WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

GREAT DEBATES (INDIVIDU)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 28 November 2012
di PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL GANJIL 2012/2013 - 0 komentar

THE GREAT DEBATES, REALISME MELAWAN LIBERALISME

 Ilmu Hubungan Internasional terus mengalami perbaikan dan penyempurnaan di setiap lini (Dugis, 2012). Memang, tidak ada gading yang tidak retak. Ilmu Hubungan Internasional pun mengalamai hal yang serupa. Diperlukan proses yang panjang dan rumit, agar sebuah ilmu dapat mencapai sebuah tahap dimana keberadaan ilmu tersebut dapat diakui oleh khalayak global. Ilmu Hubungan Internasional terus mengalami perkembangan, dan hal ini tercermin dengan keberadaan Great Debates. Great Debates adalah saksi perkembangan yang dialami Ilmu Hubungan Internasional. Sebuah debat yang akan mengawal perjalanan Ilmu Hubungan Internasional menuju arah yang baru.

Namun, perlu diketahui pengertian Great Debates dan latar belakang kemunculannya. Great Debates adalah sebuah perdebatan besar yang terjadi antar para pakar Hubungan Internasional. Debat ini berlangsung dikarenakan adanya keinginan para pakar tersebut untuk mencoba mencari pemikiran (yang akan penulis sebut sebagai teori) mana yang paling mampu untuk menjelaskan segala peristiwa global yang terjadi pada masa tersebut. Apakah itu perang, pengambilan keputusan strategis atau kerjasama antar negara, para pakar merasa perlu untuk memelajari dan menjelaskan peristiwa-peristiwa tersebut. Bahkan, di tingkat yang lebih lanjut, jika peristiwa-peristiwa ini berubah menjadi masalah, para pakar mengharapkan dapat menemukan solusi yang mampu menyelesaikan masalah tersebut kelak.

Latar belakang kemunculan Great Debates adalah mulai bermunculannya teori-teori baru. Teori-teori inilah yang merangsang pertumbuhan ruang lingkup studi Hubungan Internasional. Jika pada masa-masa sebelumnya studi Hubungan Internasional hanya berkutat pada lingkup politik saja, maka setelah kemunculan teori-teori baru ini ruang lingkupnya akan meluas. Contoh adalah Hak Asasi Manusia (HAM), organisasi internasional, ekonomi, budaya dan masih banyak lagi. Perang yang terjadi pada masa tersebut juga memicu sudut pandang Hubungan Internasional melihat segala dinamika yang terjadi dalam sebuah cara pandang yang inovatif. Kemunculan negara-negara baru yang berdaulat juga menjadi salah satu faktor kemunculan Great Debates. Lalu, sumbangan pemikiran dari disiplin ilmu sejarah, filsafat, hukum dan ekonomi pada masa tersebut juga memicu keberadaan Great Debates, selain juga pada akhirnya akan membantu transformasi Ilmu Hubungan Internasional menjadi disiplin ilmu yang lebih bersifat multidisipliner dan bahkan juga interdisipliner (Roadmap 2005-2020).  

Tahapan awal Great Debates adalah debat yang terjadi antara teori Liberal dan Realis. Teori Liberal memiliki pengertian sebagai sebuah ideologi yang berpusat pada kebebasan masing-masing individu. Untuk kebanyakan penganut liberalisme, perkembangan negara sangat dibutuhkan untuk melindungi kebebasan individu dari perusakan yang dilakukan oleh individu lain dari negara lain. Tetapi negara harus selalu melayani keinginan bersama dan bukannya menjadi ‘master’. Salah seorang teoritikus kontemporer, Stanley Hoffman, pernah menulis, “International affairs have been the nemesis of liberalism. The essence of liberalism is self-restraint, moderation, compromise, and peace whereas the essence of international politics is exactly the opposite: troubled peace, at best, or the state of war” (Hoffman 1987: 396).

Pada tahun 1917, teori Liberalis menjadi teori yang mendominasi proses berjalannya politik internasional. Bahkan seorang Woodrow Wilson, Presiden Amerika Serikat pada jaman tersebut, mampu membawa nilai-nilai demokrasi liberal ke daratan Eropa. Hal ini menandai kelahiran Liga Bngsa-Bangsa (LBB) pada tahun 1919. LBB memiliki misi untuk menjaga perdamaian dan mencegah terjadinya perang terulang kembali. Namun, LBB gagal menjaga kedamaian dan lebih parahnya lagi, perang kembali terulang. Maka, teori Liberal dianggap gagal dan muncul teori baru yang dianggap lebih mampu menjelaskan fenomena perang tersebut. Teori ini adalah teori Realis.

Teori Realis adalah teori yang mengedepankan realita-realita yang terjadi di sekitar, lalu realita-realita tersebut dikaji dan dipelajari lebih dalam lagi. Teori Realis melihat bahwa keseluruhan umat manusia pada dasarnya adalah jahat. Hal ini diakibatkan bahwa manusia harus mampu bertahan hidup dalam kancah kehidupan global. Jika tidak mampu bersaing, maka akan berakibat pada tergusurnya peranan sebuah kelompok, dominasi total sebuah kelompok kepada kelompok lain, dan yang paling parah, hilangnya keberadaan kelompok akibat ketidak-mampuan kelompok dalam mempertahankan Teori Realis dianggap mampu menjelaskan segala peristiwa dan fenomena yang terjadi pada masa tersebut. Hal ini diakibatkan karena adanya kemampuan menganalisa lebih baik dari teori Liberalisme. Bahkan, teori Realis mampu dengan baik menjelaskan fenomena perang yang terjadi pada masa-masa tersebut.

Teori Realis memiliki empat dasar pemikiran. Pemikiran pertama adalah teori mengenai pandangan pesimistis terhadap keberlangsungan hidup manusia. Pemikiran kedua melihat bahwa pola hubungan internasional pada jaman tersebut sangat berbau konflik, baik itu konflik yang bersifat regional atau bahkan global (internasional). Pemikiran ketiga berisikan mengenai penghormatan tertinggi terhadap nila-nilai keamanan nasional dan kemampuan bertahan negara. Negara dianggap memainkan peranan yang sangat signifikan dalam pola hubungan internasional pada saat tersebut, sehingga mereka menempatkan negara dalam posisi yang sangat tinggi. Dasar pemikiran terakhir adalah adanya pola skeptisisme. Skeptisisme adalah cara menyetujui sebuah hal dimana dibutuhkan bukti yang sah, konkrit dan mampu dipertanggungjawabakan. Jika tidak ada bukti, maka tidak akan diakui.

Teori Realis juga dibangun melalui tiga fokus utama. Fokus pertama adalah statisme. Fokus ini melihat negara sebagai aktor yang memiliki peranan paling dominan, sehingga negara diposisikan dalam posisi yang sangat tinggi. Fokus kedua adalah survival. Fokus ini mengharuskan negara agar mampu memiliki rasa mempertahankan keberlangsungan hidup rakyatnya. Negara harus mampu melindungi rakyatnya dari segala bahaya yang mengancam, baik dari luar atau bahkan dari dalam. Fokus ketiga adalah self-help. Fokus ini memberikan gambaran bahwa negara tidak dapat mempercayakan keamanan negara mereka ke negara lain. Negara harus menolong diri mereka sendiri ketika terjadi konflik

Kedua teori ini yang menjadi dua teori utama yang mengantarkan semua pakar Hubungan Internasional ke dalam Great Debates awal. Debat ini terus berlangsung pada masa setelah Perang Dunia I, awal kemunculan dan pembubaran LBB dan Perang Dunia II. Namun terdapat poin penting pada saat pembubaran LBB. Akibat dari bubarnya LBB, teori Liberalis dianggap tidak mampu dalam hal menjelaskan fenomena yang terjadi pada masa tersebut (terlebih lagi fenomena perang). Sehingga, muncul teori Realis yang berusaha menggantikan peranan teori Liberalis.

 

Referensi :   

Departemen Hubungan Internasional, Roadmap Pengembangan Departemen Hubungan Internasional

Janus and Minerva: Essays in the Theory and Practice of International Politics, (Westview Press, 1987).

Jackson, R., & Sorensen, G. (1999) Introduction to International Relations, Oxford University Press

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :