WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

POSITIVISM vs POSTMODERNISM (KELOMPOK)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 30 November 2012
di PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL GANJIL 2012/2013 - 0 komentar

Kelompok 8 kelas B

SOH 101

Ahmad Mubarok A. (071211232017)

Pradipta Aditya S. (071211233021)

Jessica Claudia M. (071211233027)

Anggreita Shaskia (071211233036)

Great Debates: Positivism vs Postmodernism

Pada paruh kedua  abad keduapuluh (1950-an dan 1960-an) ilmu Hubungan Internasional mengalami isu-isu kontroversi metodologis. Dalam berbagai disiplin ilmu memang sering ditemukan dua jenis kontroversi mendasar yaitu perdepatan megenai isu-isu substantif dan perdebatan mengenai isu-isu metodologis (Jackson & Sorensen 2005: 280). Perdebatan metodologis dalam Hubungan Internasional terjadi pertama kali yaitu pada great debate kedua antara kaum behavioral yang ingin menempatkan HI pada analisis “ilmiah” dengan kaum tradisonal yang berasaskan pada norma dan nilai. Pada pembahasan kali ini penulis akan membahas great debate keempat antara postivisme dengan posmodernisme. Hal yang melatar belakangi Great debate keempat ini adalah postperang dingin dan perkembangan khasanah keilmuan dalam Hubungan Internasional. Perbedaan prespektif dari kedua tradisi yang merupakan sebuah alasan klasik mengapa great debate muncul kembali, dimana perbedaan ini akan dijelaskan lebih mendalam oleh penulis pada penjelasan selanjutnya.

Menurut Auguste Comte, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam 3 zaman, yaitu: zaman teologis, zaman metafisis, dan zaman ilmiah atau zaman positif. Pada zaman teologis , manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Zaman metafisis atau nama lainnya tahap transisi dari buah pikir Comte karena tahapan ini menurut Comte hanya modifikasi dari tahapan sebelumnya. Penekanannya pada tahap ini yaitu monoteisme yang dapat menerangkan gejala-gejala alam dengan jawaban-jawaban yang spekulatif. Zaman positif, adalah tahapan yang terakhir dari pemikiran manusia dan perkembangannya, pada tahap ini gejala alam diterangkan oleh akal budi berdasarkan hukum-hukumnya yang dapat ditinjau, diuji dan dibuktikan atas cara empiris. 

Aliran positivisme muncul pada abad 19 yang termasuk era modern. Positivisme mengutamakan pada pengalaman dan menitikberatkan pada pengalaman-pengalaman yang objektif. Positivisme dapat diartikan sebagai suatu aliran filsafat yang berpangkal pada sesuatu yang pasti, faktual, nyata, dari apa yang diketahui dan berdasarkan data empiris. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, positivisme berarti  aliran filsafat yang beranggapan bahwa pengetahuan itu semata-mata berdasarkan pengalaman dan ilmu yang pasti. Tokoh terpenting dari aliran positivisme adalah August Comte (1798-1857), John Stuart Mill (1806-1873), dan Herbert Spencer (1820-1903).

Bagi August Comte untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode positif yang kepastiannya tidak dapat digugat. Metode positif ini mempunyai 4 ciri, yaitu : 1) Metode ini diarahkan pada fakta-fakta. 2) Metode ini diarahkan pada perbaikan terus menerus dari syarat-syarat hidup. 3) Metode ini berusaha ke arah kepastian. 4) Metode ini berusaha ke arah kecermatan.

John Stuart Mill mencoba untuk memberikan suatu dasar psikologis dan logis kepada positivisme. Menurut Mill, psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan dasar yang menjadi asas bagi filsafat. Tugas psikologi adalah menyelidiki apa yang disajikan oleh kesadaran, artinya penginderaan kita dan hubungan-hubungannya. Adapun tugas logika adalah membedakan hubungan gagasan-gagasan yang bersifat kebetulan daripada hubungan gagasan-gagasan yang tetap dan yang menurut hukum.

Herbert Spencer, adalah salah satu filsuf berpengaruh di abad-19. Karyanya yaitu A System of Synthetic Philosophy atau “Suatu Sistem Filsafat Sintesis” (1862-1896). Ajaran yang dikemukakan Spencer tidak kalah dengan ajaran Comte. Ia menyusun teorinya secara sistematis dengan mengumpulkan fakta-fakta. Ia mencoba menyamakan masyarakat dengan organisme.

Kaum modernisme menganggap bahwa teknologi akan menjadi sumber kebahagiaan manusia dan menjanjikan dunia yang lebih baik. Namun hal itu tidak berlangsung lama, sampai kemudian ditemukan juga begitu banyak dampak negatif dari ilmu pengetahuan bagi dunia. Teknologi mutakhir ternyata sangat membahayakan dalam peperangan dan efek samping kimiawi justru merusak lingkungan hidup. Dengan demikian, mimpi orang-orang modemis ini tidaklah berjalan sesuai harapan dan berakhir dengan kehancuran manusia itu sendiri.

Kemudian timbul suatu pemikiran baru untuk menggeser modernisme yang dianggap telah gagal, yakni aliran postmodernisme. Postmodernisme adalah suatu pergerakan ide yang menggantikan ide-ide zaman modern yang mengutamakan rasio, objektivitas, dan kemajuan. Postmodern memiliki cita-cita, ingin meningkatkan kondisi ekonomi dan sosial, kesadaran akan peristiwa sejarah dan perkembangan dalam bidang penyiaran. Postmodern mengkritik modernisme yang dianggap telah menyebabkan desentralisasi di bidang ekonomi dan teknologi, apalagi hal ini ditambah dengan pengaruh globalisasi. Selain itu, postmodern menganggap media yang ada pada saat itu hanya berkutat pada masalah yang sama dan saling meniru satu sama lain. Berikut ini beberapa tokoh posmodern yaitu: Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900), Jean Francois Lyotard, Jean Baudrillard, dan Jacques Derrida.

Wacana postmodern menjadi populer setelah Francois Lyotard menerbitkan bukunya yang berjudul The Postmodern Condition : A Report on Knowledge (1979). Francois Lyotard mengatakan bahwa postmodernisme merupakan intensifikasi yang dinamis, yang merupakan upaya terus menerus untuk mencari pembaharuan, eksperimentasi dan revolusi kehidupan yang menentang dan tidak percaya pada segala bentuk narasi besar, berupa penolakannya terhadap filsafat metafisis, filsafat sejarah, dan segala bentuk pemikiran totalitas, seperti hegelian, liberalisme, marxisme, dan lain-lain.

Postmodernis awal, Nietzsche, mengkritik modernisme sebagai kecurangan yang mengklaim kebenaran yang tetap, netral dan objektif padahal sesuatu itu adalah mustahil. Bagi Nietzsche, penjelasan ilmiah bukan penjelasan yang sebenarnya; itu hanya menghasilakan deskripsi yang rumit. Sedangkan Baudrillard curiga terhadap peran media massa sebagai wujud dari modernisasi yang telah banyak melakukan kebohongan. Baudrillard juga melihat kapitalisme sebagai sesuatu yang membendakan manusia.

Postmodernisme muncul untuk meluruskan kembali interpretasi sejarah yang dianggap otoriter. Untuk itu postmodernisme menghimbau agar kita semua berusaha keras untuk mengakui adanya identitas lain yang berada di luar wacana hegemoni. Postmodernisme mencoba mengingatkan kita untuk tidak terjerumus pada kesalahan fatal dengan menawarkan pemahaman perkembangan kapitalisme dalam kerangka genealogi atau pengakuan bahwa proses sejarah tidak pernah melalui jalur tunggal, tetapi mempunyai banyak sentral.

Pembeda antara pendekatan postivisme dengan posmodernisme adalah dari segi epistimologi. Bagaimana para teoritikus masing-masing pendekatan memperoleh pengetahuan tentang dunia, termasuk dalam ilmu Hubungan Internasional. Positivisme merupakan teori dimana suatu objektivitas pada tiap-tiap disiplin ilmu merupakan sesuatu yang mutlak, bahkan terhadap ilmu sosial sekalipun. Objek kajian mereka terfokus pada bagaimana para ilmuwannya menjelaskan fenomena-fenomena yang menurut mereka memiliki pola tertentu dan dapat dianalisa dengan menggunakan variabel-variabel atau hipotesa.

Sedangkan pada teori posmodernisme, mereka membantah adanya pengetahuan objektif atas fenomena sosial. “Mereka kritis terhadap kaum liberal klasik seperti Kant; mereka juga kritis terhadap kaum positivis kontemporer seperti Waltz” (Jackson & Sorensen 2005, 303). Bagi para kaum posmodernis, tidak ada suatu hal yang sifatnya mutlak atau objektif. Mereka menolak mentah-mentah pendapat yang diutarakan kaum positivisme, mereka membantah anggapan tentang realitas, kebenaran, pemikiran bahwa ada atau bisa saja ada pengetahuan yang meluas terus tentang dunia manusia.

Apabila bagi kaum positivisme, terdapat generalisasi pada setiap disiplin ilmu yang mengakibatkan tiap ilmu termasuk ilmu sosial dapat diuji, maka kaum posmodernis berpendapat bahwa tidak ada landasan yang utuh sebagai tonggak penilaian. Sebab, ilmu sosial tidaklah netral, melainkan ilmu sosial adalah historis, budaya, politis, dan karena itu bias. Dengan kata lain, tidak ada realitas objektif; segala sesuatu yang melibatkan manusia adalah subjektif. “Semua kekuasaan membutuhkan pengetahuan dan semua pengetahuan bergantung pada dan memperkuat hubungan kekuasaan yang ada. Dengan demikian, tidak ada sesuatu apapun seperti ‘kebenaran’, hidup di luar kekuasaan. Dengan menafsirkan istilah Foucoult, bagaimana bisa sejarah memiliki kebenaran jika kebenaran memiliki sejarah? Kebenaran bukanlah sesuatu yang eksternal bagi lingkungan sosial, tetapi malahan merupakan bagian dari mereka teoritisi posmodern internasional telah menggunakan pandangan ini untuk menguji ‘kebenaran’ hubungan internasional guna melihat bagaimana konsep dan pernyataan-pengetahuan yang mendominasi disiplin tersebut sebenarnya sangat kuat pada hubungan kekuasaan yang spesifik” (Smith 1997: 181).

“Kaum positivis berupaya membangun generalisasi empiris yang dapat diuji dan pada akhirnya untuk membangun teori empiris, mereka cenderung mengarah pada kuantifikasi, termasuk penggunaan model-model matematik” (Jackson & Sorensen 2005: 297). Sedangkan dalam posmodernis tidak ada ‘pijakan’ yang stabil atau kepastian yang dapat dijadikan dasar bagi ucapan, tulisan, dan tindakan sosial.

 Bentuk tatanan politik dunia pada pertengahan abad keduapuluh dipengaruhi adanya dua metodologi berbeda, tradisi posmoderenisme yang selalu mengkritisi setiap teori tradisi positivisme dalam pengkonsepan teori Hubungan Internasional. Sehingga banyak menghasilkan deskontruksi dan menghasilkan banyak pengetahuan baru. Tetapi hal ini tidak sertamerta berdampak positif bagi tatanan Hubungan Internasional, dikarenakan kritik yang dilancarkan oleh posmoderenisme terhadap teori tradisi positivisme belum tentu menghasilkan teori yang lebih matang.

Pada akhirnya posmodernisme yang muncul untuk menentang teori-teori positivisme tidak dapat dikatakan lebih unggul, begitu juga sebaliknya. Sikap kritisisme yang ditunjukkan posmoderenisme terhadap teori positivisme dapat dikatakan hanya sekedar demi kekritisan jika tidak ada perbaikan teori darinya. Dalam permasalahan ini penulis dapat mengembalikan pada prespektif masing-masing tradisi, pasalnya secara langsung maupun tak langsung mereka telah banyak memberi sumbangan ilmu pengetahuan di dalam penulis mempelajari Hubungan Internasional. Dengan munculnya perdebatan-perdebatan semacam ini dalam HI bukan lantas mengikis kajian ilmu HI, melainka semakin memperkaya muatan keilmuan yang ada. Dan penulis yang masih baru sebagai penstudi HI diharapkan tidak langsung puas dengan teori-teori yang telah dihasilkan oleh tradisi HI sebelumnya, melainkan terus menambah khasanah keilmuan HI agar menjadi bidang keilmuan yang memiliki cangkupan keilmuan yang luas kususnya dalam dunia internasional.

 

 

Referensi :

Jackson, R., & Georg Sorensen, 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar [Chapter 2] [Chapter 7]

Smith, S (1997). ‘New Approaches to International Theory’, dalam Jackson, R., & Georg Sorensen, 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 305

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :