juga sebaliknya. Sikap kritis yang ditunjukkan posmodernisme dan teori positivisme dapat dikatakan sebagai jalan untuk mencapai perbaikan dan penyempurnaan bagi masing-masing teori. Dan, setiap pandangan memberikan sumbangan yang nyata dan berdampak positif bagi disiplin Ilmu Hubungan Internasional. Melalui perdebatan-perdebatan yang telah terjadi dan bahkan masih terjadi sampai sekarang ini, diharapkan akan membawa dampak positif. Teori-teori baru yang muncul harus mampu saling melengkapi satu sama lain. Dan perdebatan yang terjadi harus memiliki tujuan untuk memperkaya dan menyempurnakan muatan ilmu pengetahuan dalam disiplin Ilmu Hubungan Internasional. Sehingga akan tercipta para global analyst dan global strategist handal yang mampu menjelaskan segala fenomena yang terjadi dalam konteks dunia global (Roadmap 2020). Biarlah perdebatan-perdebatan ini menjadi milestone (batu loncatan) bagi semua praktisi hubungan internasional untuk bersiap diri menuju era baru dalam konteks hubungan dunia global kelak.

 

Referensi :

Dugis, Vinsensio M. L., IR’s Main Perspective (2A & 2B), materi disampaikan pada kuliah Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga, 3 Desember 2012

Jackson, R., & Georg Sorensen, 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar [Chapter 2] [Chapter 7]

Foucault, Michael. (1980) Subjectivité et Vérité / Subjectivity and Truth

Departemen Hubungan Internasional, Roadmap Pengembangan Departemen Hubungan Internasional

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :